Pollycarpus & Misteri Pembunuhan Politik
Posted by Yusron Ihza on January 26th, 2008 filed in Law, Politics164 views
Mahkamah Agung (MA) menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara kepada Pollycarpus, hari Jumat (25/1) yang lalu. Polly, demikian ia biasa dipanggil, dinilai MA sah dan meyakinkan telah melakukan pembunuhan berencana terhadap aktivis Hak Azasi Manusia, Munir.
Apakah putusan MA itu sarat muatan politik atau tidak, seperti yang mungkin dirasakan sementara orang, dalam ruang ini saya tidak ingin memberikan penilaian. Yang menjadi perhatian saya adalah, apakah file kasus pembunuhan Munir ini akan ditutup dan dianggap selesai dengan dujatuhkannya vonis atas Polly ini?
Secara logika, terbunuhnya Munir pastilah karena adanya peristiwa pembunuhan dan dalam peristiwa itu pasti pula ada pembunuhnya. Persoalan ini jelas. Tapi kalau kita bertanya lebih dalam lagi, yaitu untuk apa pembunuh melakukan pembunuhan itu, maka file kasus pembunuhan Munir tadi jelas masih menyisakan sejumlah tanda tanya.
MA, seperti diberitakan media massa, mengakui adanya motif politik dalam kasus pembunuhan Munir. Masyarakat (terutama karena Munir adalah aktivis Hak Azasi Manusia dan lantang berbicara menyangkut berbagai kasus di negeri ini) umumnya juga menilai pembunuhan Munir ini sebagai pembunuhan politik.
Mengingat Polly adalah mantan pilot dan bukan tentara, polisi atau pun politisi, atau katakanlah bahwa Polly “bukan siapa-siapa”, maka pembunuhan politik yang telah terjadi itu jelas bukan untuk kepentingan Polly pribadi. Jika begitu, untuk siapa atau kelompok mana dan atas dasar pesanan siapa atau kelompok manakah pembunuhan politik itu ia lakukan?
Jika Polly betul telah melakukan pembunuhan, maka dia yang biasa disebut dengan istilah “pelaku” itu, mungkin akan lebih clear jika dikatakan sebagai “pelaksana”. Dengan mengikuti logika ini, maka kita dapat mengatakan bahwa perisitiwa pembunuhan Munir adalah peristiwa kejahatan yang tergorganisir. Dalam bahasa lain dapat dikatakan sebagai “persekongkolan jahat”.
Jika logika di atas benar, maka akan merupakan kejanggalan jika file kasus pembunuhan Munir ini ditutup setelah dijatuhkannya vonis terhadap Polly.
Kalau pemerintah, terutama badan-badan pemerintah yang mengurusi masalah-masalah hukum, ingin menutup file kasus pembunuhan Munir di atas hanya sampai pada vonis terhadap Polly tadi, maka mereka harus memberikan argumentasi yang jelas. Tanpa ini, file pembunuhan Munir akan tetap meninggalkan tanda tanya dan terus menyimpan misteri.
Sebagian orang mungkin bertanya apakah pemerintah sanggup mencari, menangkap, mengadili dan menghukum orang-orang yang melakukan persekongkolan untuk pembunuhan di atas?
Mengingat banyaknya kasus-kasus pembunuhan politik yang tidak terungkap di dunia ini, bahkan termasuk juga kasus pembunuhan John F Kennedy (dan mungkin juga “kematian” Lady Diana), maka tampak bahwa sanggup atau tidaknya pemerintah melakukan hal itu adalah nomor dua. Yang nomor satu dilihat masyarakat adalah, apakah pemerintah mau dan secara serius melakukan hal itu ataukah tidak.
Dalam kasus pembunuhan John F Kennedy, saya rasa persoalannya adalah seperti yang baru disebut di atas tadi.
Print This Post
JANGAN ASAL COPY-PASTE karena BLOG JUGA ADALAH HASIL KARYA CIPTA. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemilik karya atau paling tidak menyebutkan sumber asal URL tersebut. Hitung-hitung bersilaturahmi dan memperluas perkawanan dan persaudaraan.

January 27th, 2008 at 12:45 pm
Tidak dipungkiri bahwa kematian aktivis HAM Munir menyisakan trauma mendalam dan menambah panjang daftar kejahatan atas manusia dalam sejarah penegakan hukum Indonesia. Sebut saja misalnya kasus pembunuhan wartawan harian Bernas Fuad Muhammad Syafruddin (Udin) dan penembakan mahasiswa Trisakti pada Mei 1998 yang, sama seperti kasus Munir, hingga kini masih menyisakan tanda tanya. Ketidak-jelasan penyelesaian kasus – kasus ini jelas akan meningkatkan rasa skeptis masyarakat terhadap kemampuan aparat hukum dan pejabat berwenang dalam menafsirkan dan menegakan hukum itu sendiri.
Diana
January 27th, 2008 at 5:31 pm
…Banyak pertanyaan yang akhirnya terlontar pasca vonis penjara 20 tahun untuk Pollycarpus, menurut saya, Polly hanyalah pelaksana di lapangan, yang sebenarnya menjalankan perintah dari suatu lembaga (bukan perorangan). Kelihatanya kasus tersebut tidak bisa terungkap setuntas mungkin dan akibatnya akan bernasib sama dengan kasus-kasus pembunuhan orang-orang penting lainnya. Mengapa? ada pemain besar di balik semua ini, riskan untuk mengorbankan semua pemain besar itu (yang tergabung dalam lembaga), maka Polly dipertaruhkan sebagai tumbal. Entahlah, jika pendapat itu sesungguhnya benar maka pertanyaan selanjutnya adalah tawaran apa yang diberikan kepada Polly sehingga dengan mudahnya ikut dalam permainan ini. (Catatan: Polly hanyalah mantan pilot Garuda yang entah bagaimana caranya bisa berhubungan dengan seorang aktivis HAM, Munir)
January 27th, 2008 at 6:37 pm
Telah menjadi rahasia umum bahwa dalam proses penyidikan kematian Munir, terindikasi keterlibatan petinggi BIN. Sebelumnya saya berharap ada semacam buka-bukaan ketika membaca blog wakil ketua Komisi I,yang notabene adalah mitra kerja BIN. Karena setiap kali rapat kerja antara BIN dan komisi I, selalu berlangsung tertutup. Coba mas.. dibuka lah beberapa bagian yang mungkin ingin diketahui pengunjung blog tentang hubungan mesra Polly dan BIN….
January 28th, 2008 at 7:43 pm
Buat Rekan Diana Anwar:
Betul yang Anda katakan. Ketidakjelasan penyelesaian kasus-kasus pembunuhan politik telah melahirkan trauma bagi bangsa ini. Trauma ini akan semakin besar jika diingat bahwa tidak berhasilnya pemerintah mengungkapkan pelaku pembunuhan akan bermakna sama dengan tidak dihukumnya pelaku kejahatan tadi.
Lebih jauh, dengan tidak tidak dihukumnya pelaku kejahatan tadi, maka hal ini akan cenderung membuat orang tidak takut melakukan lagi kejahatan serupa di lain kesempatan.
Jika masyarakat skeptis terhadap pemerintah dalam hal penegakan hukum, maka ini memang merupakan konsekuensi logis dari keadaan di atas.
Buat Rekan Maria:
Saya sependapat dengan Anda. Dalam posting saya pun, saya menduga begitu. Saya bahkan secara tegas mengatakan bahwa Pollly lebih tepat disebut sebagai “Pelaksana” dari kejahatan terorganisir, atau kejahatan oleh “persekongkolan jahat”.
Sekalipun pembunuhan terhadap seseorang dilakukan dengan tujuan “demi negara” tidak dapat dibenarkan (kecuali setelah melalui proses pengadilan), hal ini mungkin boleh dikatakan “masih lumayan”. Yang lebih mengenaskan adalah jika pembunuhan itu dilakukan demi melindungi kepentingan seseorang atau sekelompok orang. Sebagai misal, untuk mencegah agar rahasia atau aib seseorang atau sekelompok orang tadi agar jangan terbongkar.
Buat Rekan Candra Kurnia:
Indikasi bahwa kematian Munir terkait dengan BIN, hal ini mungkin telah sering disebut dalam beberapa media. Sebagian besar masyarakat pun mungkin menduga begitu.
Dalam hal rapat Komisi I dengan BIN, betul sekali bahwa rapat itu hampir selalu tertutup. Persoalannya bukan apa, melainkan data inteligent itu (menurut saya) tidak dapat dijadikan dasar hukum untuk melakukan sebuah “judgement” atau keputusan. Data itu tidak atau belum mempunyai kepastian hukum.
Saya cenderung menilai bahwa sifat dari setiap data “inteligent” dimana pun di dunia ini hanyalah merupakan “petunjuk awal” tentang sesuatu, atau juga sebagai isyarat “kesiap-siagaan” untuk waspada. Sejauh mana akurasi data atau informasi “inteligent” ini, setiap pemakai informasi mungkin mempunyai penilaian atau tingkat kepercayaan yang berbeda-beda.
Jika hal-hal yang bersifat “belum pasti” seperti di atas menjadi konsumsi publik, saya cemas bahwa hal ini akan menjadi fitnah.
Seperti tertulis dalam posting saya tentang “Melayat HM Suharto”, saya tidak ingin masyarakat kita bersikap atau membuat keputusan tentang sesuatu itu hanya atas dasar “konon-kabarnya” atau menurut “desas-desusnya”.
Semoga jawaban saya ini memberi kejelasan, walaupun mungkin kurang memenuhi rasa kepuasan. Untuk ini, saya memohon maaaf dengan segala kerendahan hati.
Terima kasih atas kunjungan ke blog ini.
June 26th, 2008 at 9:45 am
Saya bingung dengan kematian munir ini. Kalo saya jadi pollycarpus, gak akan bunuh penumpang pesawat yang dipiloti sendiri, kenapa gak suruh and bayar preman aja untuk bunuh langsung, di jalan misalnya. Jelas, ada kematian penumpang di pesawatnya akan langsung menyeret sang pilot, setidaknya diinterogasi. Terlalu bohon. Gak logis deh polly nekat bunuh penumpangnya sendiri. Juga, BIN kok bodoh banget, mau bunuh munir, lewat polly yang pilot itu, di pesawat polly lagi, dan si polly diundang datang ke kantor bin. Gampang banget. Bin mestinya intelligent, pintar maksudnya, gak akan gegabah bunuh orang seperti maling kepergok. Saya gak yakin ini kerjaan bin, bisa jadi muchdi pr dll cuma dikorbankan, karena pemerintah sekarang kan takut banget dengan tekanan asing, apalagi munir ini (dan istrinya) adalah kaki tangan (agen) asing yang berkedok HAM. Tapi lucu ya, kalo masuk dalam spionase internasional, semestinya sudah tahu resiko profesi tersebut (lihat ada film Bond 007), kematian adalah resikonya. Kill or to be killed. Tapi munir dan istrinya pengecut, duitnya mau, resikonya gak mau. Logika sederhana, siapa yang biayai kontras dan munir???? Meski namanya LSM, pasti bukan dan kantong munir sendiri.
July 9th, 2008 at 2:32 pm
Buat Rekan Syarbini Syarif:
Saya salut dengan komentar Anda yang tajam dan juga kejelian Anda di dalam memandang masalah. Pandangan Anda amat logis. Walau pun keadaan di lapangan yang “sebenarnya” memang masih tetap menjadi sesuatu yang gelap.
Dugaan atau hipotesa Anda tentang kemungkinan almarhum Munir seperti Agen dalam Film James Bond, memang pantas direnungkan banyak orang.
Selama ini saya juga heran mengapa sebegitu banyaknya orang yang memandang kasus almarhum Munir secara emosional, dan tidak mengembangkan pendapat dari sisi lain seperti yang Anda lakukan.
SEkali lagi, saya salut dengan Anda.