Gong Xi Fa Cai (Seri 3): Mencari Kearifan Dari Tembok Cina

Posted by Yusron Ihza on February 9th, 2008 filed in Culture, History, Social

Jika mengingat kembali pengalaman berkunjung ke Cina dan terutama tentang perjalanan ke Tembok Cina pada tahun 1995, saya ada kalanya jadi tertawa. Tidak saja tembok itu kotor dan sengit dengan aroma pipis, situasi sepanjang perjalanan menuju tembok itu pun tidak jauh berbeda pula. Kawan saya (Kepala Perwakilan Kantor Berita yang ditugaskan di Peking) yang menjadi guide perjalanan, sejak awal telah mengingatkan tentang banyaknya “ranjau darat” (maaf, maksudnya “hajat” manusia yang dibuang dimana-mana) di sepanjang jalan menuju tembok besar itu. tembok-cina-a.jpg

Kawan di atas bahkan sempat bercerita bahwa sekalipun kala itu telah bertugas selama satu tahun di Peking, dia masih tetap belum bisa dan belum mau memakan sayur mayur di negeri itu. Kalau terpaksa, kata dia, maka dia akan memakan sayur berbentuk buah seperti buncis, labu Siam dan lain-lain. Untuk yang bersifat daun dan umbi-umbian seperti kol, sawi, lobak, dia tidak mau menyentuh sama sekali. Alasannya karena pupuk yang digunakan itu adalah “pupuk organik” dari kotoran manusia.

Cerita kawan di atas betul-betul sempat kami verifikasi secara empirik di lapangan. Untuk ini, dalam perjalanan menuju Tembok Cina, kami terpaksa menurunkan kecepatan mobil pada kilo meter tertentu dan membuka jendela. Seperti yang mungkin telah dapat dibayangkan, aroma yang “wa na’u dzubillah min dzalik” (semoga Allah menjauhkan dari hal itu) tersebut memang semerbak luar biasa. Kebetulan “mobil tangki” yang siap meyemprotkan pupuk di perkebunan besar itu sedang lewat pula secara beriringan … Masuk ke negeri Cina pada tahun 1995 tersebut memang merupakan perjalanan yang berat, apa lagi perjalanan menuju Tembok Cina tersebut. Dibanding dengan pengalaman saya berkunjung ke reruntuhan Tembok Berlin sekitar setahun yang lalu, beban perjalanan ini memang amat berbeda. Akan tetapi agar jangan sampai perjalanan saya dengan pesawat dari Tokyo menuju Peking itu menjadi sia-sia, maka semangat pun tak boleh surut dan mimpi untuk melihat Tembok Besar itu pun tak boleh pudar. Bila perlu, saya akan membayar semua “cost” yang harus diderita.

Jika saya hanya mau melihat tembok itu secara tanggung-tanggung, kala itu sebetulnya masih ada sisi-sisi tembok yang melintasi kota Peking, yang sebagiannya telah dipotong untuk pembangunan jalan dan lain-lain. Akan tetapi karena sejak masih SD di kampung saya telah tahu keberadaan Tembok Raksasa itu, antara lain melalui merek pensil dengan tulisan “Great Wall” dan saya mau melihatnya di dalam hidup ini, maka saya haruslah melihatnya benar-benar dan secara Tembok Cina 1a.jpg“afdol”. Inilah yang membuat kami harus berjalan jauh dengan mobil dari Peking ke luar kota, yaitu guna mencapai sisi tembok yang memang diperuntukkan bagi wisatawan. Sisi ini adalah sisi yang paling representatif dari bangunan tua itu.

Menyambung kisah tentang “mobil tangki” di atas, setelah mobil kami berjalan dengan kecepatan yang menderu dan menempuh jarak tertentu, syahdan, tiba-tiba saja anggota rombongan kami ada yang ingin pipis. Konon, dia betul-betul darurat dan sudah tak tahan lagi. Karena laki-laki dan di kiri kanan jalan pun semua hutan, maka kami memutuskan berhenti di jalan. Secara kebetulan, mobil berhenti tepat di salah satu sisi tembok yang ribuan kilo meter panjangnya itu. Saya pun sigap keluar mobil untuk memanfaatkan kesempatan melihat salah satu sisi tembok itu, di samping juga untuk ikut berjamaah dalam “hajatan kecil” di pinggir jalan tersebut.

Tapi baru saja turun dari mobil, saya segera terperangah menyaksikan tulisan dengan huruf-huruf kanji Cina di tembok itu. Saya tentu tidak terperangah karena huruf Kanji yang saya cukup familiar tersebut. Yang membuat saya terperangah adalah karena huruf-huruf dengan ukuran besar sekitar 60 senti meter itu ditulis (maaf) dengan menggunakan kotoran manusia dan dengan alat tulis berupa pelepah pisang atau yang sejenisnya. Saya sempat istigfar “astagfirullah” di dalam hati.

Karena kondisi medan adalah seperti di atas maka setiap yang turun dari mobil diperingatkan untuk melakukan kewaspadaan tinggi dan menjaga langkah kaki agar tidak menginjak benda yang tidak diinginkan. Masya Alllah, “Ranjau darat” ternyata memang banyak pula bertebaran di tempat itu.

Dengan kehati-hatian yang tinggi, wal hasil, alhamdulillah semua rombongan kami selamat dan naik kembali ke mobil dengan lega dengan tanpa satu kaki pun yang cidera. Di tengah suasana hati yang bersyukur seperti itu, kami merasa heran karena kawan yang menjadi guide kami geleng-geleng kepala dan menggerutu. “Tragis betul nasib bangsa ini” kata dia. Semua yang mendengar, jadi bertanya-tanya.

Kawan tadi melanjutkan kata-katanya: “Betapa pun nenek moyang bangsa Cina begitu jaya dan perkasa sehingga sanggup membangun Tembok Besar itu (dan menjadi satu-satunya bangunan di bumi yang terlihat dari bulan), tapi anak-cucunya ternyata begitu lemah”. Semua yang mendengar omongan itu tetap heran tentang maksudnya.

Tahu bahwa omongannya belum final, kawan tadi pun melanjutkan: “Jangankan membuat WC, sekedar menggali lobang kecil untuk membuang hajat dan kemudian menimbunnnya saja pun, ternyata bangsa Cina sekarang tidak mau atau tidak sanggup melakukannya”. Semua yang mendengar omongan itu pun kontan tertawa.

Perjalanan ke Tembok Cina kala itu memang penuh dengan pengalaman aneh tapi nyata tapi seperti yang disebut di atas. Salah satunya adalah bahwa orang asing harus membayar empat kali lipat lebih mahal dibanding penduduk setempat. Akan tetapi demi melihat bangunan historis dan monumental itu, saya harus tetap kuat untuk melangkah maju. Termasuk, misalnya, kekuatan terhadap serangan bau pesing di titik-titik tertentu di tembok raksasa itu.

Kekuatan bertahan serta tekad yang bulat di atas ternyata memang membuahkan hasil. Sekali pun sekali-sekali harus menutup hidung ketika berjalan di atas Tembok Cina yang dapat dijalani empat ekor kuda secara berdampingan itu, saya sempat merasa kagum juga. Hutan yang menghijau sejauh mata memandang di kiri dan kanan tembok itu tentu merupakan pesona tersendiri. Saya tidak dapat melakukan pengecekan tentang sisi yang manakah yang saya capai pada bangunan yang menelan masa 2.120 tahun untuk pembuatannya itu.

Saat berada di atas bangunan itu, saya sempat pula membayangkan tentang betapa kuat dan berkuasanya dinasti yang memerintah sehingga sanggup menggerakkan rakyat selama lebih 20 abad abad guna membangun tembok itu. Mengingat bahwa periode itu amat panjang, maka saya menduga bahwa dinasti yang menumbangkan dinasti yang lama mungkin terus melanjutkan proyek proyek raksasa atau proyek yang luar biasa ini.

Di dalam hati saya sempat bercanda bahwa kalau saja selama kurun waktu itu ilmu ekonomi telah berkembang seperti sekarang, para ahli saat itu mungkin akan sibuk menghitung APBN untuk proyek raksasa itu. Mereka mungkin akan menghitung daya serap proyek itu terhadap tenaga kerja, dan mungkin pula menghitung pengaruhnya terhadap laju pertumbuhan ekonomi negara.

Bahwa Tembok Cina itu dibangun dengan tujuan untuk menangkis serangan bangsa atau dinasti lain di Cina (dan mungkin termasuk pula bangsa Mongol), ini menandakan betapa kerasnya kehidupan di masa itu, pikir saya. Betapa pun buku sejarah hanya mencatat sepenggal kecil saja tentang penjajahan yang dialami bangsa Cina (antara lain, termasuk Parang Candu tahun 1950-an di mana Inggris menggunakan narkoba untuk melemahkan bangsa Cina), namun sejarah Cina yang sebenarnya adalah sejarah yang penuh penjajahan. Yaitu, penjajahan oleh sesama Cina sendiri.

tian-an-menPersoalan di atas jelas dan memiliki bukti. Tak hanya pergantian tulisan yang pernah terjadi beberapa kali sampai akhirnya Cina menggunakan huruf Kanji (tulisan yang berasal dari Dinasti Han alias Khan) seperti sekarang ini, bukti-bukti lain pun tentu juga ada. Bukti terbesar tentang tidak amannya negeri, jelas adalah tembok besar itu sendiri …

Perjalanan ke Tembok Cina di atas sungguh mengesankan di dalam berbagai makna atau arti. Betapa pun saya sempat “ziarah” ke makam Kaisar Ming (Dinasti Ming yang ke-4) dalam perjalanan pulang menuju Peking; dan betapa pun makam di bawah tanah itu tak kalah megahnya dengan Astana Giri Bangun di Solo, pikiran saya tetap saja terpaku pada Tembok Cina yang memang sungguh luar biasa itu. Kontur jalan lebar di atas tembok yang ada kalanya turun, nak, dan ada kalanya cukup rata, tentu merupakan sebuah kesan pula.

mosoleum-kaisar-ming-ivSampai keesokan hari sejak kunjungan ke Tembok Cina tadi, saya masih terus saja berpikir tentang tembok itu. Ini tak peduli betapa pun lapangan Tian An Men (sesuai kanjinya, bermakna Gerbang Langit Damai) yang mencatatkan sejarah berlumur darah itu ikut saya kunjungi. Bahkan, juga tak peduli bahwa saya sedang di di Forbiden City (Kota Terlarang) yang terkenal itu sekali pun.

Dalam masalah Tembok Cina tadi, salah satu hal penting yang ingin saya ketahui adalah, apakah pembangunan Tembok Cina yang amat perkasa itu merupakan simbol kehebatan? Atau, sebaliknya, simbol kedunguan?

Jika dilihat dari sudut pandang masa sekarang (terutama karena kemajuan teknologi) maka jelas kita mengetahui bahwa, pesawat Sukhoi Rusia, sama sekali tidak akan pernah terhalang untuk mengebom Cina hanya karena tembok itu tadi. Rudal Rusia, rudal Amerika, dan bahkan rudal Korea Utara pun akan dengan bebas memasuki wilayah Cina; dan tembok itu sama sekali tidak berdaya.

Kaisar Zhou yang mulai membangun potongan-potongan kecil Tembok Cina pada tahun 476 Sebelum Masehi mungkin terhitung manusia yang cerdas. Kaisar Qin yang menyambung potongan-potongan kecil tadi pada tahun 214 Sebelum Masehi, tentu masih bertindak relevan dan cerdas pula. Akan tetapi tindakan untuk melanjutkan pembangunan itu sampai tahun 1644 (abad ke-17) tentu merupakan hal yang patut dipertanyakan. Sebagai misal, apakah bangsa Cina yang telah membangun Tembok Raksasa dan luar iasa itu menganggap bahwa selama 2.120 tahun (sejak tembok mulai dibangun sampai selesainya) dunia ini tidak pernah berubah serta tidak mengalami kemajuan?

meriam-ki-amuk-ex-belanda-thn-1450Pada tahun 1596 saja, misalnya, Belanda telah mendirikan serikat dagang VOC di Indonesia, yang berarti bangsa Barat telah mengelilingi dunia dengan teknlogi “maju”. Kapal-kapal Portugis yang menyerang dan menjatuhkan Malaka pada tahun 1511 bahkan telah dilengkapi dengan meriam-meriam kaliber besar. Ini tentu merupakan isyarat bahwa dunia berubah dan melangkah jauh meninggalkan zaman-zaman sebelumnya. Idealnya, hal ini merupakan hal yang seharusnya dapat dibaca, diproyeksi dan dan diantisipasi.


Jika dilihat dari titik di atas, pembangunan Tembok Cina yang terus berlanjut untuk masa yang amat panjang dan terkesan memaksakan diri itu mungkin memang sebuah kedunguan. Yaitu, kedunguan karena memandang bahwa dunia ini abadi, tanpa berubah, statis dan bahkan beku. Akan tetapi saya ingin segera memberi catatan bahwa kedunguan itu mungkin bukan kedunguan khas bangsa Cina, melainkan kedunguan yang sering terjadi pada manusia sampai masa sekarang ini pun juga. Walau pun, mungkin saja dengan kaliber yang berbeda.

Jika begitu adanya, maka apakah Tembok Cina itu dapat memberi sebuah pesan tentang kearifan? Jawaban atas pertanyaan ini cukup jelas, yaitu dapat.

meriam-si-jagur-peninggalan-portugis-abad-16Kearifan dari kedunguan itu muncul jika disadari bahwa manusia itu memang dungu. Dengan kesadaran mendalam terhadap kedunguan ini, manusia seharusnya terdorong dengan keras untuk melakukan renungan-renungan dan perhitungan-perhitungan secara lebih tajam dan lebih jauh lagi ke depan tentang rencana-rencana yang ingin dilakukan. Proyeksi dan antisipasi (yang mungkin harus dilakukan secara periodik) tentu harus menjadi kata kunci.

Manusia, seperti yang sering saya katakan kepada kawan-kawan, memang tidak mungkin tahu tentang segala hal. Akan tetapi ada hal yang sepatutnya diketahui oleh segala manusia, yaitu kita harus tahu bahwa kita tahu dan juga kita harus tahu bahwa kita tidak tahu.

Sikap tidak tahu (atau tidak mau tahu) bahwa diri tidak tahu akan mendorong manusia untuk merugi. Sebaliknya sikap tahu bahwa diri tidak tahu akan mendorong manusia menuju keberuntungan. Sebagai misal, kesadaran tadi akan mendorong manusia untuk belajar dan tidak bersikap “memintar-mintari” orang lain.

Dalam canda dengan kawan-kawan dekat, saya sering berkata bahwa “orang bodoh itu seringkali tampak pintar”. Maksud saya, orang bodoh itu cenderung bertindak “memintar-mintari” orang lain dan juga cenderung ngotot. Apakah dia berlagak pintar dengan harapan agar dinilai seolah-olah pintar ataukah karena alasan lain, saya tidak tahu. Yang saya tahu, orang yang seperti itu adalah orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu.

Akhir kata, inilah mungkin kearifan dari perjalanan berat saya ke Tembok Cina, perjalanan berat tetapi lumayan nikmat, tapi harus selalu waspada terhadap bertebarannya “ranjau darat”. Semoga pengalaman dan penghayatan yang saya tuturkan dalam bahasa ringan ini akan bermanfaat dan bukan mendatangkan mudarat, baik bagi para sahabat, ataupun bagi karib-kerabat.

Paling akhir sekali, izinkan saya menucap kata: Salam hormat.


3 Responses to “Gong Xi Fa Cai (Seri 3): Mencari Kearifan Dari Tembok Cina”

  1. Juni Says:

    Sungai Yangtze yang amat terkenal itu juga kondisinya tidak jauh beda Pak. Kotor dan penuh limbah. Herannya, sungai ini tetap jadi tujuan favorit para turis asing. Terutama saat matahari terbit dan tenggelam.

  2. irgaa Says:

    wah saya juga sering berpikir kalo Tembok Besar China memang kurang “cina”..
    mereka yang biasanya terkenal praktis dan logis koq mau-maunya bikin tembok sebesar itu tanpa ada kegunaan yang signifikan..lha wong tingginya cuma beberapa meter dan “putus” di beberapa tempat..apa iya orang-orang utara tidak bisa buat tangga atau jalan sedikit memutar??

    p.s.
    foto “bagus” tembok cina yang bukan daerah turis:
    http://fullmetalcynic.files.wordpress.com/2007/12/standardimage-program100.jpg

  3. Yusron Ihza Says:

    Buat Rekan Juni:

    Terima kasih atas info, apa lagi saya belum pernah ke Sungai Yangtze. Kalau Sungai Mekong yang terkenal di Indoncina, saya pernah ke sana. Sungai Chao Praya di Bangkok juga pernah saya arungi.

    Tentang kotor tapi ngetop, hal ini menarik juga. Apakah pengunjung akan makin ramai jika tempat itu bersih atau sebaliknya, ini merupakan pertanyaan pula.

    Buat Rekan Irgaa:

    He2x …, iya tuh. Gak “Cina banget”. Saya juga kurang mengerti mengapa begitu. Tapi dari situasi itu kita dapat menarik hikmahnya, yaitu memandang bahwa dunia ini statis (apa lagi selama lebih dua ribu tahun) adalah sikap tidak tepat.

    Dunia ini selalu berubah dan tidak abadi. Yang abadi, menurut kata orang-orang, justru perubahan itu sendiri.

Leave a Comment