Problema Kebangsaan (3): Gejala Kejiwaan “Socio-sadomasochisme”
Posted by Yusron Ihza on April 18th, 2008 filed in Culture, Politics, Social, Thought416 views
Sebagai sebuah bangsa, sebagian besar dari kita boleh jadi mengidap “kelainan jiwa” (sekedar untuk tidak mengatakan “sakit jiwa”) yang parah yang memberi andil besar bagi semakin terpuruknya bangsa ke dalam jurang kenistaan. Saya ingin menyebut penyakit itu dengan istilah “socio-sadomasochism” atau “sado-masochisme yang bersifat sosial" serta menjadi sebuah fenomena dalam kehidupan masyarakat.
Menurut asal-muasalnya, sado-masochisme ini adalah penyakit yang bersifat perorangan. Akan tetapi karena saya melihat bahwa di Indonesia gejala kejiwaan jenis ini terdapat dalam masyarakat, maka kata “socio” atau “sosial” tadi saya tambahkan.
Sebetulnya kata “sado” dan “maso-chisme” dapat digunakan secara terpisah. Penggunaan dua kata itu secara bersama, tampaknya untuk memberi penguatan atau penekanan tentang adanya pemeran pelaku kesadisan dan adanya pemeran atau penerima kesadisan itu.
Dari segi etimologi (asal-usul kata), kata yang disebut pertama (sado) diambil dari nama Marquis de Sade (tahun 1760-an) yang menulis novel tentang kekejian, di mana pada masa setelah itu, kekejian disebut sebagai “sadist” alias sadis. Sementara itu, kata yang disebut kedua (masochisme) diambil dari nama Leopold von Sacher-Masoch (tahun 1860-an) yang menulis novel tentang orang yang merasa nikmat dengan cara menyakiti diri. Sadomasochisme, denganbegitu, dapat dikatakan sebagai tindakan-tindakan sadis yang menyakiti diri, di mana “sang diri” merasa nikmat dengan mengalami kesadisan itu.
Sebelum menguraikan tentang bagaimana gejala di atas terjadi dalam masyarakat Indonesia, saya merasa perlu menjelaskan lebih lanjut tentang wujud atau bentuk gejala itu dalam konteks aslinya (saat gejala itu terjadi pada orang secara per orangan). Untuk membuat hal ini jelas, tampaknya harus dikemukakan di sini bahwa dalam wujud aslinya, gejala itu muncul dalam bentuk kelainan seksual.
Wujud kelainan seksual di atas bervariasi. Akan tetapi, yang paling populer adalah yang sering disebut sebagai BDSM (Bondage, Discipline, Dominance and Submission), yaitu sebuah role-play dalam hubungan seksual yang intinya adalah mengenai hubungan antara budak dengan tuannya atau antara sang penakluk dan yang ditaklukan. Sadomasochisme (tindakan-tindakan sadis yang memberi kenikmatan) biasanya menjadi warna utama dalam hubungan budak dengan tuannya atau hubungan antara penakluk dan yang ditaklukkan tadi.
Menurut beberapa referensi, dalam perilaku sekeksual di atas, seseorang amat lazim untuk menyakiti dirinya (baik sendiri atau pun melalui bantuan pasangan atau para pasangannya) dengan berbagai cara. Cara yang lazim dilakukan adalah mengikat leher dengan dasi atau tali dan meminta agar tali atau dasi itu ditarik pasangan atau para pasangannya sehingga dirinya (yang dalam keadaan merangsang, bugil atau setengah bugil) berlajan merangkak seperti seekor anjing yang dituntun tuannya.
Hal di atas biasa pula dikombinasikan dengan cara meminta agar dirinya diciumi sepatu busuk, ditetesi dengan lilin panas, dicambuki dengan cemeti, dirantai, dan bahkan juga dipukuli.
Pengenaan pakaian-pakaian atau dandanan-dandanan “aneh”, sebagai misal berpakaian atau berdandan agar mirip monster, merupakan hal yang lazim pula terjadi. Dengan penampilan seperti monster ini, pihak yang ditaklukkan atau pihak yang menduduki peranan sebagai budak mungkin dapat berfantasi bahwa dirinya (maaf) “digituin” oleh monster.
Dengan perlakuan atau pola hubungan seperti yang digambarkan di atas, yang bersangkutan, konon, mendapatkan suatu kenikmatan dan fantasi seksual yang luar biasa …
Beberapa definisi tentang sadomasochisme, sebagai misal, yang mengatakannya sebagai “the condition in which sexual gratification depends on suffering, physical pain, and humiliation” atau “gratification gained from pain, deprivation, degradation, etc., inflicted or imposed on, either as a result of one's own actions or the actions of others, especially the tendency to oneself seek this form of gratification” atau “the act of turning one's destructive tendencies inward or upon oneself”, atau “the tendency to find pleasure in self-denial, submissiveness, etc”, tampaknya memang mengisyaratkan hal-hal seperti yang disebut di atas dengan jelas.
Bagi kebanyakan orang, perilaku sadomasochisme di atas mungkin akan dinilai sebagai tindakan yang menjijikkan dan mungkin pula sekaligus sebagai percabulan seksual atau minimal sebagai hal yang aneh dan salah. Sigmund Freud (1905), dalam tulisannya yang berjudul “Drei Abhandlungen zur Sexualtheorie (Tiga Kertas Kerja Tentang Teori Seks), minimal, menyebut sadomasochisme sebagai “diseases developing from an incorrect development of the child psyche”.
Akan tetapi seperti yang disinggung di awal tulisan ini, tanpa disadari, jangan-jangan tidak sedikit di antara kita yang mengidap penyakit sadomasochisme dan juga melakukan percabulan serupa, walau pun dalam wujud yang berbeda. Kita, misalnya, mencerca dan mencaci maki atau melecehkan diri (bangsa kita sendiri) lalu kita tertawa (merasa senang dan nikmat) atas caci-maki, cercaan atau pelecehan yang kita buat dan tujukan terhadap diri sendiri itu.
Dalam sebuah pertemuan yang cukup terhormat belum lama ini, misalnya, saya mendengar joke atau dagelan sadomaso-chisme sebagai berikut:
Alkisah, suatu hari seorang politisi Malaysia berkata kepada politisi Indonesia bahwa Singapura itu aneh. Pasalnya karena negeri itu memiliki Menteri Kehutanan, padahal mereka tidak memiliki hutan. Tapi, lanjut cerita itu, Indonesia lebih aneh lagi. Sebabnya, Indonesia memiliki Menteri Keuangan, padahal negeri itu tidak memiliki uang.
Di masa lalu, ada lagi dagelan sadomasochisme yang menertawakan pesawat terbang buatan IPTN atau PT DI. Dikatakan, pesawat buatan Pak Habibie itu dijamin mantap dalam hal take-off, tapi tidak dijamin dalam hal landing. Saat pesawat ini dibarter dengan ketan dengan salah satu negara, berita ini pun menjadi berita gembira bagi banyak orang. Kemudian banyak pula orang yang tiba-tiba saja menjadi seperti volunteer yang dengan giatnya mengulangi kisah itu dan menyampaikannya dari mulut ke mulut penuh suka cita untuk mengundang orang tertawa.
Dagelan-dagelan lain berupa teka-teki, misalnya, yang menanyakan tentang asbak terbesar di dunia ada di mana dan dijawab “ada di Indonesia” (karena di Indonesia orang bebas membuang puntung rokok dimana-mana), tentu merupakan salah satu contoh pula.
Bagi sementara orang, dagelan-dagelan sadomasochisme seperti di atas mungkin akan dianggap sebagai hal yang biasa dan tidak dianggap sebagai penyakit dan apa lagi persoalan yang serius. Jika demikian adanya, “socio-sadomasochisme” mungkin mirip dengan HIV, di mana seseorang yang mengidap HIV cenderung tidak menyadari bahwa dirinya telah mengidap penyakit itu. Pengidap baru sadar akan hal ini setelah HIV tersebut masuk ke staduim lanjut yang dikenal dengan istilah AIDS.
Guna memberi gambaran bahwa “sosio-sadomahichisme” telah cukup akut dalam masyarakat kita dan dengan harapan agar masyarakat sadar serta melakukan “pengobatan” sesegera mungkin, berikut ini saya ingin mengajak untuk melihat pemberitaan-pemberitaan di berbagai media massa kita.
Oleh karena masalah “socio-sadomasohisme” tidak pernah muncul di media massa (dan saya meyakini bahwa tulisan di blog ini adalah yang pertama mengangkat isu itu), maka yang ingin dilihat itu tentu bukan berita tentang hal itu. Melainkan, tentang bagaimana para pembuat berita mengidap “socio-sadomasochisme” dan menular-kannya kepada masyarakat luas.
Dalam hal para “pembuat berita” sering kali bukan membuat berita, melainkan “mengarang cerita”, ini mungkin merupakan hal yang amat lazim terjadi. Hanya saja, hal ini tidak disadari oleh masyarakat yang menjadi konsumen berita tersebut.
Sekitar empat bulan yang lalu, misalnya, saya menonton siaran berita di TV nasional kita yang memberitakan tentang para camat di salah satu Kabupaten di Madura yang mendapat mobil dinas Toyota Kijang baru. Sang pembuat berita atau tepatnya “sang pengarang cerita” ingin mengatakan kepada masyarakat bahwa pembagian Toyota Kijang baru itu sebagai kebijakan bermewah-mewah di tengah masyarakat yang sedang susah dan karenanya harus dibenci.
Untuk maksud di atas, pembuat berita atau “sang pengarang cerita” melakukan rekayasa dengan cara menayangkan gambar-gambar tentang sekolah-sekolah yang bocor di Kabupaten itu sehingga tampak kontras dengan Toyota kijang yang kemilau tadi. Masyarakat awam pasti cenderung termakan dengan rekayasa ini. Sumpah-serapah terhadap para camat mungkin akan berhamburan dari mulut banyak orang. Akan tetapi, saya muak karena saya sadar bahwa semua itu adalah rekayasa berita sehingga sebetulnya tidak lagi pantas disebut “berita” melainkan “cerita” belaka.
Jika kita melihat pada sistem keuangan negara, pos anggaran kendaraan untuk para camat dan pos anggaran untuk gedung sekolah jelas merupakan dua pos yang berbeda dan terpisah. Anggaran untuk para camat mungkin berasal dari Departemen Dalam Negeri, sedangkan anggaran untuk sekolah adalah dari PDK. Masing-masing anggaran itu telah diperuntukkan sejak awal oleh masing-masing Departemen dan tidak dapat dengan mudahnya dipertukarkan. Jika Bupati dan anggota DPRD di Madura tadi mengalihkan dana Toyota Kijang itu untuk membangun gedung sekolah, mereka bersiko masuk penjara secara berjamaah karena dapat dinilai menye-lewengkan penggunaan anggaran.
Akan halnya para camat mendapat Toyota Kijang baru tadi atau mengapa Departemen Dalam Negeri menyediakan anggaran itu, hal ini dikarenaka inventaris negara itu ada usia pakainya. Jika usia pakai itu habis, maka sebuah inventaris harus dihapusbukukan. Aset itu kemudian harus dilelang dan uang hasil lelang itu harus dimasukkan sebagai PNBP (Pendapatan Negara Bukan Pajak).
Salah satu kisah lagi tentang rekayasa seperti di atas terjadi saat pelantikan Anggota DPR RI tahun 2004 yang lalu. Kala itu Ketua Umum sebuah partai tiba-tiba saja protes dan melakukan penolakan atas fasilitasnya untuk nginap di Hotel Mulia sehubungan dengan pelantikan itu. Aksi ini amat menyusahkan lebih dari 400 orang anggota DPR RI yang lain (terutama yang berasal dari daerah) yang sedang nginap di hotel itu. Ketua umum partai tadi mengatakan bahwa nginap di Hotel Mulia adalah pemborosan. Lalu, yang bersangkuta menggelar aksi nginap di gedung DPR RI.
Aksi di atas mendapat pemberitaan amat luas dari kalangan media sehingga Ketua Umum partai tadi (dan juga partainya) mendapat popularitas di tengah masyarakat, sementara ratusan anggota DPR RI dari partai yang lain mendapat nista dan sumpah serapah dari masyarakat. Kepuasan masyarakat untuk menyalurkan energi marahnya mungkin tercapai. Ibaratkan dalam hubungan seksual sadomasochisme, masyarakat mungkin dapat diumpamakan sebagai berhasil mencapai orgasme atau ejakulasi. Akan tetapi, apa yang sesungguhnya terjadi, sebenarnya tak lebih dari sekedar orgasme atau ejakulasi yang dicapai dengan cara onani atau masturbasi sebagai akibat rangsangan oleh media tadi.
Apa yang sebetulnya terjadi, tindakan Ketua Umum Partai yang melakukan propaganda demi popularitas diri dan diberitakan besar-besaran oleh media tadi adalah sebuah penipuan terhadap publik. Jika dikalkulasi biaya listrik untuk menyalakan lift dan air, escalator, AC, lembur karyawan dan satpam, serta penerangan di Gedung Nusantara I DPR RI setinggi sekitar 30 lantai itu (demi agar Ketua Umum partai yang mulia tadi dapat tidur di situ) adalah sekian puluh kali lipat lebih mahal dibanding jika ia menginap di Hotel Mulia.
Rekayasa atau penipuan oleh media seperti di atas sebenarnya hampir setiap hari terjadi. Dua hari yang lalu (16 April), misalnya, KPK memanggil saya untuk meminta keterangan sehubungan penyelidikan pencairan dana PT Motorbike dari Bank Paribas. Dalam hal ini, yang diselidiki itu adalah pencairan dana itu dan saya adalah pihak yang diminta memberi keterangan. Akan tetapi, yang muncul sebagai berita di media cetak hari berikut nya adalah “Yusron Ihza Diperiksa KPK”.
Salah satu media bahkan menulis bahwa Yusron “diperiksa” sejak jam 10.00 pagi dan sampai jam 5.00 sore belum keluar dari gedung KPK di atas. Saya tentu geleng-geleng kepala karena yang benar adalah saya telah meninggalkan gedung KPK sekitar jam 11.45 dan (jika dikurangi dengan waktu menunggu) saya hanya memberi keterangan sekitar satu jam saja dengan panjang keterangan sekitar satu lembar seperempat kertas folio setelah diketik.
Saya tentu merasa “takjub” dengan judul seperti di atas. Apa lagi judul seperti itu digunakan oleh hampir semua media, termasuk oleh tiga koran besar. Kepada salah satu wartawan dari tiga koran besar itu saya berulang kali mengatakan sebelumnya agar menulis dengan benar dan tidak mengtatakan “Yusron Diperiksa KPK”, melainkan “Yusron Dimintai Keterangan Oleh KPK”. Akan tetapi permintaan dan harapan ini tidak terpenuhi dan mungkin hal ini dikarenakan redaksi sengaja memakai kata “diperiksa” agar berita itu gurih, laku dijual dan mungkin juga agar masyarakat melakukan onani dan masturbasi pemikiran kembali.
Dalam hal seperti di atas, saya tidak tahu pasti bagaimana pihak yang termakan dengan berita itu berhayal atau bereaksi. Mungkin ada yang merasa nikmat membayangkan saya dicecar KPK dari jam 10.00 pagi sampai lebih jam 5.00 sore. Dalam kaitan dengan sadomasochisme, di alam bawah sadarnya, sesorang mungkin membayangkan bahwa saya mirip dengan “budak” atau “pihak tertakluk” di depan algojo atau Monster (KPK) yang memegang cemeti. Syukur jika tidak dibayangkan bahwa leher saya dirantai dan saya berjalan merangkak seperti anjing, diciumi sepatu busuk serta ditetesi lilin panas warna merah. Wa na’u dzubillah min dzalik. Saya tentu berterima kasih kepada SCTV yang telah memuat berita di atas dengan benar dengan menyebutkan bahwa “Yusron Dimintai Keterangan oleh KPK”.
Dalam kondisi sadomasochisme yang lebih ringan, dalam masalah berita yang dipelintir di atas tadi, seseorang mungkin akan mengatakan “Yah, Yusron itu ‘kan politisi Indonesia. Mana ada politisi kita yang tidak korupsi. Kita ‘kan negara terkorup nomor dua di dunia”. Ibaratkan seseorang yang horny (ngeres) dalam adegan sadomasochisme, kata itu mungkin diucapkan dengan rasa “serrr … serrr ..” (dan syukur kalau bukan “creet … creeet ..”).
Kata di atas mungkin akan tambah gurih jika ditambah lagi dengan dagelan sadomasochisme dari koleksi lama yang mengatakan: “Dulu ‘kan Pak Harto marah ketika Majalah Time mengatakan Indonesia negara terkorup nomor dua di dunia. Pak Harto marah itu, ‘kan karena beliau maunya dibilangin bahwa Indonesia itu negara terkorup nomor satu dan bukan nomor dua dunia” …
Unsur-unsur anarkhis dan diktator dalam media tampaknya merupakan unsur-unsur yang memegang peran penting pula dalam menciptakan, menularkan, serta memperkuat gejala sadomasochisme yang ada dalam masyarakat. Segalanya cenderung dilakukan dengan sengaja dan bukan atas dasar kekhilafan.
Sekitar lima tahun yang lalu ketika saya di Canberra untuk suatu urusan, dan saya bersama Yusril Ihza Mahendra (kakak saya yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kehakiman), sebuah berita yang didasari kondisi psikologis sadomasochisme pernah pula dilakukan oleh media. Kala itu kami diundang Jaksa Agung Australia untuk jamuan makan siang yang diselenggarakan resmi di Kantor Kejaksaan Agung tersebut. Sewaktu akan memasuki gedung itu, kami diterima oleh satpam dan diminta melepas sepatu, jam tangan, ikat pinggang dan lain-lain dan diwajibkan melewati metal-detector di gerbang. Karena merasa perlakuan itu tidak layak dilakukan terhadap tamu resmi, kami protes dan meninggalkan gedung itu. Jamuan itu batal.
Pihak Kejaksaan Agung Australia panik dan mencari kami, tapi kami sudah selesai makan di salah satu restoran di kota itu. Mereka membujuk agar kami mau hadir dalam pertemuan inti yang dijadwalkan selepas jamuan makan siang tadi. Dalam pertamuan ini, pihak Kejaksaan Agung menjelaskan tentang kesalahan prosedur mereka dalam “aksiden metal-detector tadi”. Sejak itu sampai hari-hari sisa perjalanan kami, pemerintah Australia memberi perlakuan amat istimewa guna menebus rasa bersalah itu. Antara lain, setiap perjalanan kami, selalu dikawal dengan mobil polisi beserta motor yang lengkap dengan sirine.
Atas kejadian di atas, koran (kalau tak salah) The Australian Time menulis berita besar dengan judul “Kabinet Howard Meminta Maaf Terhadap Menteri Senior Indonesia”. Tapi di Jakarta, koran-koran kita menulis, “Yusril Didepak Kejaksaan Agung Australia”, “Yusril Diperiksa Petugas Kejaksaan Agung Australia” dan judul-judul lain yang sejenis. Yang lebih ajaib lagi, pada saat peristiwa terjadi, satu pun wartawan tidak ada di tempat berlangsungnya peristiwa.
Untuk meluruskan berita di atas, saya meminta Kedutaan Indonesia di Australia segera mengirimkan faksimili tentang jalannya peristiwa dan sekaligus juga copy berita di The Australian Time di atas ke hampir seluruh redaksi media di Jakarta. Akan tetapi sampai hari ini, tak satu pun media yang pernah mau meralat berita itu …
Pengalaman seperti di atas tampaknya dialami oleh banyak orang dan mungkin merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari sebagian besar para politisi atau pejabat publik. Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari misalnya juga mengeluhkan sikap media massa kita yang cenderung sadomasochisme ini. Berita yang kecil dan kurang penting, cenderung diulang-ulang, kata beliau dalam bukunya yang berjudul “Saatnya Dunia Berubah”. Tapi isu-isu penting yang akan mengharumkan nama bangsa, malah ditenggelamkan.
Maka, pada bagian penutup tulisan ini saya ingin mengajak masyarakat untuk kritis dalam menyikapi berita atau suatu masalah dalam masyarakat. Kita harus menjaga agar tidak tertular atau menjadi pengidap akut dari gejala kejiwaan yang saya sebut sebagai “socio-sadomasochisme”, yang akan lebih simpel jika disingkat menjadi SSM.
Kita harus menjadikan bangsa kita sebagai bangsa yang besar, jaya dan dihormati. Jika hampir setiap hari kita melakukan pelecehan terhadap diri sendiri (diri bangsa ini) sebagai akibat gejala kejiwaan sadomasochisme tadi, maka mana mungkin harapan ini akan terpenuhi. Sebaliknya, kita akan semakin terjerumus ke dalam jurang kenistaan yang lebih parah.
Mulailah dari diri sendiri dan mulailah menghargai bangsa sendiri (tentu dengan tanpa melupakan kritik dan bahkan caci-maki jika hal itu berasalasan dan perlu dilakukan).
Paling akhir, izinkan saya mengutip sebuah ungkapan yang mengatakan, “Jika seseorang tidak memiliki percaya diri, maka mana mungkin orang lain akan percaya terhadap dia”. Sama seperti ini, jika kita tidak menghargai bangsa ini, maka mana mungkin bangsa lain akan menghargai kita.
Print This Post
JANGAN ASAL COPY-PASTE karena BLOG JUGA ADALAH HASIL KARYA CIPTA. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemilik karya atau paling tidak menyebutkan sumber asal URL tersebut. Hitung-hitung bersilaturahmi dan memperluas perkawanan dan persaudaraan.

(2 votes, average: 4 out of 5)
April 21st, 2008 at 7:32 pm
wah tampaknya kali ini saya harus (bila diijinkan) beda pendapat dengan bpk, menurut saya ini justru menunjukkan sifat manusia yang senang “bahaya” tapi yang tidak mengenai dirinya. merasa beruntung kalo ada orang susah. my ex. dalam kasus bpk, “pasar” lebih menggandrungi berita dengan judul “Yusron Diperiksa KPK” karena, mungkin, akan lebih mudah merasa bersyukur “not me but him” karena headline ini terkesan lebih berbahaya..
CMIIW
April 21st, 2008 at 7:50 pm
ps: maaf ketinggalan dan OOT.
minggu lalu saya lihat wawancara singkat bpk di antv tentang penelitian namru..dibahas di sini dung pak :)
April 26th, 2008 at 4:03 pm
Dagelan-dagelan lain berupa teka-teki, misalnya, yang menanyakan tentang asbak terbesar ..
Ada lagi, kisah mengenai tranplantasi otak di AS. Dari tiga model “otak’ yang ada, otak indonesia dihargai paling mahal oleh pihak rumahsakit. Mengapa? Karena kilometernya pendek, alias jarang digunakan.
May 5th, 2008 at 7:21 am
Saya pernah bekerja sebagai wartawan (dengan idealisme).
Tapi editor terbiasa memelintir pernyataan narasumber yang sudah saya tulis dengan hati-hati.
Ketika saya katakan bahwa narasumber tidak pernah menyatakan ‘hal semacam itu,’ sang editor malah berkata, “Ah biarkan saja.”
Itulah kualitas editor kita. Mungkin gugatan hukum bisa membuat para editor jera.
May 7th, 2008 at 10:33 pm
Buat Rekan Irgaa:
Terima kasih atas tanggapannya. Saya mohon maaf telat membalas (termasuk juga pertanyaan rekan-rekan yang lain) karena saya baru saja pulang dari Eropa untuk beberapa urusan.
Tentang beda pendapat, tentu saja boleh. Saya menghargai perbedaan-perdedaan pendapat, sejauh perbedaan pendapat itu tetap berada di atas azas saling menghormati. Perbedaan pendapat bahkan ada kalanya membuka suatu gagasan atau wawasan yang baru.
Mengenai “not me, but him”, seperti yang Anda katakan, kemungkinan orang berpikir seperti itu pun mungkin juga memang ada. Sejauh hal itu tidak didasari semangat “senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang” atau sejauh tidak “sadomasochisme”, mungkin masih OK-OK saja.
Tentang Namru, terima kasih atas info tersebut. Saya akan melihat kemungkinan untuk menulis hal itu di blog ini.
Buat Rekan Coki:
He .. he .., iya betul. Saya juga pernah dengar dagelan itu. Terima kasih karena mengingatkan saya dan juga terima kasih lagi atas kunjungan kali ini.
Buat Rekan Junarto:
Terima kasih atas info dan komentarnya. Apa yang Anda katakan itu benar (dalam arti kata, ada kalanya memang begitu). Sebagai mantan wartawan, saya pun sering mengajak kawan-kawan wartawan untuk menulis secara lebih elegan dan mengajak mereka memperhatikan prinsip “bebas dan bertanggung jawab” serta tidak meracuni masyarakat dengan informasi-informasi yang “mis-leading”.
Dari sebagian kawan wartawan di atas, ada yang mengatakan bahwa berita-berita sering berubah menjadi “lain” setelah keluar dari meja redaksi.
Mari kita doakan agar para redaksi kita terbuka pintu hatinya untuk berbuat secara lebih jernih.
May 22nd, 2008 at 11:24 pm
Halo bro, ketemu lagi di sini. Soal ’sodomi’ memang telah jadi PR berat sejak era ‘Perjanjian Lama’ (ingat kasus Sodom & Gomora) yang membuat TUHAN marah dan kirimkan lautan api.
Tetapi, yang saya mau katakan di sini, bisa nda’ ada kajian kritis dan debat terbuka tentang fenomena penyimpangan perilaku yang menghinggap banyak elit (politik, parlemen, birokrat dan seterusnya) sehingga berpengaruh terhadap sikap serta ‘leadership’ mereka di Jakarta sekarang.
Selanjutnya, tolong bro bisa lebih kritis lagi menyorot berbagai masalah hubungan luar negeri Indonesia sekarang (khususnya dalam kaitan urusan dengan Papua, Timor, Singapura, Malaysia dan Australia). Tx bro.
May 28th, 2008 at 11:47 pm
Buat Rekan Jeffrey van Rawis:
Terima kasih atas komentarnya.
Betul juga bahwa perkara-perkara “kelainan” seperti itu memang sudah lama ada. Dalam masalah homoseksual (dan bahkan mungkin juga lesbianisme), misalnya, kita juga mencatat bahwa kejadian itu pernah mewabah di zaman Nabi Luth. Saya mohon maaf kalau kisah Sodom dan Gemora itu nantinya ternyata adalah kisah zaman Nabi Luth itu.
Tapi masalahnya sekarang adalah, pada masa silam itu kelainan itu betul-betul merupakan perilaku menyimpang dalam arti harfiah dan semata-mata hanya perilaku seksual belaka. Sekarang ini kata “belaka” tadi telah hilang sehingga kelainan tadi menyebar dan mencakup pula atau menjadi perilaku masyarakat dalam memandang atau menilai masalah. Persoalan tadi, dengan kata lain, sudah menjadi akut atau kronis.
Kalau di zaman Sodom dan Gemora saja atau juga zaman Nabi Nuh Tuhan pun sudah kirim lautan api dan lautan air (banjir besar), sekarang ini Tuhan harus kirim apa lagi? Apa lagi di zaman sekarang ini Tuhan memang tidak mengutus lagi nabi-nabi baru.
Kalau gempa dan tsunami, hal ini sudah terjadi, tapi terbukti tidak efektif dalam merubah perilaku manusia. Saya tentu tidak mungkin mengatakan bahwa Tuhan sendiri pun (jangan-jangan) sudah bingung.
Tentang analisa mengenai hubungan luar negari, Insya Allah dapat saya lakukan. Mudah-mudahan saya segera ada waktu.
June 17th, 2008 at 10:18 am
Hebat Bang!CU AGN
June 24th, 2008 at 7:48 pm
Buat Rekan Nuke:
Terima kasih atas komentarnya. Maaf saya telat membalas karena banyaknya kesibukan akhir-akhir ini.
July 26th, 2008 at 12:21 pm
ilustrasi gambarnya kok banyak berjenis kelamin wanita, kenapayah, padalah peristiwa itu realitasnya juga dialami oleh pria. apakah ada alasan tertentu.
August 24th, 2008 at 8:04 pm
Buat Rekan Achmad Hufad:
Sebetulnya tidak ada alasan khusus. Dengan kata lain, hal itu hanya terjadi secara kebetulan saja.
Terima kasih.