Rekrutmen WNI di Askar Wataniah, Isapan Jempol?

Posted by Yusron Ihza on February 15th, 2008 filed in Defence, Foreign Policy, Politics
222 views

Askar WataniahHiruk-pikuk tentang adanya perekrutan WNI menjadi anggota Askar Wataniah (AW) boleh jadi hanya merupakan isapan jempol. Apa lagi jika ada pihak yang ingin memberikan kesan bahwa Askar Wataniah adalah sebuah laskar baru dan dibentuk khusus untuk menampung para WNI menjadi para militer Malaysia.

Jika munculnya isu di atas merupakan isapan jempol, maka penghentian bergulirnya isu itu harus segera dilakukan. Di samping itu, latar belakang pemunculan isu tadi harus diketahui secepatnya.

Kasad Letjen Agustadi Sasongko dalam kunjungan memperkenalkan diri sebagai KASAD baru ke Kasad Malaysia Jenderal Muhamad Ismail, Rabu (13/2), telah mengklarifikasi masalah AW di atas. Kepala Staf Tentera Darat Malaysia, membantah masalah tersebut. Menurut mereka, berdasarkan UU, mereka dilarang merekrut warga asing atau permanent residence menjadi tentara atau anggota AW.

“Rekrutmen hanya boleh dilakukan kepada warga Malaysia,” kata Jenderal Muhamad, seperti dikutip oleh salah satu situs internet.

Sampai menjelang posting artikel ini dilakukan saya terus berusaha menghubungi KASAD untuk memperoleh informasi tentang persoalan ini. Tetapi sambungan tilpon itu belum berhasil tersambung karena KASAD mungkin sedang berada di Thailand atau negera lainnya.

Staf KASAD yang saya hubungi membenarkan bahwa atasannya itu sedang dalam kunjungan ke beberapa negara tetangga dan mengatakan pihak KASAD akan menghubungi saya.

Sisi Sejarah

Cikal Bakal Askar WataniahDari sisi sejarah, AW telah dibentuk pada tahun 1958 (tepatnya tanggal 1 Juni) yang fungsinya merupakan tentara cadangan bagi Angkatan Bersenjata Malaysia. Angakatan ini diletakkan di bawah Tentera Darat (Angkatan Darat) Malaysia dan menjadi salah satu komponen dalam sistem pertahanan Malaysia yang disebut sebagai “HANRUH” (Pertahanan Menyeluruh).

Jika ingin ditarik sampai jauh ke belakang, cikal bakal AW adalah adalah pasukan yang dulunya bernama “Kampong Guard” yang didirikan tahun 1948 dengan anggota pada masa itu sebanyak 40 ribu orang. Lebih jauh lagi, cikal bakal AW bahkan dapat ditarik ke akarnya sampai tahun 1854, khususnya ketika Inggris membentuk pasukan semacam itu.

Cikal Bakal Askar WataniahPada tahun 1902 di Semenanjung Malaya (termasuk Singapura) bahkan telah berdiri “Pasukan Sukarela Negeri-Negeri Melayu Bersatu” yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai “Federated Malay States Volunteer Force” dan disingkat FMSVF. Bersamaan dengan ini ada pula “The Straits Settlement Volunteer Force”, disingkat SSVF dan berkedudukan di Singapura.

Sesuai aspek sejarah di atas, maka akan merupakan suatu kekhilafan besar jika AW ingin dikesankan seolah-olah suatu laskar baru yang dibentuk untuk menampung WNI menjadi paramiliter.

Provokasi dan Pemunculan Isu

Isu adanya WNI yang direkrut menjadi AW muncul dan menyebar luas untuk pertama kalinya ketika salah satu anggota Komisi I DPR mengangkat masalah itu dalam Rapat Kerja Komisi I dengan pihak KASAD pada hari Senin (11/2). Isu yang diangkat Komisi I itu berasal dari paparan Pangdam Tanjung Pura ketika Komisi I melakukan kunjungan kerja ke Kalimantan Barat. Foto-foto tentang AW yang sekarang beredar dan dipasang dalam posting di blog ini sebelumnya adalah berasal dari sumber yang disebutkan tadi. Dan itu merupakan bagian dari dokumen resmi Pangdam yang dilaporkan kepada Komisi I saat melakukan kunjungan kerja ke Kodam Tannung Pura.

Cikal Bakal Askar WataniahFoto-foto yang memberikan kesan seolah-olah pasukan itu adalah WNI tentu dapat memprovokasi masyarakat. Apalagi jika masyarakat telah memiliki kesan sebelumnya bahwa AW seolah-olah merupakan pasukan baru dan secara khusus dibentuk untuk merekrut WNI.

Tentu tidak tertutup pula kemungkinan masyarakat menduga bahwa foto anggota AW itu seluruhnya adalah WNI, walau pun kemungkinan besar bahwa seluruhnya adalah warga negara Malaysia.

Pengangkatan isu di atas oleh Komisi I didasari oleh concern yang mendalam tentang keselamatan negeri ini, terutama di daerah perbatasan. Karena masukan berserta foto-foto tadi berasal dari Pangdam Tanjung Pura, Komisi I menilai bahwa informasi itu akurat serta dapat dipercaya.

Sampai posting ini diturunkan, Komisi I belum melakukan rapat untuk menyikapi tentang kerancuan yang mungkin telah terjadi sehingga belum diketahui apa sikap Komsi I sekarang ini. Akan tetapi sebagai Wakil Ketua Komisi I untuk bidang Pertahanan, saya mulai mencermati masalah ini secara lebih dalam sejak malam sebelumnya.

Saya mungkin menjadi orang pertama di Komisi I yang mulai meragukan kebenaran informasi yang berasal dari Pangdam Tanjung Pura di atas. Secara informal, saya telah meminta beberapa kawan Komisi I untuk berhati-hati dan tidak terjebak pada “permainan” atau skanerio yang dibuat pihak-pihak tertentu dan untuk tujuan yang bersifat tertentu pula.



Print This Post Print This Post
Page copy protected against web site content infringement by Copyscape
JANGAN ASAL COPY-PASTE karena BLOG JUGA ADALAH HASIL KARYA CIPTA. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemilik karya atau paling tidak menyebutkan sumber asal URL tersebut. Hitung-hitung bersilaturahmi dan memperluas perkawanan dan persaudaraan.

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

9 Responses to “Rekrutmen WNI di Askar Wataniah, Isapan Jempol?”

  1. Siska Says:

    Dalam keterangan persnya sore tadi, Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso menegaskan bahwa tidak ada WNI menjadi anggota Askar Wataniah.

    Namun begitu, jika akhirnya terbukti ada-pun menurut saya yang salah tetap Pemerintah Indonesia.

    Minimnya perhatian Pemerintah Pusat terhadap daerah – daerah perbatasan menjadi salah satu alasan utama kenapa saya berkata demikian. Daerah perbatasan Kalimantan Barat – Sarawak (Malaysia) misalnya, yang saat ini ramai disebut-sebut terkait masalah Askar Wataniah. Masyarakat di daerah ini umumnya hidup miskin dan jauh dari sejahtera. Jarang sekali pengusaha yang mau mensupply kebutuhan pokok ke daerah ini karena jauh, tidak untung dan segudang alasan lain. Akibatnya, penduduk lebih sering pergi ke Sarawak untuk beraktifitas mengingat jarak tempuh yang lebih dekat dari pemukiman mereka, akses yang lebih mudah dan fasilitas yang konon lebih baik. Bisa dikatakan, kegiatan ekonomi masyarakat di daerah ini amat bergantung pada Sarawak. Dalam kondisi ini, apakah tidak mungkin rasa nasionalisme dan harga diri sebagai bangsa Indonesia terancam pudar? Apalagi hubungan kekerabatan antar warga di dua negara ini sudah tidak lagi mengindahkan batas – batas negara.

    Melihat hal di atas, bukankah Pemerintah yang kemudian harus disalahkan jika warga yang “tidak terangkul” ini kemudian lebih berpihak kepada Malaysia?

  2. Siska Says:

    Sebagai tambahan, potret kemiskinan warga perbatasan di Kalimantan Barat bisa dilihat dalam film “Saat Sang Saka Tak Lagi Berkibar”. Film ini merupakan salah satu finalis Eagle Awards Documentary Competition 2007 yang kali ini mengangkat tema “Hitam Putih Indonesiaku”.

    Pesan yang disampaikan oleh film ini cukup jelas: Pemerintah harus memberikan perhatian serius terhadap masalah - masalah di daerah perbatasan. Jika tidak, amat berbahaya bagi integritas NKRI sendiri.

    Salut untuk para sineas Indonesia yang telah menunjukan kepedulian mereka terhadap masalah - masalah bangsa ini melalui film dokumenter.

  3. Yusron Ihza Says:

    Buat Rekan Siska:

    Terima kasih atas dua komentarnya. Bagaimana membangun ekonomi dan bagaimana melakukan pemerataan hasil-hasil pembangunan itu, pada akhirnya tetaplah menjadi kunci.

    Kedua hal di atas tampaknya sederhana sekali, walau pun nyatanya tidak mudah dilaksanakan.

    Namun begitu, jika negara-negara lain bisa, mengapa kita tidak? Saya yakin kita pun bisa, hanya saja mungkin kita belum menemukan pempimpin yang betul-betul pas untuk itu. Jika melihat fenomena Cina, Malaysia dan lain-lain, di mana mereka bisa, maka saya optimis kita pun sanggup juga.

    Tentang film yang Anda katakan, saya akan mencoba mencari dan menontonnya sehingga saya tahu situasi di Kalimantan Barat itu secara lebih dekat lagi. Namun demikian, ini tentu bukan berarti saya tidak paham atau kurang familiar tentang masalah kemiskinan.

    Berbicara tentang kemiskinan, kampung halaman saya yang bersebelahan dengan Kamilamntan Barat itu (Pulau Belitung yang mengapit Selat Karimata) merupakan daerah miskin juga. Saya baru saja pulang kampung akhir minggu yang lalu.

    Walau pun hasil alamnya kaya raya, dan Belanda pernah membuat daerah ini jaya sehingga pulau ini terkenal di negeri Belanda (bahkan juga di Inggris dan Australia), tapi Belitung Timur tercatat sebagai Kabupaten miskin di Indonesia. Yah, tragis juga.

    Semoga ke depan nanti ada jalan yang dapat membawa bangsa ini keluar dari kemiskinan.

    Selagi kita terus berpikir dan berusaha, saya yakin jalan itu akan ditemukan.

  4. dedi adityawarman Says:

    ada dua soal di sini.
    Pertama, rekan Pak Yusron, Ali Mochtar Ngabalin yang juga anggota Komisi I DPR, menegaskan bahwa memang benar ada pemuda-pemuda Indonesia yang direkrut oleh Malaysia menjadi Askar Wathaniyah untuk menjaga wilayah perbatasan.
    Untuk itu, pemerintah diharapkan tidak perlu menghindar dari fakta ini. “Fakta sudah ada. Kenapa pemerintah selalu menghindar. Kami sudah datang ke wilayah perbatasan tersebut ,” kata Mochtar dalam diskusi seputar keberadaan Askar. Wathaniyah di Menteng Huis, Jakarta Pusat, Sabtu (16/2). Pernyataan Ali ini disampaikan menanggapi bantahan pemerintah soal adanya pemuda Indonesia yang direkrut Malaysia.

    Kedua, kalau benar ini cuma provokasi, wah ini kejahatan yang sangat besar terhadap negara. Harus ada tindakan (hukum?) yang signifikan untuk menyikapinya.
    Tapi, masak sih, cuma provokasi? Motifnya apa, coba?

  5. Yusron Ihza Says:

    Buat Rekan Dedy Adityawarman:

    Terima kasih atas pertanyaan dan komentarnya.

    Dugaan dan kontra dugaan tentang adanya WNI yang direkrut menjadi Askar Wataniah (AW) memang merupakan persoalan yang pelik. Masalah ini sedang bergulir sehingga belum ada kesimpulan final. Komisi I akan menindaklanjuti masalah ini secara lebih dalam pada Rapat Kerja Komisi dengan Dephan dan Mabes TNI dalam sidang yang terdekat. Mungkin sidang itu ada dalam minggu depan ini.

    Tentang Ali Mochtar Ngablain, pendapat Ngabalin bahwa pemerintah sepertinya mau lari dari fakta, memang cukup beralasan. Saya juga kaget membaca dan mendengar bahwa Kasad kita bertemu Kasad Malaysia dan menanyakan tentang ada atau tidaknya WNI yang direkrut menjadi anggota AW. Deplu tiba-tiba membantah pula bahwa ada WNI yang direkrut menjadi AW. Konon, BIN dan aparat-aparat pemerintah yang lain, juga melakukan hal yang serupa.

    Kekagetan yang saya maksud di atas adalah tentang mengapa mereka melakukan pengecekan secara formal seperti itu, dan hanya sepintas lalu. Jika dicek seperti itu, sudah pasti Malaysia akan bilang “tidak ada”. Ibaratkan pencuri, akan amat jarang seorang pencuri mengaku jujur jika ditanya polisi apakah dia mencuri atau tidak.

    Apakah pihak pemerintah cemas dinilai “tiak beres” dan “kecolongan” jika ternyata perekrutan WNI ke dalam anggota AW itu memang ada dan karena itu mereka buru-buru mengatakan tidak ada? Atau, apakah karena alasan lain? Saya dan juga kawan-kawan di Komisi I umumnya masih belum jelas apa alasan pemerintah tersebut.

    Hal lain yang juga belum jelas bagi saya dan juga Komisi I adalah akurasi serta maksud Pangdam Tanjung Pura dalam melangsir data dan berita tentang kemungkinan perekrutan WNI menjadi anggota AW itu. Saya sendiri tidak mendengar langsung paparan Pangdam tentang masalah ini karena kala itu saya ditugaskan kunjungan kerja ke Provinsi Kepri.

    Saat membaca laporan Pangdam serta melihat foto-foto dalam dokumen yang dipaparkan langsung oleh Pangdam kepada kawan-kawan saat berkunjung ke Kodam Tanjung Pura itu, saya mempunyai kesan bahwa foto-foto itu (ikut saya tayang di blog) adalah foto-foto WNI yang direkrut itu. Saya juga mempunyai kesan bahwa AW adalah laskar yang sengaja dibentuk Malaysia untuk tujuan merekrut WNI tadi.

    Tapi, sehari setelah posting artikel di blog ini, saya mulai bertanya dan ragu tentang akurasi laporan Pangdam itu. Saya mulai bertanya-tanya tentang bagaimana foto-foto itu diambil. Apakah Kodam menyusupkan intel ke sana dan seterusnya, pikir saya. Setelah mengkaji dan mengumpulkan data tentang AW dari berbagai sumber, saya segera tahu bahwa cikal-bakal AW sudah ada sejak tahun 1800-an dan AW-nya sendiri dibentuk tahun 1948. Dengan begitu, AW yang dilangsir Pangdam itu bukan barang baru. Lalu, foto-foto yang dilangsir Pangdam itu pun mungkin merupakan foto yang memang tidak terlalu sulit dicari di internet. Terutama, jika foto tersebut adalah foto AW yang memang asli Malaysia.

    Jika AW bukan barang barumdan foto-foto AW ada di situs-situs internet, maka apa maksud Pangdam mengangkat masalah itu dan memberikan kesan seolah-olah situasi di perbatasan itu sebegitu gawat?

    Seperti dikatakan sebelumnya, masalah AW ini belum final. Terutama tentang duduk masalahnya. Karena itu, saya pun belum dapat menjawab secara final pula.

    Seperti yang terlihat dalam dua posting saya tentang AW, dalam posting itu saya menggunakan tanda tanya dan juga mengajukan hipotesa-hipotesa yang masih perlu diuji di lapangan.

  6. Dimas Says:

    Isu perekrutan WNI sebagai anggota Askar Wataniah masih menyisakan tanda tanya. Tidak hanya bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga di kalangan warga negara Malaysia. Ini saya ketahui dari berbagai media berbahasa Melayu yang mereka miliki.

    Pak Yusron menulis bahwa AW merupakan tentara cadangan Angkatan Bersenjata Malaysia. Dengan demikian, AW jelas merupakan komponen dalam sistem pertahanan negara ini.

    Melihat hal di atas, maka bagi saya amat tidak mungkin jika Pemerintah Malaysia bertindak gegabah merekrut ribuan WNI menjadi AW (kalau hanya ditugaskan sebagai mata-mata/penyusup, tentu jumlahnya tidak akan sekian banyak dan nyata).

    Bagi WN Malaysia sendiri, merekrut WNI sebagai AW merupakan hal yang tidak mungkin dan amat bertentangan dengan UU mereka.

    Sama seperti Indonesia, Malaysia adalah negara berdaulat. Mempertahankan kedaulatan negara merupakan prinsip paling mendasar dalam kehidupan bernegara. Maka, tidak mungkin jika Pemerintah Malaysia meletakan tanggung-jawab untuk membela kedaulatannya di pundak warga negara asing.

    Demikian.

  7. Yusron Ihza Says:

    Buat Rekan Dimas:

    Isu perekrutan WNI menjadi anggota Askar Wataniah (AW) seperti yang saya tulis dalam tanggapan saya atas pandangan salah seorang pengunjung blog ini memang merupakan hal yang belum final. Duduk masalah itu belum jelas sehingga kita masih sulit untuk mengambil kesimpulan yang kurang lebih tepat. Karena ada atau tidak adanya perekrutan WNI itu harus dipastikan di lapangan dan bukan hanya secara hipotetis, maka seharusnya BIN atau Intel TNI bergerak secara rahasia ke lapangan dan dengan sungguh-sungguh bertujuan mencari kepastian.

    Bahwa AW adalah komponen cadangan dalam Angkatan Bersenjata Malaysia (khususnya Angkatan Darat), ini merupakan hal yang sahih. Hanya saja, apakah betul ada WNI yang direkrut menjadi anggota AW ataukah tidak, maka seperti disebut sebelumnya, hal ini masih merupakan tanda tanya. Begitu juga dalam hal jumlahnya (sekiranya perekrutan itu memang ada).

    Sekedar catatan, terkait jumlah di atas, dapat saya sampaikan bahwa posting saya yang memuat foto tentang AW (foto berasal dari dokumen resmi Kodam Tanjung Pura) itu, tidak dapat dijadikan patokan. Saya bahkan menduga kuat bahwa sebagian besar (kalau bukan seluruh) anggota AW dalam foto itu adalah warga Malaysia. Jika begitu, mengapa Pangdam melangsir foto itu, ini pun sebuah tanda tanya pula.

    Mengingat jumlah WNI yang direkrut sebagai AW tadi tidak diketahui besarnya (sekali lagi, jika ada), maka secara hipotetis masuk akal untuk mengatakan bahwa perekrutan untuk tujuan mata-mata itu “mungkin” saja ada. Salah satu kemungkinan lain (seperti dituls dalam posting saya) perekrutan WNI menjadi anggota AW itu (jika memang ada) mungkin dikarenakan kekeliruan aparat Malaysia. Sebabanya, karena WNI yang direkrut itu memiliki dua KTP atau ID Card. Pihak Malaysia, dengan kata lain, mungkin mengira mereka adalah warga negara Malaysia.

    Dalam sikap pribadi saya, saya tidak menyepelekan kemungkinan bahwa perekrutan WNI menjadi anggota AW itu ada. Tapi sebaliknya, saya juga tidak ingin gegabah menuduh bahwa perekrutan WNI sebagai anggota AW itu betul-betul ada.

    Karena ujung tombak masalah pertahanan dan keamanan negara itu terletak, antara lain pada TNI dan BIN, maka merekalah pihak-pihak yang harus memastikan serta mendudukan persoalan ini dengan tepat. Mencari kepastian ini tentu harus mereka lakukan tanpa menunggu desakan dari DPR atau dari pihak lain.

  8. tians Says:

    Pak, saya mau bertanya lagi …

    Apakah benar bahwa AW sudah merekrut WNI sejak 1962?

  9. Yusron Ihza Says:

    Buat Rekan Tians:

    Sampai hari ini masih belum diketahui secara pasti apakah perekrutan WNI menjadi anggota AW itu ada atau tidak. Pangdam Tanjung Pura menduga kuat bahwa perekrutan itu ada. Rekan Happy Bone (anggota Komisi I) yang mengangkat masalah ini, adalah atas dasar laporan Pangdam tadi. Yaitu, laporan resmi Pangdam ke Komisi I.

    Pihak-pihak lain di kalangan pemerintah (eksekutif) membantah tentang adanya perekrutan itu. Saya sendiri kurang puas dengan bantahan pemerintah itu, terutama sekali karena bantahan itu terkesan hanya asal-asalan dan tanpa penyelidikan yang mendalam.

    Karena tidak pastinya perekrutan tadi (ada atau tidak), maka saya tidak dapat menjawab pertanyaan Anda tentang apakah perekrutan itu sudah mulai tahun 1962 ataukah tahun kapan.

    Sekedar info, hari Senin besok (3/3) Komisi I akan Rapat Dengar Pendapat dengan Dephan. Kami akan menanyakan kembali masalah di atas dengan harapan ada kepastian.

Leave a Comment