Hubungan Indonesia-Malaysia: Dari Kisah Masa Lalu (Bagian ke-1)
Posted by Yusron Ihza on February 4th, 2008 filed in History, Politics238 views
“Bangkit bangkit Hai saudara aku; Cita-cita Dunia Baru; Kita bersatu, Rumpun Melayu”. (Syair lagu masa lalu).
Bahwa Indonesia dan Malay-sia pernah menjadi bangsa yang bersatu di masa lalu, ini merupakan kenyataan seja-rah. Dari ciri-ciri fisik, bahasa dan budaya, kesamaan ini tampak dengan amat jelas sehingga sering kali sulit membedakan yang mana orang Indonesia dan yang mana orang Malaysia. Saat saya duduk di Starbuck di Bukit Bintang (salah satu pusat keramaian di Kuala Lumpur) untuk minum kopi dan meng-edit tulisan ini, orang-orang Melayu yang lalu-lalang di sana mungkin tidak mengira bahwa saya adalah orang asing. Bahkan, kalau saya masuk negeri itu secara illegal, aparat pun akan sulit mengidentifikasi dari ciri fisik dan bahkan juga bahasa bahwa saya adalah “pendatang haram”.
Adanya jalan Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Lekir, dan lain-lain di Jakarta, dan sebagian nama jalan ini juga ditemui di Kuala Lumpur, mengisyaratkan bahwa “telapak kaki sejarah” Indonesia dan Malaysia masih relatif hangat. Kesamaan nama-nama jalan ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan di dalamnya memang terdapat sebuah simpul sejarah yang amat kuat. Tokoh-tokoh yang namanya dipakai sebagai nama jalan ini, seperti dimaklumi, adalah tokoh-tokoh yang memang kita (Indonesia dan Malaysia) miliki secara bersama-sama dan menjadi tokoh bersama di masa lalu.
Eratnya simpul sejarah di atas kadang-kadang membuat kita menjadi sulit untuk memenggal atau memisahkannya. Kalau orang bertanya apakah sejarah Kerajaan Malaka adalah sejarah Indonesia atau sejarah Malaysia, misalnya, maka kita mungkin akan mengalami kerancuan dalam menjawabnya. Jawaban bahwa sejarah tersebut adalah sejarah milik bersama, mungkin merupakan jawaban yang cukup mengena karena di masa lalunya Indonesia dan Malaysia memang pernah bersatu dan merupakan suatu kesatuan politik (political entity) pula.
Sejarah, menurut salah satu pendapat, adalah ingatan kolektif tentang masa lalu. Sejarah adalah sesuatu yang harus dipelajari agar sesorang menjadi arif, demikian seseorang pernah mengatakan. Sebuah ungkapan lain bahkan pernah pula mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya.
Mungkin karena terta-rik dan hobi, saya pri-badi sering merasakan seperti mengalami “tamasya ruhaniah” jika saya merenung tentang masa lalu sebuah bangsa atau suatu keadaan. Suatu hari saya pernah bertanya bahwa kalau di Malaysia sekarang ada tempat bernama Johor Baru, maka dimanakah Johor Lama-nya? Atau, kalau di Malaysia sekarang ada tempat yang bernama Johor lama, maka dimanakah Johor tua atau Johor yang lebih lama lagi? Lalu, batas-batas kerajaan Johor masa lalu itu meliputi daerah mana saja?
Terhadap hal di atas, sebuah pendapat mengatakan bahwa pusat pemerintahan Kerajaan Johor di masa lalu terletak di Kepulauan Riau sekarang ini. Pulau Belitung tempat kelahiran saya (dan kalau bukan Pulau Bangka pun) adalah wilayah yang di masa lalu juga merupakan wilayah Kesultanan Johor tersebut. Adanya semacam tonil yang berintikan syair-syair Abdul Muluk di kampung saya (disebut sebagai kesenian “Demulok”) mungkin merupakan peninggalan masa lalu ini, pikir saya.
Adanya sedemikian banyak kata di kampung saya yang juga digunakan pula di Malaysia sampai hari ini, seperti kata “kedengkut” (pelit), “nyanyok” (pikun), “kulat” (jamur), “gamat” (teripang), dan bahkan kata-kata untuk memaki seperti “berambus” (enyah) atau “taik palat” (maaf … tidak saya terjemahkan karena pertimbangan etika) tentu merupakan bagian pula dari masa lalu itu. Di wilayah Indonesia yang lain, misalnya kedekatan antara bahasa Indonesia dan bahasa Malayu, tentu merupakan bukti pula tentang adanya ikatan-ikatan dari masa lalu tadi.
Kesatuan di masa lalu antara Indonesia dan Malaysia di atas (terutama sekali kesatuan politik) mulai berderai ketika Kerajaan Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511. Sejak jatuhnya Malaka ke tangan bangsa Barat ini, daerah itu mengalami pergantian penguasa selama berkali-kali. Dari adanya catatan sejarah bahwa pulau Belitung yang disebut di atas tadi ditukar (barter) mentah-mentah oleh Inggris dengan pulau Singapura yang dimiliki Belanda, maka tak salah mengatakan bahwa yang menjajah Malaysia tak hanya Portugis dan Inggris, melainkan Belanda pun pernah juga.
Jika kita melihat rentangan sejarah di atas secara lebih panjang dan mencoba membuatnya lebih sederhana, maka dapat dikatakan bahwa Malaysia mengalami nasib untuk dijajah Inggris, sedangkan Indonesia mengalami nasib untuk dijajah Belanda. Dalam perjalanan lebih lanjut, penjajahan oleh Ingris dan oleh Belanda inilah yang akhirnya membuat Indonesia dan Malaysia kini menjadi dua negara yang berbeda.
Kemerdekaan Indonesia
Betapa pun Indonesia dan Malaysia berada dalam penjajahan oleh dua tuan penjajah yang berbeda selama sekitar 350 tahun, keinginan untuk bersama di antara orang-orang yang dijajah dua tuan penjajah yang berbeda ini tidaklah segera pudar.
Pada tahun 1979 ketika berkunjung ke Perpustakaan Nasional di Jalan Merdeka di Jakarta, saya pernah melihat naskah-naskah lama koleksi perpustakaan itu. Saya tertarik ketika menemukan salah satu koran terbitan Malaysia tertanggal 18 Agustus 1945 (saya lupa namanya) dan membaca berita bahwa sebagian orang-orang di Malaysia terkejut saat Sukarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Mereka terkejut karena wilayah yang diproklamasikan Sukarno-Hatta sebagai Indonesia yang merdeka itu itu ternyata tidak termasuk Malaysia. Bagaikan seorang adik, orang-orang di Malaysia kala itu merasa dirinya seperti telah ditinggalkan kakak atau saudara tuanya.
Dalam pemikiran saya, tindakan Sukarno untuk memerdekakan wilayah Indonesia dalam batas-batas yang ada sekarang ini sebenarnya bersifat taktis saja dan sama sekali tidak dimaksudkan meninggalkan saudara-saudara yang ada di Malaysia. Dalam perhitungan Sukarno, jika saja dia mengatakan wilayah negara Republik Indonesia itu adalah seluruh bekas jajahan Hindia Belanda di tambah wilayah jajahan Inggris (Malaysia) maka musuh yang harus dihadapi kala itu akan menjadi dua, yaitu Belanda dan Inggris pun juga. Ini tentu merupakan tindakan yang berisiko terlalu tinggi untuk situasi saat itu.
Sebagaimana terbukti, ketika Sukarno yang menjadi Presiden itu merasa bahwa negara Republik Indonesia yang diproklamasikan tadi sudah relatif aman, dia berusaha memerdekakan “wilayah yang masih tersisa” (Malaysia) yang dikuasai Inggris. Dari tindakan ini, jika di atas tadi orang-orang di Malaysia merasa ditinggalkan kakaknya, maka menjadi nyata bahwa Sang kakak itu ternyata berusaha “menjemput” adiknya.
Berkaitan dengan hal di atas, Presiden Sukarno yang dalam pidato-pidatonya di masa lalu sering menganggap bahwa “revolusi belum selesai” itu pun menggelar Politik Konfrontasi guna merebut Malaysia dari tangan Inggris. Maka, gerakan “Ganyang Malaysia” pun dimulai. Orang-orang yang ada di Malaysia mungkin dirasakan Presiden Sukarno sebagai saudara kandung yang tidak boleh dicerai-beraikan Inggris atau menjadi korban lebih lanjut dari penjajahan bangsa Barat itu.
Maka, dalam propaganda kebijakan politik Dwikora (Dua Komando Rakyat) yang digagas Sukano, bait-bait lagu yang diletakkan di awal tulisan ini pun ramai dinyanyikan orang.
Bahwa gerakan “Konfrontasi Ganyang Malaysia” di atas diboncengi PKI, ini tentu merupakan fakta sejarah tersendiri, yang sengaja tidak dibahas (apa lagi secara mendalam) di sini karena bukan merupakan maksud atau bagian dari alur tulisan ini.
Apakah Indonesia di bawah Sukarno dalam gerakan di atas bermaksud melaksanakan politik untuk merebut “wilayah orang” ataukah dia ingin menjemput adik-adiknya yang tercecer dan belum sempat diajak merdeka bersama-sama?
Lebih 20 tahun yang lalu, saya pernah membaca buku berjudul “Konfrontasi” atau “Politik Konfrontasi”. Dalam buku yang tebalnya hampir sama dengan Al-Qur’an ukuran besar itu saya tidak menemukan jawaban itu.
Apakah ada mahasiswa Indonesia jurusan Ilmu Politik, Studi Kawasan, atau Jurusan sejarah yang ingin atau sudah menyusun disertasi dengan topik ini? Jika ada, tentu ini merupakan langkah mulia yang pantasi dihargai
Print This Post
JANGAN ASAL COPY-PASTE karena BLOG JUGA ADALAH HASIL KARYA CIPTA. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemilik karya atau paling tidak menyebutkan sumber asal URL tersebut. Hitung-hitung bersilaturahmi dan memperluas perkawanan dan persaudaraan.

February 5th, 2008 at 12:45 am
Wah semakin tercabar untuk melakukan penelitian komprasi budaya kedua-kedua bangsa. bisakah memberikan informasi untuk sponsorshipnya. terima kasih sobat
February 5th, 2008 at 9:18 am
Buat Rekan Hufad:
Terima kasih atas pertanyaannya.
Jika ada mahasiswa atau peneliti yang serius untuk riset tentang bidang di atas, saya akan mencoba mencarikan jalan. Sebagai misal, mencari dana riset ke Toyota Foundation (atau link Jepang lainnya), Friedrich Ebert Stiftung, Litbang Deplu, teman-teman politisi di Malaysia, dan lain-lain.
February 12th, 2008 at 6:26 pm
Melalui blog Pak Yusron, saya ingin berbagi cerita sedikit. Mungkin agak kurang relevan dengan artikel Bapak, tapi semoga ada hikmahnya.
Sudah beberapa hari ini saya berada di Kuala Lumpur untuk suatu urusan. Banyak hal yang saya lihat di sini, yang menjadi alasan kenapa negeri ini bisa maju. Dari semua, yang saya anggap paling berkesan adalah peristiwa sbb:
Siang tadi cuaca panas terik, 31 derajat menurut sign di tepi jalan. Tidak biasanya, Jalan Tun Razak (salah satu jalan utama di KL) dari arah Bukit Bintang menuju PWTC macet total. Kendaraan kami terhenti selama beberapa menit tanpa tahu ada apa sebenarnya. Tiba - tiba seorang polisi lewat di sisi kanan dengan mengendarai motor. Selang beberapa menit kemudian, kendaraan mulai bergerak.
Rupanya terjadi penyempitan jalan sekitar 3 kilo meter dari tempat kami berhenti tadi. Polisi yang tadi melewati kami tampak berdiri di tengah - tengah jalan, sigap mengatur arus kendaraan. Herannya dia masih bisa TERSENYUM di tengah matahari yang sedemikian menyengat dan debu/asap kendaraan.
Para sopir pun tampak tenang, meski saya tahu mereka pun tidak sabar. Tidak ada bunyi klakson bersahutan seperti yang umum terjadi di Jakarta. Semua antri tertib, menjaga jarak aman dan mengikuti perintah sang polisi. Tidak ada main seruduk.
Saya salut dengan sikap polisi tadi (yang begitu menjiwai tugas/tanggung jawabnya) dan para pengguna jalan (yang memiliki etiket). Seandainya hal yang sama juga terjadi di Jakarta, mungkin kemacetan tidak akan semakin parah ya.
Hm, mungkin benar bahwa kita pantas iri dengan negeri ini, negeri yang sesungguhnya memiliki banyak kemiripan dengan Indonesia.
February 12th, 2008 at 8:42 pm
Buat Rekan Jeff:
Cerita Anda cukup relevan dengan artikel atau tema diskusi kita di blog ini. Inti dari kisah anda, antara lain adalah rakyat Malaysia relatif lebih dapat bersabar (menahan diri), mengikuti aturan alias taat perintah, serta tidak hamtam keromo. Petugas pun, juga menjalankan tugas dengan baik dan disiplin.
Jika kita bisa seperti itu (tentu bukan hanya di jalan raya, tapi juga dalam segala aspek), maka mungkin kita akan menjadi bangsa yang lebih baik dari sekarang.
Mari kita semua mengaca diri.
February 13th, 2008 at 1:37 pm
Berbicara tentang “menahan diri”, maka saya ingin menambahkan. Bahwa tidak hanya di jalan raya warga cenderung bersikap tidak sabar dan kampungan (misal: saling seruduk dan adu klakson). Dari ruang sidang DPR/DPRD-pun kami cukup sering disuguhkan “tontonan menarik” ulah para anggota dewan yang tidak mampu menahan diri.
Beberapa kasus yang saya ingat:
Mei 2001, anggota DPRD Jambi saling baku hantam karena alasan nonprinsipil.
Juni 2002, anggota DPRD Depok saling baku hantam karena masalah “pembagian uang”.
Des 2002, anggota DPRD Surabaya saling baku hantam karena masalah “hak” yang tidak dipenuhi.
Maret 2005, anggota DPR nyaris baku hantam di ruang sidang akibat masalah BBM.
Anggota dewan memang manusia biasa. Tapi jika sampai saling baku hantam di muka umum, tentu ini amat memalukan. Kami pun yang melihat amat sangat kecewa…
February 13th, 2008 at 7:52 pm
Buat Rekan Jihan:
Sebagai anggota DPR, pertama-tama saya ingin mengucapkan permohonan maaf atas tindakan kurang pantas dari “korps” kami (DPR dan DPRD) atau sebut saja, “Dewan”. Walau pun, sayanya sendiri tetap menjaga kesantunan dalam tutur kata dan perbuatan.
Menurut jalan pikiran saya, di Dewan itu orang harus adu argumentasi dan logika. Kemudian juga, adu gaya dan seni untuk meyakinkan. Tapi dalam kenyataannya mungkin ada juga yang tidak berpikir seperti itu, atau mungkin pula lepas kontrol saat perbedaan pendapat menghangat.
Sikap atau perilaku yang kurang pantas itu tentu harus dicegah. Di Komisi kami (Komisi I), kawan-kawan saling mengingatkan apabila Si A dan Si B sudah perang mulut dengan suhu tinggi, atau saat masing-masing sudah saling tunjuk atau berdiri.
Pemimpin sidang tentu dapat (berhak) mengeluarkan seseorang yang dinilai tidak mengikuti “perintah” untuk tidak terlalu emosi atau pun mengganggu jalannya sidang. Syukur bahwa debat dengan suhu tinggi itu jarang terjadi, baik pada saat saya memimpin sidang atau pun saat kawan yang lain.
Sekedar catatan tambahan, walau pun bertindak tidak pantas seperti disebut sebelum ini merupakan hal yang harus diakhiri, tapi ada satu makna penting di balik itu. Yaitu, betapapun Anggota Dewan sering dituduh sebagai malas dan tidak bekerja, tapi dari hal tadi terbukti bahwa sebetulnya mereka bekerja dengan gigih dan bahkan sampai-sampai melibatkan suasana hati. dalam memperjuangkan kepentingan rakyat (atau minimal konstituennya).
Ada lagi satu catatan tambahan lain, yaitu berbuat kurang pantas seperti di atas tadi sebetulnya bukanlah khas Indonesia. Waktu masih di Jepang, saya melihat tayangan TV tentang PM Toshiki Kaifu (awal tahun 1990-an) yang dilempar dengan sepatu oleh anggota Parlemen Jepang saat PM Kaifu sedang pidato di ruang sidang parlemen. Di akhir tahun 1990-an, ada pula Anggota Parlemen Jepang yang menyiram anggota yang lain dengan air minum karena pidatonya banyak diinterupsi. Lalu, di Korea Selatan beberapa tahun yang lalu, bahkan ada pula “adu jotos” massal di Sidang Paripurna.
Semoga Anggota Dewan kita akan lebih dewasa. Syukur jika mereka dapat mengalahkan kedewasaan Anggota Parlemen Jepang dan Korea Selatan, yang masyarakatnya relatif sudah lebih maju dari kita itu. Semoga pula kami akan saling mengingatkan.
June 8th, 2008 at 7:59 pm
Skripsi saya kebetulan mengenai hal ini pak. Tapi saya lebih mengkaji ke arah respon indonesia mengenai klaim budaya oleh malaysia dan dampaknya terhadap hubungan Indonesia-Malaysia. Mungkin saya bisa wawancara dengan bapak?
June 24th, 2008 at 6:51 pm
Buat Rekan Margaretta:
Maaf telat balas karena saya amat sibuk belakangan ini.
Syukurlah jika tulisan saya ada relevansinya dengan skripisi Anda.
Tentang wawancara, kita coba atur waktu.
June 26th, 2008 at 2:35 pm
Saya suka membaca nukilan2 anda.. banyak nukilan dari anda yang telah saya baca dan terima kasih di atas segala maklumat yang pada pandangan saya memang disampaikan dengan jujur dan dari sumber yang sanagt banyak. Sebagai rakyat Malaysia yang juga mempunyai keturunan Indonesia sendiri (berdarah bugis) sememangnya kita berkongsi sangat banyak persamaan dan perkara tersebut pun anda telah kupas dengan sangat baik sekali. Tiada apa yang saya hendak komen mengenai penulisan anda hanya ucapan terima kasih kerana individu sebijak anda sudi berkongsi ilmu.
July 11th, 2008 at 9:35 am
Buat Rekan Shahmat:
Terima kasih banyak karena telah sudi menulis pesan-pesan dan kesan di blog ini. Mohon maaf saya agak terlambat menulis balasankarena kesibukan saya. Saat menulis sekarang ini pun saya sedang berada di Tokyo.
Saya amat bersepakat dengan Anda bahwa kedua bangsa kita harus melakukan perkongsian untuk mencapai kemajuan dan kemaslahatan bersama. Idealnya, setiap masalah hendaklah dipandang secara jernih dan sabar oleh kedua bangsa.
Seperti yang sering saya katakan di blog ini, tidak akan ada untungnya jika kedua bangsa ini saling berseteru atau bermusuhan. Salah-salah, pihak ketiga-lah yang nanti mengambil keuntungan, sedangkan kedua bangsa kita saling merugi.
Semoga ke depan nanti akan ada saling pemahaman yang lebih baik.
Sekali lagi, terima kasih.