Catatan Dari Tokyo (3): Belajarlah Dari Sakura
Posted by Yusron Ihza on April 4th, 2008 filed in Culture, Law, Thought206 views
Alam semesta mungkin memang merupakan hasil ciptaan yang maha kaya, ciptaan Zat Maha Jenius yang diperuntukkan bagi manusia. Alam semesta terkadang penuh dengan teka-teki atau misteri serta penuh dengan tamsil dan ibarat yang harus dipa-hami. Kesadaran yang diberikan Zat Maha Jenius tadi kepada manusia mungkin merupakan satu-satunya alat atau perlengkapan yang dapat dipergunakan untuk memahami. Dan, pemahaman tampaknya memang baru akan muncul jika manusia berusaha melakukannya. Jika kita ingin membahas persoalan di atas lebih lanjut, mungkin dapat dikatakan bahwa realita, dengan kata lain, sering kali (dan bahkan mungkin selalu) tidak memiliki makna bagi dirinya sendiri. Realita baru bermakna apabila manusia memberikan makna atau pengertian atasnya. Sekuntum bunga mawar (dan bahkan juga bunga Sakura seperti terlihat dalam gambar), misalnya, tidak akan pernah mengerti apa makna dirinya, atau untuk apa dia muncul ke dunia ini. Makna ini baru akan muncul apa bila manusia memberikannya. Sebagai misal, mawar adalah simbol untuk mengungkapkan rasa: cinta, suka cita, dan bahkan juga duka
Saya sendiri jelaslah bukan seorang ahli bahasa. Akan tetapi dengan segala keawaman, saya mencoba menduga bahwa kata “mengerti” dalam bahasa Indonesia, jangan-jangan berasal dari kata “meng-arti” alias memberikan arti. Kita mengerti, adalah jika kita telah memberikan arti. In other words, “Mengerti” can be interpreted as to give meaning upon something.
Kembali ke per-soalan kesadaran, berpikir, serta pemberian arti yang merupakan sebuah upaya atau aktifitas ini, Rene de Cartes mungkin telah cukup menjelaskan persoalan ini pada masa ribuan tahun yang lalu melalui kata-katanya yang singkat: Cogito ergo sum (saya berpikir, maka saya ada).
Dalam kaitan dengan persoalan di atas, saat saya melihat Sakura mekar penuh untuk yang ke sekian belas kalinya di Jepang (dan kebetulan kehadiran saya di Tokyo kali ini pun betepatan pula dengan mekarnya Sakura), saya berusaha untuk mengungkapkan makna atau tamsil dan ibarat yang sesungguhnya mungkin ingin dikatakan oleh bunga itu. Apa lagi, bagi masyarakat Jepang, Sakura adalah bunga yang mengandung ritus dan sekaligus juga kultus. (Lihat foto masyarakat Jepang di Ginza, Pusat Perbelanjaan Paling bergengsi di Tokyo, bawah).
Pemberitaan (termasuk juga prediksi tanggal mekar) Sakura di masing-masing wilayah, mejadi semacam ritual yang dilakukan hampir oleh setiap TV nasional Jepang setiap tahun. Di dalamnya, termasuk pula kecemasan terhadap hujan dan badai yang sewaktu-waktu dapat meluluh-lantakkan
bunga yang diagungkan di Kerajaan Sang Matahari Terbit itu, dan sekaligus pula membuyarkan acara ritual “Hanami” (acara minum sake sambil lesehan di bawah pohon Sakura). Ungkapan bahwa menunggu Sakura mekar adalah mirip dengan menunggu tanggal persalinan dari seorang wanita yang hamil tua, mungkin cukup mewakili tentang bagaimana bunga ini diagungkan …
Sebagaimana terlihat dari berapa gambar yang saya ambil di Chidorigafuchi (tak jauh dari Istana Kaisar Jepang di Tokyo) yang diposting di blog ini, Sakura memang sangat eksotis, terutama pada saat sedang mekar penuh. Oleh karena Sakura mengalami masa rontok sehingga gundul tak berdaun sepanjang musim dingin, tapi tiba-tiba bunganya mekar saat masanya tiba, maka Sakura akan menjadi seperti pohon berdaun bunga. Sampai tiga atau empat hari, suasana memukau ini akan tetap begini sampai akhirnya daun-daun mulai bermunculan seiring dengan kelopak-kelopak bunga yang mulai berjatuhan.
Jika diamati dengan teliti, kelopak-kelopak bunga yang berjatuhan itu adalah kelopak yang belum layu. Kelopak-kelopak itu diterbangkan angin dan (menurut interpretasi saya) sesungguhnya membawa sebuah pesan penting kepada manusia. Yaitu, turunlah kamu (wahai manusia), dan tinggalkanlah puncak kejayaan atau singgasanamu yang tinggi pada saat engkau masih jaya. Dan, biarkanlah kebaikanmu dan keindahanmu saja yang dikenang orang, sama seperti Sakura yang tak pernah menunggu dirinya busuk dan layu baru kemudian pergi.
Bagi seorang pe-mimpin, entah negarawan, poli-tisi, dan bahkan siapa saja, pesan di atas tentulah merupakan pesan yang penting.
Belajarlah dari Sakura, dan jadi-lah seperti diri-nya.
Print This Post
JANGAN ASAL COPY-PASTE karena BLOG JUGA ADALAH HASIL KARYA CIPTA. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemilik karya atau paling tidak menyebutkan sumber asal URL tersebut. Hitung-hitung bersilaturahmi dan memperluas perkawanan dan persaudaraan.

April 15th, 2008 at 4:11 am
Memang bunga sakura itu indah. Tapi, akankah esensi keindahannya yg perlu kita pelajari itu dapat menjelama dlm kehidupan para anggota legislatif, juga eksekutif dalam memecahkan persoalan moral bangsa? Kami tunggu teladan para pemimpin
April 16th, 2008 at 10:54 pm
Buat Rekan Achmad Hufad:
Terima kasih atas komentar dan pertanyaannya.
Tentang falsafah yang dimiliki Sakura atau pun juga falsafah-falsafah tentang kearifan lain yang dapat kita gali dari ajaran-ajaran moral di bumi kita sendiri, hal itu seharusnya menjadi acuan tingkah laku bagi siapa pun juga. Tentunya juga (dan bahkan terutama sekali) bagi para pemimpin negeri ini.
Para pemimpin seharusnya memberi contoh yang baik bagi masyarakat yang dipimpinnya. Akan tetapi sejak zaman Fir’aun sampai Ken Arok dan bahkan sampai zaman sekarang, pemimpin itu tetap saja macam-macam jenisnya. Di antara mereka ada yang baik, tapi tentu ada juga yang kurang baik dan seterusnya.
Di zaman kebebasan informasi sekarang ini, informasi yang tidak seimbang antara “kabar baik” dan “kabar buruk” yang dijejalkan ke masyarakat melalui media, tentu banyak menentukan pula mengenai image baik atau buruknya citra para pemimpin serta potret masyarakat kita.
Pendidikan kita (yang kalau tidak salah tidak lagi mengajarkan masalah-masalah moral atau akhlaq dalam mata pelajaran secara khusus dan tersendiri), tentu merupakan penyebab pula dan menentukan “wajah bangsa” kita sekarang ini.
Kembali ke falsafah Sakura, yang dapat saya jamin adalah saya akan berusaha menerapkan falsafah-falsafah kearifan seperti itu dalam kehidupan saya.
Dalam kaitan dengan moral bangsa, tentu amat menyenangkan jika Rekan Achmad Hufad yang Professor Doktor dalam bidang pendidikan, dan dengan spesialisasi pendidikan luar sekolah, terus melanjutkan aktifitas selama ini. Terutama sekali, dalam mencarikan metode yang tepat untuk mendidik bangsa ini.
July 28th, 2008 at 8:27 am
Sayang saya tidak tahu banyak tentang sakura. karena tidak pernah berpapasan dengan sakura yang sedang mekar. Saya lebih terbiasa dengan batang pisang atau batang karet. Pisang itu bila ingin memiliki buah sekualitas induknya dia harus menjauh dari induk dan tumbuh sendiri tanpa bayang2 induknya lagi. sepanjang hidupnya pohon pisang berbuah hanya sekali dan akan harakiri setelah memberi buah manisnya kepada orang lain. demikian juga dengan batang karet. biji yang berkualitas untuk jadi bibit biasanya adalah biji yang terlontar jauh dari pohon induknya. Dan hebatnya lagi pohon karet merelakan dirinya untuk dilukai setiap hari untuk memberikan kehidupan kepada mahluk lain. Tidak banyak pemimpin seperti pohon karet yang mau berkorban untuk orang lain. yang sering terdengar justru mengorbankan orang lain untuk kesenangan sendiri.