Gong Xi Fa Cai (Seri 2): Kerajaan Kaki Langit & Kerajaan Matahari Terbit
Posted by Yusron Ihza on February 9th, 2008 filed in Culture, History, SocialCina menurut beberapa bukti sejarah, merupakan salah satu negara yang lebih dulu maju di masa lalu. Nabi Muhammad yang lahir pada tahun 571 Masehi pun tahu tentang keberadaan negeri yang “jauh” ini. Dalam sabdanya, Nabi Muhammad memesankan “Taktubul ilmi illa bis- syiin” (tuntutlah ilmu walau pun sampai ke negeri Cina).
Sejauh mana kedekatan hubungan antara negeri-negeri Arab dengan Cina pada abad ke-6 Masehi di atas, saya kurang mengetauhinya dengan pasti, walau pun saya pernah mendengar tentang “silk road” (jalan sutera) yang digunakan sebagai rute perdagangan. Suatu hal yang saya tahu dengan pasti, di Peking ada mesjid yang telah berusia lebih dari seribu tahun, yang berarti didirikan sekitar 400 tahun setelah lahirnya Nabi Muhammad. Saya mengatakan hal ini “pasti” karena saya pernah memasuki mesjid itu pada tahun 1995 dan sempat sholat dua raka’at di dalamnya. 
Akan halnya kebesaran Cina, Gavin Menzeis dalam bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “1421, Saat Cina Menemukan Dunia” mengatakan bahwa pada tahun tersebut Cina masih atau semakin jaya dengan kehebatan armada-armadanya. Bangsa-bangsa Eropa, termasuk Colombus, menurut buku itu, bahkan berlayar dengan menggunakan peta yang dibuat oleh bangsa Cina tersebut.
Karena merasa hebat akan kebesaran dirinya, maka Cina menganggap dirinya sebagai pusat peradaban dunia. Huruf Kanji yang digunakan Cina untuk menyebut nama negaranya adalah kombinasi antara Kanji yang bermakna “tengah” dan Kanji yang bermakna “negara”. Secara harfiah kedua huruf Kanji ini bermakna sebagai “Center State” (negara pusat, negara inti, atau negara yang berada di tengah). Langsung atau tidak, negara-negara lain dianggap sebagai negara phery-phery alias pinggiran oleh kerajaan besar ini.
Salah satu dialek dalam bahasa Cina membaca kedua huruf Kanji di atas sebagai “Cungkok” dan Jepang membacanya sebagai “Cugoku”. Akan tetapi dengan bunyi apa pun huruf itu dibaca, maknanya akan tetap sama dengan “Kerajaan Pusat” seperti yang telah dikatakan sebelumnya. Secara simbolis, negara itu dapat juga dikatakan sebagai “Kerajaan Kaki Langit” atau negara yang menjadi pilar tengah dan utama yang menopang langit.
Saking besarnya negeri Cina itu (walau pun penguasa di sana silih berganti karena perang antar suku dan RRC-nya berusia lebih muda dari negara Republik Indonesia ) maka tidak mengherankan jika utusan berbagai negara di masa lalu datang ke negeri itu. 
Suatu hari pada masa ratusan dan bahkan mungkin juga lebih seribu tahun yang lalu, Jepang pernah mengutus Putra Mahkota yang bernama Pangeran Satoku ke negeri Cina. Untuk menunjukkan lokasi dan nama negerinya, Pangeran Satoku sempat membuat Sri Baginda Raja Cina yang memerintah kala itu terperanjat. Nama negara itu ditulis dengan dua huruf Kanji pula, yaitu Kanji “Matahari” dan Kanji “inti” atau “asal”. Kanji yang dibaca Jepang sebagai “Nihon” atau “Nippon” itu dapat pula bermakna sebagai “Tempat Matahari Terbit” atau secara umum dapat pula diartikan sebagai “Kerajaan Sang Matahari Terbit”. 
Sri Baginda Raja Cina di atas bukanlah terperanjat karena takut terhadap negara yang namanya gagah perkasa seperti itu, melainkan justru terkejut karena beraninya Pangeran Satoku menyebut nama negaranya dengan sebutan tadi. Kerajaan Cina yang besar itu, konon kabarnya, menganggap utusan Jepang itu sebagai anak kecil yang tidak mengerti tentang kebesaran Cina, akan tetapi Sri Baginda Raja tetap menghormatinya …
Jika Cina menyebut negerinya sebagai “Kerajaan Kaki Langit” dan Jepang menyebut negerinya sebagai “Kerajaan Sang Matahari Terbit”, maka dengan nama apakah negara saya akan aku sebut, demikian saya pernah bertanya dalam hati.
Kalau melihat Singapura, saya tidak pernah yakin kalau kata itu ada kaitan langsung dengan kata “singa” (simbol gagah, kuat dan berani). Apa lagi, pulau itu tidak ada urusan sama sekali dengan binatang bernama singa. Ini, tak peduli betapa pun patung kepala singa yang besar dipajang di Singapura.
Saya menduga kuat bahwa Singapura itu berasal dari kata “Singgah Pura” (Gerbang Persinggahan) atau mungkin juga “Singgah Port” (Pelabuhan Persinggahan). Tetapi demi gagahnya, maka kata singgah itu pun berubah menjadi “singa”.
Kembali ke nama “Indonesia”, kata itu sebetulnya dapat berarti “Pulau India”, suatu sebutan yang kurang sedap. Walau pun tentu jauh dari maksud merubah nama negara, tapi saya sebetulnya kurang puas dengan nama itu.
Berbeda dengan Cina dan Jepang, nama “Indonesia” tidak memberikan semangat dan makna tentang kegagahperkasaan apa pun juga. Kata “Pulau India” tadi bahkan membuat saya kadang-kadang frustrasi.
Kalau kata di atas tadi tidak dapat dibanggakan, maka jelaslah bahwa kita perlu mencari kebanggaan yang lain. Apakah dengan cara membangun ekonomi? Mungkin juga bagitu. Suatu hal yang jelas, suatu bangsa yang tidak memiliki kebanggan pastilah akan menjadi bangsa yang lemah, dan kalau bukannya malah menjadi bangsa tidak percaya diri.
March 15th, 2008 at 4:13 pm
Ass.wr wb.
Benar itu, Bang. Saya juga rasanya nelangsa dengan tak ada sama-sekali kegagahperkasaan RI. Kalo sedang di negara orang, saya jadi serba salah saking malunya hendak memperkenalkan kebangsaan. Lebih parah lagi, sebagai anak yang lahir dan besar di Jakarta saya tidak bisa berbahasa daerah, jadi saya pun sungkan mengaku-aku suku asal saya.
Apa perlu digagas semacam gerakan nasional untuk itu semua ya?
Perairan luas di Selatan kita itu pun bernama Samudera Hindia. Di masa kemerdekaan (mungkin di zaman Orba) ada semangat untuk menyebut samudera tadi dengan nama Samudra Indonesia. Tapi nama itu hanya dikenal dan digunakan oleh pelajar dan guru-guru di sekolah. Kalau kita berlayar dan membeli peta pelayaran, tak akan kita temui nama Samudra Indonesia, adanya India Ocean.
March 16th, 2008 at 8:34 am
Buat Rekan Cokk:
Tentang perlunya gerakan nasional untuk mengangkat derajat bangsa ini, saya rasa hal ini merupakan suatu keharusan. Saat berbicara tentang Wawasan Kebangsaan di LEMHANNAS (papernya saya posting di blog ini), saya juga mengyingggung masalah ini. Namun begitu, saya sadar bahwa pengangkatan derajat serta gengsi bangsa tentulah harus dimulai dari berbagai aspek.
Untuk menyebutkan contoh bagi hal di atas, jika Perusahaan Kereta Api kita berupaya keras memproduksi gerbong kereta api di dalam negeri, tapi Menneg BUMN kita (dalam periode yang lalu) tidak mendukungnya dan malah membeli gerbong dari India, maka mana mungkin industri Kereta Api kita akan maju?
Jika PT PAL sanggup membuat kapal-kapal perang jenis tertentu, tapi pihak yang berwenang di Pemerintahan (Eksekutif) lebih senang memesan dari Korea Selatan atau negara lain (dan bahkan sekedar untuk turun mesin saja pun), maka mana mungkin PT PAL akan maju? Hal yang sama tentu juga dialami oleh PT DI, PT Pindad dan lain-lain.
Jika contoh di atas diperluas lagi, jika perajin sepatu kita di Cibaduyut setengah mati berjuang membangun industri sepatu, tapi pemerintah tidak berbuat banyak (kecuali sekedar membuat patung sepatu di sisi jalan), maka mana mungkin industri sepatu kita akan maju?
Kemudian, jika usaha garmen kita juga berbuat banyak, tapi aparat berwenang membiarkan impor-impor gelap (sampai ke mukenah dan pakaian dalam dari Cina) terus berjalan, bagaimana mungkin industri garmen kita bisa bertahan?
Lebih jauh lagi, jika bangsa kita (masyarakat luas) tetap mengidap semacam penyakit mazohistik (yaitu, rasa nikmat dengan mencaci-maki, mencerca serta menyakiti diri), maka mana mungkin bangsa ini akan maju?
Penyakit mazohistik yang saya maksud di atas adalah gejala kejiwaan yang mirip dengan perilaku (maaf) sex maniac, di mana orang merasa semakin bernafsu atau penuh gairah dengan saling memukuli dan dipukuli dengan pasangannya, dengan mengikat atau saling diikat dengan tali, saling menyiram dengan lilin panas, saling menciumkan sepatu busuk dan seterusnya. Singkat kata, bangsa kita senang menghina dan mentertawakan diri sendiri, dan merasa nikmat dengan perbuatan itu. Sebagai misal, mentertawakan pesawat buatan IPTN yang sering disebut sebagai pesawat buatan Pak Habibie itu.
Saya mungkin akan menulis secara khusus tentang persoalan di atas dan akan posting di blog ini agar penyakit yang diidap bangsa ini menjadi jelas dan disadari banyak orang. Tentu dengan harapan agar hal ini akan sanggup diperbaiki.
Kembali ke masalah industri di atas tadi, saya dan kawan-kawan di Komisi I DPR (walau pun secara kecil-kecilan) sudah mulai bergerak mencari solusi. Agar tidak ada saling tuduh atau mis-komunikasi, dalam waktu dekat ini kami akan mengundang PT DI, PT PAL, PT PINDAD, LEN dan lain-lain ke Komisi I dan menghadapkannya dengan Dephan/TNI.
Dengan langkah di atas kami berharap kedua pihak akan saling tahu apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan oleh masing-masing PT ini. Kemudian, kami akan mendorong Dephan/TNI untuk menggunakan jasa perusahaan-perusahaan ini dalam membangun industri senjata atau industri strategis lainnya.
Jika dalam langkah membeli atau memesan produk-produk dari luar di atas ada komsisi, maka langkah saya dan kawan-kawan dapat bermakna “menutup rezeki orang”. Langkah ini lumayan berbahaya dan berisiko. Apa lagi, saya bukan berhadapan dengan orang sipil. Tapi saya akan melakukannya demi negeri ini dan demi tugas saya.
Di kepala saya, sebetulnya amat banyak ide dan mimpi-mipi untuk membangun negeri ini. Kepulangan saya ke negeri ini sekitar lima tahun yang lalu pun adalah untuk mewujudkan mimpi-mimpi ini. Walau pun, tentu saja segalanya memang tidak mudah.
Sekarang ini saya hanya seorang anggota DPR, yang kebetulan menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi I untuk Bidang Pertahanan, suatu poisisi yang bukan amat kuat dan menentukan di Republik ini. Dalam pemilu yang akan datang, apakah saya akan terpilih lagi atau tidak, hal ini pun merupakan pertanyaan pula bagi diri saya. Yang saya maksud di sini tentu adalah posisi dalam kaitan yang memungkinkan saya untuk dapat berbuat bagi negeri ini, dan bukan posisi untuk mencari makan.
Akan tetapi apa pun adanya, dalam masa sekitar tiga tahun menjabat sebagai wakil rakyat, saya berusaha sekuat mungkin untuk berbuat bagi negeri ini. Semoga langkah ini mendapat ridho dari Allah dan semoga saya pun didoakan oleh banyak orang.