Hubungan Indonesia-Malaysia: Politik Kon-frontasi “Ganyang Malaysia” (Bagian ke-2)

Posted by Yusron Ihza on February 4th, 2008 filed in History, Politics
269 views

Hei kawan-kawan; Mari masuk Sukarelawan; Mengganyang Pak Tunku Abdurraham; Boneka Inggris Kayak Dakocan”.  (Syair lagu masa lalu).

“Ganyang Malaysia”

Seperti telah dibahas pada bagian pertama tulisan ini, Politik Konfrontasi “Ganyang Malaysia” yang dilakukan Presiden Sukarno memang belum terjawab secara jelas, yaitu apakah hal itu didasari ambisi wilayah, ataukah memang merupakan “politik pembebasan saudara muda oleh saudara tuanya”. Suatu hal yang jelas, Presiden Sukarno menilai Malaysia adalah negara boneka buatan Inggris yang merusak dan mengancam kedaulatan Indonesia.

Adanya istilah Nekolim (neo-kolonialisme, alias penjajahan gaya baru) yang sering disebut-sebut Presiden Sukarno di masanya, adalah bukti tentang bagaimana dia memandang Malaysia pada kurun waktu itu. Bahwa Presiden Sukarno menilai Malaysia sebagai negara boneka hal ini masih terlihat, sebagai misal, dalam syair lagu yang saya kutip dan letakkan di awal tulisan ini. Malaysia, kata Presiden Sukarno adalah “Boneka Inggris [yang] kayak dakocan, yaitu boneka Jepang yang terkenal di Indonesia saat itu.

Lebih lanjut, akan halnya Nekolim, Presiden Sukarno pun melukiskannya dalam syair-syair lagu menarik, yang ramai dinyanyikan di masa itu. Betapa pun iPod, CD, tape recorder, dan bahkan teknologi radio transistor belum ditemukan Jepang pun, namun radio listrik “tempo doeloe” cukup menjadi alat yang lumayan. Pada masa kanak-kanak, saya sering mendengar lagu-lagu masa konfrontasi itu melalui radio listrik merek Robin kepunyaan kakek saya, atau juga radio Phillip milik ayah saya. Dari rekaman yang ada di kepala saya, misalnya, saya masih ingat syair seperti berikut:

“Tukang sayur bernama Salim; Berjualan di pasar Lembang; Indonesia anti nekolim; Para seniman ikut berjuang”.

Foto : http://kbistari.uum.edu.my, Tunku AbdurrahmanSejauh yang saya lihat, hiruk-pikuk tentang politik “Ganyang Malaysia” memang sungguh luar biasa. Saya masih ingat bahwa seseorang di kampung saya yang bernama Kamaruddin membuat patung Tunku Abdurrahman dengan kerangka bambu. Patung itu dibalut dengan kertas dan kemudian dilukis. Kamaruddin  tak lupa memasang kacamata dari kawat pada wajah patung Tunku Abdurrahaman yang memakai peci itu. Patung setinggi sekitar tiga meter itu kemudian diarak ke sebuah lapangan upacara pada tanggal 17 Agustus dan dibakar, dan diiringi dengan yel-yel “Ganyang Malaysia”.

Hiruk-pikuk politik Ganyang Malaysia di atas masih diramaikan pula oleh kesibukan orang-orang kampung saya untuk melakukan latihan tempur, latihan bahaya serangan udara, dan sebagainya.

Pada malam-malam tertentu, semua penduduk harus mematikan lampu saat sirine berbunyi. Saat itu semua penduduk harus masuk ke lobang persembunyian yang dibuat masing-masing, satu lobang besar untuk satu keluarga. Lobang ini dibuat atas perintah aparat setempat.

Saat peristiwa di atas terjadi, saya mungkin masih berumur sekitar lima tahun. Saya sering menyaksikan para Hansip berlatih rangkak buaya dengan membawa senapan kayu di belakang rumah. Kadang-kadang mereka berbaris dengan menyanyikan lagu mars dengan syair sebagai berikut:

“Bulat semangat tekad kita; barisan sukarelawan Indonesia, siap bertempur, ke medan tempur;  dia menyerang, kita ganyang pantang mundur …”

Mengenai  lobang di atas, saya pernah bertanya kepada Ibu tentang mengapa lobang itu harus dibuat dan mengapa kami harus masuk ke situ. Ibu saya menjawab dengan canda bahwa Indonesia akan perang dengan Malaysia. Karena itu, kata Ibu, jika kita dan orang-orang kampung ini mati, maka tak susah lagi menguburnya karena kita sudah di lobang kubur besar itu.

Konfrontasi Berakhir

Soekarno dan SoehartoBagaikan ungkapan yang mengatakan bahwa manusia hanya dapat berbuat tapi Tuhan yang menentukan, Politik Konfrontasi “Ganyang Malaysia” di atas ternyata berakhir begitu saja. Semuanya berakhir bagaikan tanpa mempedulikan bahwa Inggris, menurut sebuah kabar, telah mengerahkan kekuatan terbesarnya di Asia untuk melindungi Malaysia. Berakhirnya konfrontasi tadi juga seperti mengabaikan para Hansip yang berlatih dengan senapan kayu di atas, dan bahkan mengabaikan saya yang telah beberapa kali latihan masuk ke dalam “lobang kubur besar” tadi.

Sisa-sisa persiapan perang itu masih ada di kampung saya, termasuk bekas-bekas tiang antena radar, antara lain di Sungai Padang. Adanya persiapan yang serius ini terutama sekali, karena kampung saya (pulau Belitung) memang dijadikan sebagai penangkal serangan udara terkuat untuk melindungi Jakarta. Sampai taraf tertentu, pulau yang mengapit Selat Karimata ini mungkin pula digunakan sebagai pertahanan Angkatan Laut kalau-kalau kapal perang Inggris atau Malaysia lewat disana dalam perjalanan menyerbu ke pulau Jawa.

Berakhirnya Politik Konfrontasi “Ganyang Malaysia” itu terjadi secara serta-merta. Sebabnya relatif sederhana,  yaitu Rezim Sukarno mengalami kejatuhan menyusul kudeta PKI tahun 1965, yang kemudian disusul dengan naiknya Suharto sebagai Presiden Indonesia …

Photographer: George Snow<br>  Date Photographed: June 1956Di bawah Presiden Suharto, arah kebijakan politik Indonesia praktis berubah sama sekali. Jika di masa Presiden Sukarno Indonesia lebih condong ke negara-negara komunis (Cina dan Soviet Uni), maka di zaman Presiden Suharto Indonesia lebih condong ke Amerika.

Dalam suasana Perang Dingin, dimana Amerika mencemaskan seluruh kawasan Asia jatuh ke tangan Komunis (sesuai  Teori Domino yang dipercayai Amerika kala itu), lahirnya pemerintahan Presiden Suharto mungkin merupakan berkah yang luar biasa bagi Amerika.

Seperti dimaklumi, segera setelah memerintah, Presiden Suharto melakukan normalisasi hubungan Indonesia-Malaysia. Tak hanya itu, sebuah organisasi regional bernama ASEAN (dimana Malaysia menjadi salah satu anggotanya) pun dibentuk, yang langsung atau tidak, akan menyulitkan Indonesia melanjutkan penyatuan Indonesia dengan Malaysia. Ibarat ungkapan masa sekarang, jika tindakan itu dilakukan, maka ini akan sama seperti “jeruk makan jeruk”.

Kembali ke lobang persembunyian yang disebut sebelum ini, saya merasa lucu jika mengingat bahwa lobang-lobang persembunyian itu akhirnya dijadikan orang sebagai tempat membuang sampah dan juga untuk menanam pohon pisang. Tapi, syukur pula bahwa jasad ini tidak terkubur di lobang itu sehingga saya sempat bercerita tentang kisah Politik Konfrontasi “Ganyang Malaysia” itu dalam tulisan ini.
 



Print This Post Print This Post
Page copy protected against web site content infringement by Copyscape
JANGAN ASAL COPY-PASTE karena BLOG JUGA ADALAH HASIL KARYA CIPTA. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemilik karya atau paling tidak menyebutkan sumber asal URL tersebut. Hitung-hitung bersilaturahmi dan memperluas perkawanan dan persaudaraan.

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5 out of 5)
Loading ... Loading ...

12 Responses to “Hubungan Indonesia-Malaysia: Politik Kon-frontasi “Ganyang Malaysia” (Bagian ke-2)”

  1. Nanik Says:

    Tidak salah jika (almarhumah) Ibu Tien pernah menyebut (almarhum) Pak Harto sebagai pria tampan…

    Kami pun yang masih muda berpendapat sama setelah melihat foto di atas.

  2. Yusron Ihza Says:

    Buat Rekan Nanik:

    Betul, saya pun berpikir begitu. Dia tampan dan selalu tersenyum.

  3. Siska Says:

    Terima kasih atas kisahnya Pak. Beruntung sekali Pak Yusron, walau saat itu masih kecil, bisa menjadi saksi hidup atas situasi bersejarah tersebut. Saya sendiri bahkan belum lahir saat “konfrontasi” itu terjadi. Tapi mengingat situasi di Belitung yang chaos saat itu saya jadi penasaran, bagaimana ya keadaan di Jakarta? Apakah dibuat juga lobang – lobang persembunyian seperti yang Pak Yusron ceritakan tadi?

    Seandainya ada pembaca blog ini yang bersedia sharing, tentu amat dihargai.

    Thanks,

  4. Yudi Says:

    Dari beberapa artikel dan diskusi tentang kampanye “ganyang Malaysia” yang pernah saya baca, terkuak sebuah fakta yang cukup menarik tentang Pak Harto.

    Di dalam negeri, (Almarhum) Pak Harto selalu dihujat habis – habisan. Bahkan ketika tanah makam beliau masih basah sekalipun, sebagian orang terus menuntut agar kasus hukum mantan orang nomor satu Indonesia ini tetap dilanjutkan. Tetapi, bagi rakyat Malaysia pak Harto adalah pahlawan. Mereka amat bersedih atas wafatnya jenderal besar ini.

    Seperti Pak Yusron singgung sedikit bahwa berakhirnya konfrontasi Indonesia – Malaysia adalah karena naiknya Pak Harto menjadi Presiden RI, maka ini pun di-amini oleh penduduk Malaysia. Menurut mereka, tanpa Pak Harto, Malaysia tidak akan mampu menjadi Malaysia saat ini. Secara khusus, Pak Abdullah Badawi (PM Malaysia) bahkan mengajak ribuan orang di Auditorium Pusat Putrajaya untuk mendo’akan arwah Pak Harto sehari setelah kematiannya.

    Dari cerita di atas, maka sudah sepatutnya kita pun “tergerak” untuk menghargai legacy yang ditinggalkan oleh Pak Harto dan berdo’a agar arwah beliau mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan YME. Amin.

  5. Yusron Ihza Says:

    Buat Rekan Siska:

    Terima kasih juga karena telah sudi membaca kisah hubungan Indonesia-Malaysia yang cukup panjang itu untuk ukuran posting di sebuah blog. Saya sendiri lega karena sudah menuliskan ingatan yang tersimpan di kepala saya selama sekitar 40 tahun itu, yang mungkin berguna (walau tidak banyak) bagi orang lain.

    Sama seperti Anda, saya sendiri belum sempat mencari tahu tentang bagaimana keadaan di Jakarta pada masa-masa Politik Konfrontasi Ganyang Malaysia itu. Karena itu, betul juga yang Anda katakan bahwa akan menarik jika ada rekan pengunjung blog ini yang tahu tentang itu dan mau berbagi cerita.

    Buat Rekan Yudi:

    Betul yang Anda katakan bahwa Haji Muhamad Suharto (HMS) telah banyak melakukan karya-karya besar dalam hidupnya. Dia adalah tokoh besar. Kalau saya tidak salah baca, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun menaikkan bendera setengah tiang sebagai bela sungkawa atas kepergian HMS.

    Kita tampaknya memang harus belajar lebih banyak untuk menghargai orang lain; dan tidak boleh menentukan sikap hanya atas dasar gosip, desas-desus dan bahkan menghujat. Padahal, misalnya, kita tidak tahu duduk masalahnya dengan pasti.

    Tentang status hukum HMS, saya telah menulis masalah ini dalam beberapa posting, termasuk juga saat saya menjawab pertanyaan rekan pengunjung blog ini. Karena itu saya tidak mengulang kembali di sini.

    Sekali lagi, saya sepakat bahwa HMS harus dihargai. Dari sisi pribadi saya sendiri, setidaknya saya sadar dan cukup “mengaca diri” bahwa saya tidaklah terlahir ke dunia ini dengan kaliber kebolehan seperti yang miliki HMS. Karena itu, saya semakin salut dengan dia.

  6. Malik Says:

    Bang Yusron, artikelnya menarik. Saya baca seluruhnya, Bagian 1 - 4.

    Tapi ada yang lucu dari kisah Indonesia-Malaysia.

    Rakyat Malaysia rupanya juga menyimpan kemarahan terpendam terhadap Indonesia. Apa pasal? Ternyata, kabut asap akibat kebakaran hutan di Indonesia menyebabkan kerugian cukup besar bagi mereka. Mulai dari fisik (aneka penyakit) hingga kerugian ekonomi yang konon mencapai jutaan Ringgit. Ironisnya, mereka tidak bisa berbuat apa – apa terhadap Indonesia.

    Pernah ada rencana mau memboikot produk – produk Indonesia yang masuk ke Malaysia. Rencana ini gagal karena hanya ada 1 jenis produk dalam daftar impor mereka.

    Ingin demonstrasi di depan KBRI di Kuala Lumpur juga tidak mungkin mengingat jumlah TKI yang datang ke sana setiap hari mencapai ribuan. Kalah suara mereka.

    Mau “tembak” langsung Indonesia pun tidak mungkin. Bukan apa – apa, masyarakat Indonesia percaya bahwa sebagian besar dalang illegal logging yang menyebabkan kebakaran hutan adalah cukong – cukong Malaysia. Jadi, tahu sendiri akibatnya jika mereka berani “menggonggong” kepada kita.

    Walhasil, Malaysia hanya bisa pasrah dan menahan marah. Pernyataan “Ganyang Indonesia” tidak pernah terucap dari bibir mereka.

  7. Ken Says:

    Foto Bung Karno dengan Marilyn Monroe benar – benar keren!

    Entah siapa yang harus dikatakan beruntung saat itu: BK atau MM?

    Yang jelas, BK adalah seorang flamboyan sejati yang hidupnya selalu dikelilingi wanita cantik. Sementara MM adalah bintang Hollywood papan atas dan “sex icon” yang hingga kini belum ada tandingannya, baik dalam hal kepopuleran maupun daya tarik.

    Mantap…

  8. Yusron Ihza Says:

    Buat Rekan Malik:

    He2x, kisah Anda menarik juga. Kebetulan saya pernah pula menyaksikan kabut asap itu saat saya di Kuala Lumpur pada suatu hari. Lumayan membahayakan paru-paru dan pernafasan.

    Tentang kemungkinan warga Malaysia sulit demo di KBRI Kuala Lumpur, itu mungkin juga. Walau pun tidak tertutup pula kemungkinan bahwa mereka dapat mengerahkan demonstran dalam jumlah yang lebih besar.

    Dalam hal asap tadi, kemungkinan penyebabnya mungkin ada dua. Selain kebakaran hutan, ada pula yang disebabkan karena masyarakat kita membakar hutan untuk pertanian (membuat ladang atau huma).

    Tapi apa pun masalahnya, sikap warga Malaysia yang tidak “Ganyang Indonesia” tadi, tentu perlu menjadi perhatian kita semua.

    Buat Rekan Ken:

    Terima kasih. Saya sengaja memilih foto itu, walau saya juga punya foto-foto BK dengan petinggi-petingggi dunia.

    Dengan memasang foto wanita cantik sekaliber itu, mungkin kesan bahwa blog saya terlalu “berat” dan “serius” ini bisa dinetralisir sedikit. Apa lagi, kecantikan (dan juga kegantengan) adalah ciptaan Tuhan pula.

    BK dan HMS (Haji Muhamad Suharto) tak saja hebat memerintah, tapi juga ganteng dan gagah. Saya bangga.

  9. Junarto Says:

    Siapa pemenang Konfrontasi? Malaysia.

    Jangan remehkan bangsa muda ini, mereka sungguh cerdik. Merdeka 1957 tanpa perang. Menang konfrontasi 1965 tanpa perang. Merebut Sipadan tanpa kekerasan.

    Hilter berkata, “Seandainya saya jenius, saya akan menaklukkan Eropa tanpa perang.”

    Dan Malaysia berjaya mengalahkan Indonesia tanpa perang. Sedangkan bangsa kita lebih suka tawuran.

  10. Yusron Ihza Says:

    Buat Rekan Junarto:

    Sebuah komentar yang bagus. Di luar problema hubungan antar kedua bangsa, saya melihat bahwa dalam tahun-tahun terakhir ini Malaysia tampak memang lebih terarah dan handal dalam strategi membangun negerinya.

    Di koran “Berita Harian” yang saya baca di pesawat Malaysian Airlines (MH) dalam transit saya dari Eropa ke Jakarta sore tadi, ada berita menarik. Dikatakan, Amerika Serikat pun kini mencontoh cara Malaysia (saat krismon) dalam mengamankan dollar yang terus merosot sekarang ini. Mungkin Malaysia memang memiliki beberapa kehandalan.

    Dalam hubungan Indonesia dan Malysia, saya pun sering terpikir, kalau kita memang merasa dihina oleh Malaysia karena kelemahan-kelemahan kita, mengapa kita tidak justru memperbaiki diri kita.

    Masalah Indonesia-Malaysia tidak akan terselesaikan hanya dengan cara saling menghina, merendahkan, dan saling menyalahkan.

  11. taufik Says:

    hahaha
    keren artikelnya bung…
    lagi hunting tentang Soekarno malah nyangkut disini..
    barusan saya liat di tv swasta yang nyiarin wawancara antara Cindy Adams sama Soekarno, sekarang adalah hari meningglanya Soekarno pd taun 70..aduh malah jadi ingin hunting video2 pidato atau wawancara atau apaun yang pasti ada sukarnonya.aku rindu denganmu Tuan..(dimana yah kira2 dapat quality bagus selain di youtube,kalau tau tolong donk kkrm linknya ke email ..nuhun)

    tapi masalha dengan malaysia sih gak akan ada habisnya,malaysia nih masih butuh sama indonesia sih, setelah dia gak butuh pengajar dari indonesia dia masih butuh juga alam sama TKI kita yang giat bekerja…tp yang gak habis pikir segelintir orang di malaysia suka banget ngehina orang indonesia (kerasa waktu saya ada disana) kesannya org Indonesia ini gak ada apa2-nya. ugh tapi pas sepupu saya yang tinggal dan besar di malaysia ( salah satu pencaci Indonesia juga) terperangah setelah melihat Indonesia ini yang semrawut tapi “menyenangkan”, salah satunya yaitu kekeluargaan & kemasyarakatn yang kuat, dan tentunya alam kita ini yang keren banget view-nya… (sesudah itu dia gak pernah menyebut Indon lagi, tapi menjadi Indonesia dengan lengkap. (YES !!!)

    kata orang sunda sih orang malaysia ini PO-BOX (diPOyox dileBOX) alias dihina tapi dimakan….

    sebagai pemuda Indonesia saya pun tetap cinta indonesia meskipun negara lain lebih bersih, tertib dan aman , dulu saya 2 bulan ke luar negeri dengan kesenagan disana, tapi tetep aja rindu pulang ke Indonesia Tercinta..
    yang pasti sekarang ini kami para pemuda yang sering online di MYSPACE.COM, selalu mendapatkan comment dari org luar bahwa Indonesia ini indah, juga kamipun tidak ketinggalan kasi comment balik bahwa indonesia Ini Aman dan menyenangkan… ( pak menteri jangan berangus keleluasan kami di Internet)

    idih Soekarno ama Marilyn Monroe(bikin iri)

    santai aja deh malaysia ini pun nantinya pasti kena batunya juga karena kesombongan mereka.. yang pasti kita masyarakat Indonesia harus diperbaiki Kedisipilinannya untuk mengejar ketertinggalan dari negara lain…
    GO INDONESIA

  12. Yusron Ihza Says:

    Buat Rekan Taufik:

    Terima kasih karena telah mampir di blog ini. Sama seperti Anda, saya pun mempunyai kecintaan yang amat besar terhadap negeri. Kecintaan ini menjadi salah satu alasan penting saya untuk kembali ke negeri yang telah 13 tahun saya tinggalkan ini.(Saya kembali sekitar lima tahun yang lalu).

    Saya meyakini bahwa kita memiliki hampir segala potensi untuk maju, walau pun nyatanya kita belum juga maju. Akhirnya bangsa kita bahkan cenderung menjadi bangsa santo-loyo serta terhinakan. Tentu juga, dalam kaitan hubungan kita dengan Malaysia.

    Suatu hal yang penting, secara pribadi, saya masih tetap mempunyai mimpi bahwa kita akan maju. Atas dasar ini, sebagai politisi, saya mencoba berpikir dan berbuat ke arah itu.

    Mari kita berdoa dan berbuat bersama-sama menuju ke arah di atas.

    Tentang Sukarno, saya rasa Depkominfo mungkin masih menyimpan dokumen-dokumen tentang Sukarno yang dudlunya ada di Deppen.

    Terima kasih.

Leave a Comment