1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

About

Keputusan untuk pulang ke tanah air pada tahun 2002 yang lalu (setelah saya menetap belasan tahun di Jepang, negeri yang kaya dengan informasi, gegap-gempita dengan perkembangan teknologi, dan sekaligus pula pilar penting perekonomian dunia itu) tentu bukan merupakan keputusan yang ringan. Tidak ringannya pengambilan keputusan ini bukan karena saya telah terbenam dalam keasyikan pribadi, atau karena saya berpuas diri, dan atau pula karena saya telah melupakan tanggung jawab terhadap nasib bangsa di Bumi Nusantara ini.

Dalam hal tanggung jawab, pikir saya, jika saya berhasil menjadi ilmuwan berpengaruh (sesuatu yang telah saya niatkan sejak lama) dan saya berhasil menancapkan panji-panji kebesaran nama saya di Jepang, bukankah ini berarti juga bahwa saya mengharumkan nama Indonesia. Lalu, dalam tanggung jawab lebih lanjut, jika saja saya bernasib mujur dan diangkat sebagai penasehat atau menduduki posisi lain di Bank Pembangunan Asia yang dimotori Jepang itu, misalnya, dan lalu saya mengucurkan dana bantuan dari bank itu untuk Indonesia dengan cara yang baik dan dana itu berguna bagi kemaslahatan negeri ini, maka bukankah ini pun dapat diartikan sebagai wujud pengabdian dan tanggung jawab pula, demikian saya berkata lebih lanjut dalam hati.

Keyakinan dan keteguhan terhadap pilihan jalan hidup di atas semakin menguat ketika disertasi saya yang menyanggah dan merontokkan Flying Geese Model (model pembangunan ekonomi Asia ciptaan Profesor Kaname Akamatsu yang dielu-elukan Bank Dunia itu) mendapat semacam approval saat ekonomi Asia luluh-lantak oleh Krisis Moneter. Semu dan tidak sehatnya perekonomian Asia yang menjadi salah satu tesis utama dalam desertasi itu (yang sekaligus membuat saya dinilai berpikir kurang waras oleh para pendukung paham keajaiban ekonomi Asia yang berseberangan pemikiran dengan saya) mendapatkan semacam justifikasi dan bukti kesahihannya.

Rasa puas dan juga optimisme terhadap hasil kerja di bidang keilmuan di atas semakin menggila ketika disertasi di atas disarikan dan diterbitkan oleh penerbit ternama di Jepang. Salah satu copy disertasi lengkap (dalam bahasa Jepang) yang tersimpan di perpustakaan dan museum nasional Jepang di Ueno, di jantung kota Tokyo itu, pastilah akan banyak dibaca oleh kalangan Jepang, pikir saya. Lalu, biarlah mereka tahu dan mencatat dalam sejarah keilmuan mereka bahwa teori ciptaan Profesor besar mereka itu rontok oleh “dai-san sekai no nin-geng”, alias manusia dari Dunia Ketiga, yaitu sebutan yang (disadari atau tidak) mengandung konotasi penghinaan.

Kepuasan dan optimisme di atas semakin bertambah lagi ketika Kojima Kiyoshi (Profesor Jepang yang buku-bukunya dijadikan bacaan wajib para mahasiswa fakultas ekonomi, termasuk di Perguruan Tinggi di Indonesia sampai sekitar tahun 1980-an itu) bereaksi terhadap publikasi di atas. Kojima yang merupakan murid langsung Profesor Akamatsu itu menyanggah teori-teori dan jalan pikiran saya dalam publikasi tadi melalui dua tulisan dalam jurnal ilmiah yang terbit di Jepang. Wow … saya merasa seperti mendapat kehormatan dan sekaligus peluang mematrikan nama saya dalam dunia keilmuan Jepang jika saya berpolemik dengan Profesor ini, pikir saya.

Jujur saya katakan, peluang kecil di atas saya rasakan sebagai seberkas cahaya yang benderang. Berbagai khayal dan mimpi pun bermunculan di kepala saya. Jika selama ini saya selalu memberikan semangat pada diri dan pada kawan-kawan dengan kata “Jadilah sesuatu; jangan hanya datang dan berlalu (maksudnya lahir dan mati, red) tanpa seorang pun yang tahu”, maka mungkin inilah saatnya saya untuk mulai menjadi “sesuatu” itu, pikir saya. Masa depan, sebagaimana saya percayai, adalah sesuatu yang harus dirancang, direbut dan diberi warna, dan bukan sesuatu yang harus ditunggu serta dibiarkan warnanya tercipta oleh peruntungan nasib.

Saya mulai melakukan persiapan-persiapan untuk menabuh genderang perang. Berbaga piranti untuk pertarungan ilmiah mulai ditengok, diasah lagi dan semakin dibenahi. Dalam ancang-ancang ini, Profesor Ilmu Hubungan Internasional yang merupakan promotor utama penulisan disertasi saya di Universitas Tsukuba (tempat saya mengambil S-2 dan S-3) dan promotor pendamping yang kini menjadi Profesor Ilmu Ekonomi di Universitas Nagoya memberikan semangat dan dukungan penuh. “Angkat dan patrikanlah nama kamu dan nama Perguruan Tinggi kamu dalam dunia keilmuan Jepang melalui polemik di jurnal ilmiah dengan Profesor Kojima”, kata mereka. Sejumlah asisten untuk partner diskusi dan bahkan editor serta pencari data di perpustakaan pun akan segera dihubungi.

Saya betul-betul menjadi bersemangat, penuh gairah, nafsu, obsesi, dan bahkan juga ambisi untuk melakukan hal yang memang sah dan halal untuk saya lakukan. Tentu saya masih sempat “nyebut” (syahadat) berdoa dan bahkan berdzkir agar Alllah memberkati dan agar saya tidak lupa diri, stroke dan mati. Saya masih ingat sampai hari ini ketika kawan-kawan Jepang saya memberi semangat dalam ungkapan Jepang yang khas: banzai, Ihza-san, eraku naru zo ..! (selamat, tuan Ihza, Anda akan menjadi terkenal).

Keasyikan menekuni bidang keilmuan, apa lagi setelah peluang seperti yang baru disebutkan di atas muncul, membuat saya tidak bergeming ketika saudara saya diangkat menjadi Menteri Kehakiman dalam Kabinet Abdurrahman Wahid dan menyarankan saya pulang. Biarlah saya menjadi dosen, peneliti dan sekaligus pula menyambi sebagai wartawan di Jepang, pikir saya. Lagi pula bukankah yang menjadi Menteri itu adalah saudara saya dan bukan saya.

Pulang ke Indonesia, renung saya lagi, bukan saja akan membelokkan jalan hidup yang telah saya patrikan. Melainkan, salah-salah, orang akan mengatakan saya nebeng nge-top dan syukur-syukur jika tidak ditempeli lebel KKN, lebel atau stempel buruk yang begitu mudahnya digunakan untuk merusak nama baik seseorang di negeri ini. Ini belum lagi fitnah, rekayasa, tekanan dan intimidasi lawan-lawan politik jika saya menjadi politisi. Saya juga sempat teringat terhadap ungkapan bahwa “di tempat yang sama, tidak boleh ada dua matahari”. Akan tetapi yang membuat saya lebih bersikukuh tidak pulang adalah ungkapan yang mengatakan bahwa dua bersaudara ada baiknya tidak berada di pentas yang sama. Sebab, jika pentas itu runtuh maka dua-duanya mungkin tewas binasa dan ini akan menjadi senandung ratapan sedih orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan..

Akan tetapi, bagaikan ungkapan bahwa manusia boleh berencana tetapi Tuhan yang menentukan, semua rencana dan jalan hidup yang telah terpatrikan di atas ternyata memang harus berubah. Hal ini terjadi ketika “Sang Guru” yang banyak mengajar saya tentang ilmu dalam kehidupan ilmiah di lingkungan Universitas Indonesia (tempat saya kuliah S-1 dan S-2) dan juga ilmu tentang kehidupan sebagai seorang manusia, tiba-tiba diangkat menjadi Menko Perekonomian dalam Kabinet Megawati, sepulangnya beliau sebagai Duta Besar di Amerika dan “Sang Guru” meminta saya pulang.

Panggilan di atas amat mengejutkan karena saat menilpon dari Washington (sekitar seminggu sebelumnya) ke kediaman saya di Jepang untuk pamit atau untuk memberitahu bahwa beliau akan pulang, beliau sama sekali tidak bercerita apa-apa tentang hal tadi. Akan tetapi bahwa panggilan pulang itu serius, ini adalah sebuah kenyataan. Sebab, beliau sempat mengatakan secara rinci bahwa karena saat di Universitas Indonesia saya kuliah S-1 di jurusan Hubungan Internasional dan S-2 di bidang Ilmu Politik, beliau meminta saya masuk ke Departemen Luar Negeri. Tapi, kata beliau lebih lanjut, karena S-3 saya adalah bidang Politik Ekonomi Internasional, saya pun dapat memilih alternatif untuk masuk ke Departemen Perindustrian dan Perdagangan.

Saya sempat tertegun memikir perihal di atas. Persoalan utama bagi saya bukanlah melilih diantara dua alternatif itu, tetapi memilih antara pulang ataukah tidak. Dalam memikirkan hal ini, saya teringat dengan tawaran-demi tawaran yang pernah datang sebelumnya. Menneg/Kepala Bappenas di era Presiden Suharto pernah memanggil saya dan menjajaki kemungkinan bagi saya mengabdi di lembaga itu. Saya akan diposisikan menjadi Asmen (Asisten Menteri). Menteri Bappenas juga (kali ini pada Era Presiden Abdurrahman Wahid) pernah pula memanggil saya ke ruangnya di kantor di depan Taman Suropati itu untuk kemungkinan saya berkarya di tempat itu. Lalu, Menteri Luar Negeri (juga pada masa Presiden Abdurrahman Wahid) pernah pula memanggil saya ke ruangnya di kantor yang terletak di Jalan Pejambon itu dengan niat agar saya membantu Departemen itu. Walau pun, oleh karena beberapa sebab (baik pribadi atau pun karena situasi, seperti lengsernya Presiden Suharto dan bubarnya Kabinet Adurrahman Wahid di tengah jalan), ujung-ujungnya saya tetap saja tidak pulang.

Orang sering mengatakan bahwa kesempatan emas tidak akan datang dua kali dalam hidup. Akan tetapi dalam pengalaman pribadi saya, kesempatan itu justru datang berulang-ulang. Mungkin ini memang keajaiban. Akan tetapi karena saya percaya bahwa keajaiban itu tak mungkin akan terus berulang dan abadi selamanya, maka saya merasa bahwa saya harus betul-betul serius mengambil sikap terhadap fenomena itu. Mungkin saja keberulangan ini isyarat ilahiah yang harus saya perhatikan dengan sungguh-sungguh, pikir saya.

Sambil berpikir tentang hal di atas dan dengan ditambah lagi pertimbangan bahwa “Sang Guru” yang memanggil saya itu adalah guru sejati yang saya hormati, maka saya semakin mendekati keputusan untuk pulang. Saya teringat kata-kata beliau di masa lalu saat saya hampir memasuki usia 30 tahun, bahwa beliau dan juga satu lagi “Sang Guru” yang merupakan Profesor Hubungan Internasional di Universitas Indonesia (yang kemudian juga menjadi Menteri) dan kala itu ikut andil dalam membentuk saya, mensponsori saya mendapatkan beasiswa ke Jepang bukanlah untuk bermain-main. “Kamu akan kami bentuk agar menjadi aset negeri ini”, demikian kata beliau menjelang saya berangkat ke Tokyo, dan kamu akan menjadi aset yang langka karena orang yang mengerti serta memiliki link ke Jepang di negeri ini amat minim jumlahnya, lanjut beliau.

Dengan setengah bercanda pada diri bahwa “aset langka” di atas tadi tidak boleh menjadi barang antik atau besi tua dan rongsokan di Jepang, maka saya pun akhirnya memutuskan untuk pulang. Dengan pertimbangan bahwa saya memiliki link yang lumayan ke dunia industri dan juga dunia politik di Jepang (terutama karena kenalan-kenalan berkat kerja saya menyambi sebagai wartawan), dan juga pertimbangan bahwa jika industri berhasil dibangun maka rakyat yang menganggur akan memperoleh pekerjaan secara lebih mudah, maka saya memilih alternatif kedua dari tawaran tadi.

Walhasil, maka saya pun menjadi Penasehat Khusus Menteri Perindustian dan Perdagangan, suatu tugas yang saya jalankan dengan ikhlas, walau pun gaji saya hampir-hampir tidak cukup untuk sekedar membayar bensin dan uang tol dari tempat tinggal saya waktu itu (Bukit Sentul) ke Jalan Gatot Subroto, tempat saya bekerja. Dan juga, walaupun gaji itu mungkin hanya sekitar seperduapuluh dari total penghasilan saya saat masih di Jepang.

Mungkin karena Tuhan mempunyai rencana lain (dan yang jelas bukan karena gaji kecil), kehadiran saya di Departemen di atas ternyata tidak berlangsung lama. Saya akhirnya mengundurkan diri dari jabatan itu setelah setahun kemudian. Saya kemudian berupaya membenahi secara lebih serius lagi Firma Hukum yang dibangun bersama saudara saya saat dia telah copot jabatannya sebagai Menteri, yang tetapi kemudian ternyata naik dan naik lagi sebagai Menteri kembali. Secara kebetulan, salah satu dari pendidikan S-2 saya memang di bidang ilmu hukum.

Dalam hal tugas di Firma Hukum, saya lumayan menyukainya. Saya pernah mempekerjakan 40 orang karyawan, yang jika dipukul rata masing-masing mempunyai empat anggota keluarga maka berarti saya memberi kesempatan kepada lebih dari seratus nyawa untuk menggangtungkan hidupnya di kantor itu. Ini tentu merupakan sumbangan juga (yang kecil tapi real) dalam penyediaan lapangan pekerjaan buat negeri yang masih sulit ini, pikir saya.

Firma Hukum di atas lumayan berkibar pada masa jayanya. Klien-klien Jepang merupakan salah satu inti dan kekuatan, dan ini pun pasti merupakan berkah dan link saya dari dan ke negeri itu. Akan tetapi, nasib dan jalan hidup mungkin memang tidak begitu manis dan seindah yang dimaui. Firma Hukum itu menjadi “sasaran tembak” dari lawan-lawan, baik lawan politik maupun lawan sesama pengacara. Isu bahwa Firma Hukum yang didirikan saat saudara saya dicopot sebagai Menteri itu adalah sama dengan nama dia sebagai seorang Menteri (saat naik sebagai Menteri kembali) menjadi entry point bagi serangan itu.

Kami akhirnya mengganti nama kantor itu manjadi lebih singkat, yaitu IHZA & IHZA. Tapi serangan di atas tadi tetap tidak pernah berhenti, batapa pun di masa lalu dan juga di masa sekarang terdapat amat banyak pejabat publik yang juga memiliki Firma Hukum dan bahkan juga bisnis-bisnis di bidang industri yang lebih besar dan juga dengan menggunakan namanya pada badan usahanya itu. Dalam serangan terhadap kami, tentu perlu dicatat tentang adanya sebagian media massa yang dengan sadar atau tidak telah “dipakai” sebagai alat.

Ketidakbetahan saya terhadap iklim kehidupan di Indonesia yang (maaf) saya rasakan kurang sehat, di samping mungkin juga kesulitan saya menyesuaikan diri kembali terhadap “kultur” negeri yang telah lama saya tinggalkan ini, mendorong saya berpikir untuk kembali ke Jepang. Bukankah rumah saya masih ada disana, pikir saya, bukankah mobil saya masih ada di lapangan parkir di negeri itu, ingat saya. Lalu, bukankah bantal, kasur, piring serta sebagaian pakaian saya masih ada dalam lemari di rumah itu. Saya siap kembali ke Jepang dan menjadi ilmuwan kembali, apa lagi status saya di Perguruan Tinggi adalah seperti cuti di luar tanggungan.

Akan tetapi, kali ini Tuhan (lagi-lagi) seperti melakukan intervensi terhadap langkah dan niat saya. Anggota Partai Bulan Bintang yang sebelumnya menjadi anggota DPR dari daerah pemilihan Bangka Belitung telah mundur dan menang dalam pemilihan menjadi Bupati. Konon, jika salah-salah memilih pengganti bagi pemilu legislatif yang saat itu sudah di depan mata, Bulan Bintang mungkin keok di Bangka Belitung yang merupakan “kandangnya” sendiri. Untuk mencegah aib, saya pun harus terjun sebagai pengganti. Maka, kartu keanggotaan partai pun diurus secara dadakan dan saya harus bertarung dalam pemilu di kampung halaman yang telah seperempat abad saya tinggalkan.

Saya memimpin pertarungan dalam pemilu di kampung halaman ini dengan gilang-gemilang. Untuk DPRD tingkat I dan II, partai kami sanggup merebut banyak kursi dan mensejajarkan diri dengan dua partai terbesar di Republik ini dalam jumlah perolehan kursi yang tepat sama besarnya. Untuk posisi anggota di DPR RI yang mengantar saya ke Senayan, saya mengantongi sekitar 36% suara.

Bahwa panji-panji Bulan Bintang ternyata kurang begitu berkibar di daerah-daerah pemilihan lain di luar Bangka Belitung, ini bukan hal yang tidak pernah saya bayangkan. Akan tetapi, akan halnya secara nasional perolehan suara itu menurun dan membuat kami kehilangan treshold, tentu saja hal ini merupakan kenyataan yang mengejutkan.

Apakah “intervensi Tuhan” yang mencegah langkah saya pulang kembali ke Jepang di atas adalah dengan tujuan agar saya terpenjara di dalam sebuah partai kecil? Atau, apakah Tuhan mempunyai maksud yang lain? Wallahu alam bissyawaf. Semua ini tentu merupakan misteri yang jawabannya ada di lauhulmahfudz.

Suatu hal yang saya ketahui secara jelas adalah saya terpilih menjadi anggota parlemen. Dan, demi amanah serta rasa syukur, saya dan kawan-kawan akan berjuang gigih dan membuktikan walaupun kecil dalam perolehan kursi, tapi kami akan menjadi kekuatan yang diperhitungkan atau setidaknya ikut memberi warna terhadap kehidupan politik di negeri ini.

Dalam perjalanan karir politik di atas, walhasil, saya mendapat posisi sebagai Wakil Ketua Komisi I DPR RI dan membidangi masalah pertahanan negeri ini. Perjalanan hidup di atas, singkat kata, telah merubah saya dari seorang yang semula bermimpi jadi ilmuwan tapi “terbelok” menjadi politisi, suatu hal yang tidak pernah saya niatkan pada saat masih jauh-jauh hari.

Sebagai politisi dan sebagai wakil rakyat di parlemen, saya tentu tidak boleh bisu. Saya harus berkiprah dan juga berkomunikasi. Dalam kedudukan sebagai politisi ini, maka saya buka blog ini dengan harapan akan menjadi arena komunikasi, tukar pendapat dan diskusi tentang berbagai aspek kehidupan, termasuk tentang apa yang saya pikirkan mengenai negeri dan bangsa ini. Suatu hal yang tak kalah penting adalah bahwa blog ini juga diharapkan akan menjadi sarana dan pengikat tali silaturrahmi, baik terhadap orang-orang yang sepaham atau pun orang-orang yang berbeda pendapat dengan saya tetapi bersatu hati, atau minimal saling menghormati.

Akirnya, kepada Allah juga saya berserah diri.