Hubungan Indonesia-Malaysia: Masalah Kebu-dayaan (Bagian ke-3)
Posted by Yusron Ihza on February 4th, 2008 filed in History, Politics515 views
“Terang bulan, terang di kali; Buaya timbul disangka mati; Jangan percayalah mulut lelaki, berani sumpah tapi takut mati”. (Syair lagu Kebangsaan Malaysia masa lalu).
Jika di masa lalu Indonesia mempu-nyai pemimpin besar bernama Suharto, maka Malaysia pun mempunyai pemim-pin besar pula yang bernama Mahathir Muhamad. Kedua tokoh ini sama-sama berjuang untuk membangun dan memakmurkan masing-masing negeri melalui pembangunan di bidang ekonomi.
Kedua negara, sampai taraf tertentu memang berhasil melakukan pembangunan ekonomi di atas. Akan tetapi saat Krisis Monter (Krismon) melibas Asia pada akhir tahun 1997, maka ekonomi Indonesia pun porak-poranda. Dalam suasana gundah-gulana ini pun, para pekerja Indonesia (TKI) yang sejak sebelumnya telah banyak bekerja di Malaysia menjadi semakin membludak lagi. Angka resmi TKI ini adalah 400 ribu orang, tapi angka real sekarang ini mencapai 2,4 juta orang, alias sekitar 10% dari jumlah penduduk Malaysia.
Berbeda dengan Malaysia, Indonesia yang mengalami akibat lebih parah dari Krismon di atas dan tidak segera dapat mengalami suatu “recovery” tampak semakin terpuruk dalam berbagai krisis, termasuk krisis ekonomi akibat krismon tadi. Indonesia yang alamnya kaya raya itu tiba-tiba saja menjadi bangsa yang miskin, atau paling tidak, menjadi bangsa yang semakin miskin lagi. Jika diingat bahwa sebelum Krismon US$ 1 senilai dengan Rp 2.400.-. tapi kemudian amblas ke titik Rp 10.000, maka berarti bahwa pendapatan per kapita rakyat Indonesia amblas lebih dari seperempat kalinya.
Akibat yang jelas dari persoalan di atas dalam kaitan dengan Malysia adalah bahwa citra Indonesia pun ikut amblas pula. Indonesia dalam pandangan kebanyakan rakyat Malaysia sekarang ini adalah identik dengan TKI.
Saya sendiri sebetulnya bukan tidak pernah merasakan pengalaman pahit di Malayia. Beberapa tahun yang lalu, ketika saya transit sekitar 6 jam di Kuala Lumpur dalam perjalanan menuju Tokyo, saya menilpon seorang kawan akrab Malaysia semasa saya sekolah di Jepang. Menilpon ini semata-mata saya lakukan untuk mengatakan “halo dan apa kabar” kepada teman itu, dan saya ingin mengatakan bahwa saya transit di Kuala Lumpur tapi tidak sempat menemuinya.
Tetapi apa yang saya alami ternyata amat menyakitkan. Ibu teman di atas, yang tidak kenal saya (saya menilpon ke rumah), mengatakan bahwa “ah, kalau dengan Indon, tak mau cakap-lah. Engkau numpang tido, numpang makan, payah-lah kami …”.
Saya berang dan sakit hati terhadap sikap Ibu kawan saya di atas, tapi tetap menahan diri. Dalam hati saya berkata, sehebat apakah rumah engkau, wahai nenek gila. Jangan-jangan rumah, piring beserta perabotan dapur dan tempat tidur kamu (dan bahkan kamu-nya sendiri) sanggup saya beli dengan uang saya yang ada kala itu …
Citra sebagai bangsa miskin memang sangat tidak menguntungkan. Banyaknya OKB (orang kaya baru) di Malaysia dan setiap harinya banyak berinteraksi dengan TKI yang berjumlah 10% dari penduduk Malaysia seperti dikatakan di atas tadi, ada kalanya pongah. Semua orang Indonesia, seperti yang juga disebut sebelumnya, mereka pikir adalah sama dengan para TKI itu. Orang Indonesia yang merasa dirinya sebagai korban penghinaan ini, cenderung mudah naik darah, dan kadang-kadang bereaksi (maaf) secara agak berlebihan.
Saat seorang wasit karate Indonesia dipukuli polisi (akibat salah identifikasi) dan pemerintah Malaysia lambat meminta maaf, maka reaksi yang muncul di Jakarta pun tak kurang serunya. Bendera Malaysia, misalnya, dibakar oleh domonstran sebagai protes dan kebencian. Saat PM Abdullah Badawi menilpon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk meminta maaf, masyarakat pun masih berkomentar bahwa permintaan maaf melalui pembicaraan tilpon itu tidak cukup.
Saya sendiri merasa heran dengan sikap di atas. Saya pikir, apakah masyarakat kita akan menuntut bahwa Malaysia harus memasang bendera setengah tiang sebagai tanda duka-cita, dan dengan itu baru mereka merasa puas? Lalu, saya pun bertanya lagi dalam hati bahwa jika saja pemukulan itu terjadi atas pejabat tinggi Indonesia, apakah PM Abdullah Badawi perlu berguling-guling di Dataran Merdeka Kuala Lumpur, dan bahkan melakukan bunuh diri sebagai tanda maaf dan penyelesalan; dan dengan itu maka rakyat kita baru akan puas?
Saya merasa harus campur tangan dalam urusan di atas. Karena itulah maka saya memberikan komentar bahwa permintaan maaf PM Abdullah Badawi, pantas dipuji . Saya tentu bukan pro Malaysia dan bukan juga pro Indonesia, melainkan saya ingin besikap secara lebih adil dan wajar. Untuk insiden tadi, permintaan maaf oleh Kepala Kepolisian Diraja Malaysia pun mungkin sudah cukup, pikir saya.
Pernyataan saya di atas dikutip oleh berbagai media karena mungkin merupakan pernyataan langka di tengah orang-orang yang berang penuh angkara murka itu …
Insiden demi insiden antara Indonesia dengan Malaysia memang cukup sering terjadi, sejak klem-mengklem atas pulau sampai ke masalah-masalah seni dan budaya. Dalam kaitan ini, kita tentu mencatat tentang lagu Rasa Sayange, lagu Burung Kakak Tua, Seni Tari dan lain-lain yang dinilai telah “diambil” oleh Malaysia.
Insiden seperti di atas, sebetulnya bukan sebuah cerita baru. Lagu Terang Bulan yang saya kutip dan tempatkan di awal tulisan ini, yang pernah menjadi lagu kebangsaan Malaysia di masa lalu itu pun juga pernah menjadi masalah. Indonesia menganggap lagu itu milik Indonesia, yang kemudian mendorong Malaysia menukar lagu kebangsaan mereka dengan yang lain.
Sebuah situs di website yang mungkin berang terhadap kelakuan Malaysia dalam “mengambil” seni budaya Indonesia di atas bahkan telah mengganti nama Malaysia menjadi “Malingsia”. Saya sendiri, dalam komentar di Media , pernah menyebut Malaysia sebagai bangsa “umang-umang”, yaitu sejenis binatang laut yang sering memungut kulit kerang untuk dijadikan sebagai kulit bagi dirinya.
Akan tetapi, setelah dipikir-pikir lebih dalam, saya pun mulai bertanya pada diri bangsa kita tentang hal mirip yang kita lakukan dan kini dilakukan Malaysia. Dalam hal tari-tarian dan musik (terutama di Bali), bukankah kita juga mengambil kebudayaan itu dari India? Dalam hal kisah Ramayana dan juga patung-patung ukiran, bukankah itu juga berasal dari India? Saya bahkan sempat terpikir dengan kain sarung kita, yang mungkin berasal dari Bangladesh atau Birma itu. Seandainya mereka mengklem bahwa kita mencuri sarung, apa jadinya? Saya sendiri kurang memiliki kegemaran memakai kain sarung, tapi masalahnya tentu bukan hanya persoalan saya, melainkan persoalan budaya bangsa ini.
Kalau kita (Indonesia dan Malaysia) berpkir secara lebih arif dan mendalam, maka jelaslah bahwa sudah merupakan takdir kedua bangsa ini untuk hidup berdampingan. Walau kita menyukai atau membenci, posisi geografis kita akan tetap seperti ini. Kita menutup mata atau Malaysia menutup mata karena tidak saling mau melihat pun, misalnya, Malaysia tetap ada di sana dan kita ada di sini.
Mengingat keadaan di atas, dan terutama pula bahwa kedua bangsa ini sebetulnya adalah bangsa yang dulunya pernah bersatu, maka apakah tidak ada suatu jalan menuju kearifan yang akan menguntungkan, baik kita atau pun mereka?
Pertanyaan-pertanyaan seperti di atas memenuhi kepala saya, termasuk juga pertanyaan sebagian para OKB di Malaysia yang tidak mengerti sejarah sama sekali. Apakah kekayaan ekonomi yang baru saja dicapai itu harus mengakibatkan berdirinya tembok yang tinggi yang memisahkan hati kedua bangsa di negeri ini? Tapi sebaliknya pula, saya pun bertanya bahwa jika saja kita lebih kaya dari Malaysia dan sekiranya 10% penduduk kita adalah tenaga kerja Malaysia, maka apakah kita tidak akan sama pongahnya dengan sebagian penduduk Malaysia itu yang OKB itu?
Jalan kearifan tampaknya memang harus ditemukan, apa lagi masalah antar kedua bangsa ini memang tidak akan selesai hanya karena mengumpat dan memaki. Saya akan mencoba mencari solusi, atau minimal, ide awal yang mungkin dapat digunakan sebagai langkah penyelsaian atas persoalan ini.
Seri keempat, yang merupakan seri terakhir tulisan ini, akan membicarakan masalah ini.
Print This Post
JANGAN ASAL COPY-PASTE karena BLOG JUGA ADALAH HASIL KARYA CIPTA. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemilik karya atau paling tidak menyebutkan sumber asal URL tersebut. Hitung-hitung bersilaturahmi dan memperluas perkawanan dan persaudaraan.

February 5th, 2008 at 7:49 am
Bung Yusron,
Bagi saya, Anda adalah orang yang mampu berdiplomasi, berpembawaan tenang, berintegritas tinggi, vokal dan yang terpenting tidak asal bicara.
Kami senang mendengar komentar – komentar Bung Yusron, termasuk dalam tulisan tentang Malaysia kali ini. Bahasanya teratur, ekspresi tegas dan alur cerita pun jelas. Tidak ada kesan menggurui atau “asal – tembak” seperti banyak politisi yang lain.
Dalam kisah Indonesia dan Malaysia, selama ini yang sering diexpose penulis di Indonesia cenderung sisi buruk atau kelam hubungan dua negara. Padahal, ibarat sebuah koin yang selalu memiliki dua sisi, seharusnya kita melihat juga bagian positifnya.
Pemilu segera datang. Semoga kemampuan intelektual Anda dapat akomodasi dengan baik oleh pemerintah periode selanjutnya.
Maju terus Bung!
February 5th, 2008 at 10:38 am
Buat Rekan Jessi Anwar:
Terima kasih atas pendapat, komentar, dan doanya.
Saya merasa bersyukur jika tulisan saya memiliki sedikit kegunaan, minimal untuk saling berkomunikasi serta bertukar pikiran. Syukur-syukur pula jika komunikasi dan tukar pikiran itu dapat membawa penyegaran ide dan pencerahan pemikiran bagi kita semua.
Dari sisi saya, paling tidak, saya merasa banyak sekali mendapatkan manfaat melalui komunikasi di blog ini. Kadang-kadang saya mendapat info atau ide berharga yang mungkin tidak saya ketahui sebelumnya. Kadang-kadang saya pun merasa didorong untuk berpikir lebih dalam tentang sesuatu, terutama pada saat ada pertanyaan yang tajam dari rekan-rekan pengunjung.
Tentang pemilu, betul juga bahwa pemilu sudah dekat. Saya harus bertarung pula dalam perebutan suara di daerah pemilihan saya. Dalam kaitan dengan pemilu dan karier ke depan, niat saya sederhana saja, yaitu dengan harapan agar saya mendapat kesempatan berbuat lebih banyak lagi bagi negeri ini. Terutama sekali, dalam menguji “hipotesa-hipotesa” alias pemikiran-pemikiran yang ada di kepala saya secara empirik di lapangan yang real atau nyata.
February 5th, 2008 at 1:09 pm
Sejarah Indonesia dan Malaysia memang begitu dekat. Tapi saya heran, kenapa sulit sekali mencari buku – buku atau artikel yang mengisahkan hubungan bilateral, terutama politik dan diplomasi, yang positif dan harmonis antara dua negara ini?
Yang banyak ditemui justru tulisan mengenai Politik Konfrontasi tahun 1963 – 1966, sengketa batas wilayah, masalah TKI, dsb. Apakah ini suatu isyarat bahwa hubungan Indonesia dengan Malaysia, yang dikenal sebagai “serumpun”, sesungguhnya selalu berada dalam kemelut?
February 8th, 2008 at 12:41 am
Terimakasih Pak untuk penjelasan penjelasan di blog ini, dapat membuka wawasan saya, saya setuju dengan tulisan Bapak, semula juga saya berfikir ada something wrong disebalik kemelut Malaysia Indonesia ini, mengapa selalu sisi negatifnya saja yang mencuat, namun sisi positifnya sangat minim bahkan tak terdengar, saya berpandangan bahwa maind set masyarakat kita ada yang salah dalam melihat dan menyikapi hubungan negeri Serumpun ini, di tambah pula pemberitaan media yang tidak bijak, bahkan cenderung destroiyer ( merusak ), genaplah sudah hubungan ini menuju pertikaian yang tak kunjung usai dan membawa kerugian bagi kedua belah pihak. bukankah malaysia yang dulu pernah belajar-nya di negeri kita, dan hari ini sebaliknya. mengapa kita tidak melihat bagaimana malaysia membangun negerinya dan akhirnya mereka bisa….,th 2020 target mereka dalam pencapaian kejayaan yang gemilang, paling tidak malaysia bisa membuktikan slogan melayu ” Tak Kan Hilang Melayu Dibumi”
Namun bagaimana dengan negeri kita ? ? , yang bahkan beberapa daerah tanah melayu hampir bangkrut melayunya.
ditunggu Pak, pemikiran pemikiran selanjutnya.
mohon maaf bila komentar saya salah dalam hal ini, mohon di beri pencerahan.
trims,
salam dari negeri Timah.( Dolly )
February 8th, 2008 at 9:32 am
Buat Rekan Dolly:
Sebagai sebuah ibarat, Melayu di Malaysia tampaknya memang mendayu-dayu menyuruh rakyat untuk kencang mengayu (h) perahu di dalam membangun negerinya. Mereka tampaknya fokus terhadap hal itu serta tidak ingin membuang energi untuk hal-hal yang kurang perlu.
Dalam pemberitaan tentang berbagai “perseteruan” Indonesia-Malaysia, koran-koran Malaysia relatif “adem-adem ayam” saja. Mungkin mereka menganggap hal itu tidak perlu menjadi menu yang dikonsumsi rakyat secara berlebihan atau bagaimana, saya sendiri tidak tahu.
Mungkin kalangan media massa Malaysia memegang prinsip bahwa dalam menyediakan atau menyumbang informasi untuk rakyat mereka harus amat berhati-hati. Sebab, jika salah-salah maka niat “menyumbang” informasi tadi bisa-bisa membuat suasana malah menjadi “sumbang”.
Kita (bangsa ini) tampaknya memang perlu meninjau cara kita berpikir atau cara memandang masalah. Kesalahan berpikir dan kesalahan cara dalam memandang masalah, bisa-bisa membuat kita (sebagai orang Melayu) memang betul-betul “melayu” alias “menjadi layu”.
February 8th, 2008 at 10:30 am
Buat Rekan Ned:
Betul yang Anda katakan bahwa buku-buku tentang hubungan Indonesia-Malaysia amat langka. Saya sendiri kurang tahu dengan pasti apa sebabnya.
Suatu hal yang amat jelas, jika buku-buku tentang hal di atas ingin digalakkan, maka kita (terutama peneliti dan ilmuwan Indonesia-Malaysia) memang harus menulisnya.
Dalam kaitan di atas, sekarang ini saya terpikir untuk melakukan pengecekan tentang apakah sebuah badan, katakanlah namanya “Lembaga Persahabatan Indonesia-Malaysia” telah ada atau belum. Jika belum ada, saya akan mencoba mensponsori berdirinya lembaga itu. Jika sudah ada saya akan mendorong lembaga itu untuk melakukan kajian-kajian yang relatif objektif dan membangun tentang hubungan serta masalah-masalah kedua negara.
February 8th, 2008 at 11:56 am
Thanks Pak.
Lembaga Persahabatan Malaysia - Indonesia sudah ada. Lembaga ini diketuai oleh politisi senior Malaysia keturunan Aceh, Y.B. Tan Sri Dato’ Seri Sanusi Junid.
Tapi hanya itu yang saya tahu. Tidak banyak liputan mengenai kegiatan lembaga ini.
Ned
February 8th, 2008 at 1:10 pm
Banyak berita di media yang telah menimbulkan kesalah-pahaman dan sakit hati. Melihat hal ini, saya rasa sudah saatnya bagi para jurnalis untuk mengurangi pemberitaan buruk dan sensitif dalam rangka memperbaiki hubungan bilateral Indonesia dan Malaysia.
Sajikanlah berita yang seimbang. Aspek positif dari hubungan antara kedua negara juga harus diberitakan ke publik. Misalnya, berapa banyak TKI yang berhasil membangun rumah di kampungnya dengan uang jerih payah bekerja di Malaysia, dsb.
February 8th, 2008 at 3:42 pm
Buat Rekan Tyas:
Saya amat setuju dengan Anda. Berita harus berimbang sehingga masyarakat dapat melihat masalah secara lebih objektif dan tidak berat sebelah.
Untuk hal di atas maka berita memang harus lebih fair dan berimbang serta tidak melihat setiap masalah hanya dari satu sisi.
Menu berimbang seperti di atas akan membuat masyarakat lebih sehat, pintar dan terdidik.
Salah satu tugas utama media massa, seperti pernah juga saya sebut di blog ini, memang mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itu, jika hal ini lebih mendapat perhatian dunia media massa, maka berarti mereka pun memenuhi fungsi ini.
Saya gembira dengan mulai munculnya ide atau kemontar-komentar yang menyoroti masalah di atas dalam blog ini. Semoga hal ini menjadi salah satu jalan menuju pencerahan bagi masyarakat negeri ini.
February 8th, 2008 at 3:48 pm
Buat Rekan Ned:
Terima kasih atas info tentang Lembaga Persahabatan Indonesia-Malaysia. Jika lembaga itu memang sudah ada, maka jelaslah bahwa seharusnya lembaga itu berperan banyak dalam hubungan kedua bangsa.
Saya akan mencoba mencari tahu lebih dalam tentang apa saja kegiatan lembaga itu, termasuk juga berbicara dengan mereka. Mungkin saya akan menilpon Dubes Malaysia untuk masalah ini.
March 6th, 2008 at 8:11 pm
Saya pikir, sebaiknya kita perang saja dengan Malaysia.
March 7th, 2008 at 3:54 pm
Buat Rekan Jenderal_Darwin:
Jika persoalan masih dapat diselesaikan dengan cara damai, mengapa harus perang?
Dalam menyelesaikan masalah, penggunaan energi secara effisien tentu diperlukan. Perang adalah sesuatu yang penuh resiko dan pasti meminta korban, baik nyawa atau pun beban-beban lain, termasuk beban ekonomi.
Kalau mau perang, anggaran pertahanan tentu harus ditingkatkan. Padahal, saat ini Pemerintah (bukan DPR) memotong anggaran hampir semua Departemen sekitar 15% sebagai akibat kesulitan dana dalam APBN.
April 29th, 2008 at 9:31 am
Saya seorang PNS di instansi pemerintah (departemen). Sejak masih SMA saya sudah tertarik dengan sejarah hubungan RI dan Malaysia. Yang paling menarik untuk disimak bahwa pada saat ORBA masih berkuasa, hubungan bilateral RI-Malaysia ini sangat mesra ibarat hubungan saudara yang saling membantu. Tetapi ketika kaum tua sudah mulai tidak berkuasa dan digantikan dengan generasi selanjutnya, mulai terjadi pergeseran hubungan dan perubahan cara pandang antara rakyat ke dua negara.
Yang satu mengatakan, Malaysia adalah kumpulan OKB, penyiksa manusia. Bahkan ada pameo nyawa kucing lebih berharga dari TKI. Atau, Malaysia negara yang tidak tahu balas budi sudah dibantu agar golongan bumiputera bisa sejajar dengan etnis lainnya di negaranya, atau infarastrukturnya tidak akan jadi kalau tidak ada TKI, baik dari yang tenaga ahli sampai buruhnya. Sementara itu, orang Malaysia berpandangan bahwa orang Indonesia itu adalah TKI semuanya, troubel maker, penjahat, miskin, bodoh, tertinggal, buta teknologi dan lain sebagainya.
Saya teringat ketika saya berkunjung ke Malaysia dalam rangka tugas untuk memberikan pelatihan budidaya perikanan. Ketika di imigrasi petugasnya bertanya, tujuan apa encik disini, dan saya jawab saya goverment employe dan kesini dalam rangka kerjasama untuk memberikan pelatihan budidaya perikanan. Petugas imigrasi menjawab dengan jawaban yang cukup bikin kuping panas: Kita disini sudah maju dan pintar, tak usah diajari apalagi dengan orang Indon. Saya kaget tapi tidak diambil pusing.
Saya tetap berpikiran positif bahwa tidak semua rakyat Malaysia seperti petugas imigrasi tersebut. Pasti masih ada yang lain yang bisa melihat hubungan kedua negara dengan hati yang jernih, dan begitu juga di Indonesia.
Mungkin yang dibutuhkan adalah kerjasama yang bisa meningkatkan hubungan kedua negara kearah yang positif.
May 8th, 2008 at 12:14 am
Buat Rekan Kevin:
Saya sepakat dengan Anda bahwa seiiring dengan “kebangkitan” ekonomi Malaysia dan “kejatuhan” ekonomi kita sekitar masa-masa krismon — dan juga seiiring dengan pergantian rezim dan generasi — suatu perubahan hubunganan dan pandangan antar kedua bangsa tampak semakin mencolok.
Saya merasa bahwa persoalan di atas adalah persoalan yang tidak boleh dibiarkan karena akan membawa kerugian bagi kedua bangsa. Saya juga yakin bahwa kesalahan (jika boleh disebut begitu) ada pada kedua belah pihak. Masalahnya adalah, bagaimana masalah itu dapat diselesaikan dan bagaimana agar kedua pihak tidak saling menyalahkan.
Di antara sesama politisi (Malaysia dan Indonesia), kami sering membicarakan masalah di atas dan berupaya mencarikan jalan. Di kalangan sebagian politisi kedua negara, ada semacam kesepakatan secara pribadi untuk segera berbicara (bahkan melalui SMS sekali pun) jika ada hal-hal yang mendesak. Sifat saling menghina dan merendahkan, tampaknya tidak ada di kalangan politisi atau petinggi pemerintah kedua negara.
Sebagai salah satu cara meningkatkan saling pengertian, kalau tak salah, sejak beberapa tahun ini pemerintah Malaysia mengadakan program mengundang para wartawan Indonesia secara berkala ke Malaysia. Mereka juga mengundang para anggota parlemen kita untuk tinggal di Malaysia selama sekitar satu minggu.
Upaya-upaya di atas, memang masih kecil-kecilan dan mungkin belum begitu menyentuh atau pun terlihat hasilnya. Apa lagi jika diingat bahwa “inti masalah” yang sebenarnya lebih terdapat pada masyarakat “biasa” dan bukan di kalangan “atas”. Tapi dengan upaya ini, setidaknya hal ini menunjukan bahwa para petinggi memiliki concern atas masalah yang sedang dihadapi kedua bangsa.
Semoga ke depan ini ditemukan sebuah ramuan yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi.
June 4th, 2008 at 11:39 am
Bang Yusron,
Senang sekali baca blog abang. Kebetulan, saya sekarang sedang melakukan penelitian Hubungan Indonesia-Malaysia pasca Suharto (1998-2008). Memang kurang sekali artikel atu jurnal atu rujukan lain yang dapat dijadikan bahan penelitian, kalo boleh share-lah bang soal problem saya di atas.
Atas bantuannya saya ucapkan terimakasih.
Wassalam
June 4th, 2008 at 3:39 pm
Buat Rekan Ali Maksum:
Terima kasih atas kunjungan ke blog ini. Silahkan berkunjung lagi.
Tentang sharing, saya tentu bersedia. Kita atur kapan waktunya dan bagaimana sebaiknya.
June 5th, 2008 at 10:39 am
Bang Yusron,
Apakah mempunyai artikel atu jurnal atau apapun (makalah resmi) yang terkait dengan Hubungan Indonesia-Malaysia khususnya setelah Pak Harto turun. Utamanya, yang membahas ketegangan hubungan kedua-dua negara (Indonesia dan Malaysia) terkait isu TKI, sengketa Ambalat dan kasus lainnnya.
Terimakasih bang, wassalam
June 5th, 2008 at 6:16 pm
Buat Rekan Ali Maksum:
Saya tidak mempunyai artikel-artikel yang Anda tanyakan itu. Tapi tentang Ambalat dan Sipadan, saya pernah menemukan beberapa artikel tentang itu di internet. Kalau tidak salah, di situs resmi Dephan atau Deplu.
Coba browsing situs-situs itu, atau searching dengan memasukkan kata kunci.
Terima kasih.
June 9th, 2008 at 7:17 am
Insya Allah segera akan saya cari, tapi jika sekarang ada dan masih disimpan, saya mohon dengan sangat, bang Yusron mau mengirmkan ke email saya: amaksum@gmail.com
Sebelumnya terimakasih
Wassalam
June 24th, 2008 at 6:53 pm
Buat Rekan Ali Maksum:
Mohon maaf telah balas. Saya agak sibuk belakangan ini.
Tentang alamt situs itu saya tidak menyimpannya. Tapi mudah dicari dengan google. Semoga Anda telah menemukannya sekarang.