Sedangkan Sapi Pun Beribadah

Posted by Yusron Ihza on January 19th, 2008 filed in Culture, Social, Thought

pidato_yusron1.jpg

“ … sedangkan sapi dan babi pun beribadah.” Saya tersenyum geli, ingat kata-kata saya dalam pidato sambutan pembukaan acara bakti sosial Yusron Centre di Pangkal Pinang kemaren. Dalam mensosialisasikan yayasan ini, saya menjelaskan bahwa bukan karena banyak uang maka yayasan ini saya buat. Melainkan, karena niatlah maka yayasan ini saya bentuk. Kekuatan saya (jika boleh dikatakan demikian) terletak pada link yang saya miliki.

Inti utama yang ingin saya katakan dalam pembicaraan di atas adalah bahwa niat harus berjalan lebih dahulu. Saya tentu tidak ingin mengatakan bahwa dengan niat maka segala sesuatu pasti terjadi, melainkan ingin mengatakan bahwa tanpa niat, segala sesuatu amat jarang terjadi.

Sewaktu Ayah saya masih hidup, beliau sering mengatakan bahwa niat baik itu jangan ditunda-tunda. Setelah dewasa, saya melihat bahwa kata-kata itu memang benar begitu. Saya bahkan sempat tertawa geli dan sadar bahwa jika seseorang mengatakan “pada saat sudah kaya nanti baru akan bersedekah”, maka dapat dipastikan bahwa sampai mati pun dia mungkin tidak akan bersedekah.

Jepang mengatakan, “ageru hito wa, ageru. Agenai hito wa, agenai. Kane ga takusan aruka naika wa, kankeinai”. Artinya, “orang yang akan memberi, ya akan memberi. Orang yang tidak akan memberi, ya tidak akan memberi. Ini tidak ada urusannya dengan apakah dia banyak uang ataukah tidak”.

Dalam berpetatah-petitih memberi sambutan di atas tadi, saya sempat mengatakan bahwa saat memaki, orang Indonesia adakalanya mengatakan “babi, lu” atau “ sapi, lu”. Kedua mahluk ini seolah-oleh sebegitu hinanya di mata manusia. Akan tetapi jika direnungkan lebih dalam, ujar saya seperti berfilsat atau seperti seorang sufi, jangan-jangan kedua mahluk ini lebih mulia dari manusia.

Para hadirin berjumlah ratusan orang itu diam menunggu apa jawaban atau kata lanjutan saya. Saya pun meneruskan, “babi dan sapi itu kerjanya seolah-olah hanya makan saja, tapi inilah pangkal ibadah mereka”.

Karena tidak ingin membuat hadirin semakin bingung atau menduga kepala saya “error” karena kesalahan saat “loading” pagi tadi, saya pun segera melanjutkan. “Sapi itu makan rumput dan babi itu makan dedak untuk menggemukkan tubuh mereka. Setelah gemuk, mereka dipotong dan daging, babat, bahkan sumsumnya dimakan oleh manusia”.

Hadirin pun tertawa dan saya tinggal mengunci atau memakunya dengan kata-kata, “sedangkan babi dan sapi pun beribadah atau bersedekah dengan mengorbankan tubuh mereka. Lalu, apakah kita rela kalah dari dua mahluk yang sering dipandang manusia seolah-olah hina ini?”.

Sepulangnya ke hotel, saya masih senyum-senyum sendiri karena ingat teman almarhum ayah yang “gila bersedekah”. Dengan prinsip bahwa perbuatan baik itu akan membuahkan kebaikan, maka (sekali pun kita harus berusaha ikhlas dan tidak perlu memiliki pamrih), orang yang bersedekah itu seharusnya akan hidup lebih makmur. Minimal, karena dia mempunyai “hablum minan-nas” (hubungan dengan manusia) yang baik dan juga “hablum minallah” (hubungan dengan Allah) yang baik pula.

Jika seseorang sampai miskin karena bersedekah atau berbuat kebaikan, pastilah ada yang salah di dalam tindakannnya itu, pikir saya.

[Photo caption: Saat saya berpidato dalam pembukaan bakti sosial Yusron Centre]


4 Responses to “Sedangkan Sapi Pun Beribadah”

  1. Didit Says:

    Saya berdoa semoga Yusron Centre ini bisa membantu Babel untuk berkembang lebih maju.

    Berbicara soal kemajuan, kemaren saya ngobrol2 dengan seorang teman. Dia bilang kalau suatu waktu sedang makan siang di daerah Sabang, Jakarta Pusat, dia mendengarkan sekelompok karyawan yang berbicara tentang tempat wisata. Mereka berencana berlibur ke pantai dan Babel menjadi salah satu tujuannya. Katanya pantai di Babel tidak kalah dengan pantai yang ada di Bali. Bahkan pantai di Babel lebih bagus dari yang ada di Pulau dewata itu.

    Saya sempat senang mendengar cerita itu. Karena notabene saya lahir dan besar di Babel. Tapi kemudian perasaan itu sedikit hilang ketika teman saya, yang memang pernah berkunjung ke Babel itu mengatakan walaupun sekelompok karyawan itu akhirnya berlibur ke Babel, apakah mereka akan kembali lagi untuk mengulangi masa liburannya? Saya balik bertanya kenapa? Dia bilang Babel memang punya pantai yang indah, tapi kurang dilengkapi dengan sarana transportasi yang memadai. Sebelum berkunjung, wisatawan akan terlebih dahulu mempertimbangkan faktor transportasi. Kemudahan transportasi akan membuat mereka kembali lagi ke tempat wisata yang sama. “Karena wisatawan itu akan mudah untuk kemana-mana. Apalagi backpacker yang sering berlibur dengan dana pas-pasan. Tapi biar pun pas-pasan, mereka pasti balik lagi ke daerah yang benar-benar ngasih liburan yang menyenangkan buat mereka,” begitu alasan teman saya.

    Dia lalu mencontohkan Bali yang selalu menjadi tujuan wisata baik dalam negeri maupun luar negeri. Katanya, di bali itu banyak tempat penyewaan kendaraan baik roda empat maupun roda dua. Saya bilang, di Babel juga ada. “Tapi apakah biaya sewanya murah seperti yang ada di Bali?” teman saya balik bertanya. Kata dia, selain banyak, penyewaan kendaraan di Bali menerapkan tarif yang bersaing dan cenderung murah. Sehingga para wisawatan pasti betah untuk terus kembali ke Bali.

    Menurut Bang Yusron bagaimana??? Apakah Babel bisa seperti Bali? Bukan sekedar soal transportasi tapi juga tempat wisata, terutama pantai, yang lebih dikembangkan lagi sehingga semakin menarik wisatawan..

  2. Yusron Ihza Says:

    Buat Rekan Didit:

    Terima kasih banyak atas kunjungan dan tulisan di blog ini.

    Saya setuju sekali kalau dikatakan Pulau Bangka dan Pulau Belitung mempunyai kecantikan alam (terutama laut dan pantai) yang luar biasa. Ini saya katakan bukan seperti kata pribahasa “ba’ menggarami laut”.

    Saya telah mengitari sekitar 2/3 bola bumi ini dan melihat bermacam pantai dan laut. Termasuk juga, Pantai Copacobana dan Ipanema di Brazil yang terkenal itu. Walhasil, saya tetap menyimpulkan bahwa pantai di Pulau Bangka dan Pulau Belitung tetap yang tercantik dari seluruh pantai yang pernah saya lihat. Sayang sekali kedua pantai yang merupakan aset bangsa dan negara ini tidak terkenal.

    Dari segi geografis (terutama jika kita berpikir tentang wisatawan domestik) jarak terbang dari Jakarta ke kedua pulau itu hanya sekitar 50 menit saja. Seorang Menteri yang baru saja berkunjung ke Bangka sebulan yang lalu, mengatakan kepada saya bahwa jarak itu lebih pendek dari jarak tempuh dari Jakarta ke Desa Pinang (Banten), yang nota bene nempel dengan Jakarta.

    Kalau kita berpikir tentang wisatawan manca negara, jarak tempuh yang pendek dari Jakarta di atas tentu amat menguntungkan. Walau pun, jika pemerintah serius, wisatawan manca negara mungkin saja tidak perlu transit di Jakarta. Kata kunci di sini adalah: Membangun lapangan terbang internasional di kedua pulau itu, yaitu sesuatu yang sedang saya jajaki dengan pihak swasta atau pun pemerintah Jepang, walau pun belum membuahkan hasil.

    Dalam hal membuat tujuan wisata ini menjadi terkenal, caranya relatif mudah dan tanpa perlu biaya iklan yang banyak. Kepada Menteri yang disebut di atas (yang juga mengagumi pantai di daerah ini) saya mengatakan bahwa jika pemerintah melaksanakan event internasional (misal, Konperensi APEC, OPEC atau konperensi internasional besar apa saja pun) di daerah ini, maka dalam satu malam pun daerah ini segera terkenal ke manca negara.

    Saya sempat menambahkan dalam kelakar di atas tadi bahwa jika konperensi internasional itu dilaksanakan di Bangka atau Belitung, maka sebuah kampung yang namanya (maaf) kurang bonafide pun, yaitu kampung Keciput dengan pantai yang indah di Pulau Belitung, akan segera mendunia. Alasannya, CNN, Reuter, AFP dan mungkin juga Aljazira dan lain-lain akan meliput dan memberitakannya keseluruh penjuru bumi.

    Lebih lanjut, kalau Bangka dan Belitung (Babel) mengalami kemajuan, maka yang diuntungkan tentu bukan hanya provinsi ini saja, melainkan pemerintah pusat pun juga (terutama dari sisi pajak).

    Dalam hal lapangan pekerjaan, masyarakat dari luar pun tentu boleh datang dan bekerja di provinsi ini jika lapangan kerja memang ada. Apa lagi, penduduk provinsi ini hanya satu juta jiwa, dan bahkan kurang.

    Hitung-hitungan secara teoritis untuk pengembangan pariwisata di Bangka dan Belitung (minimal menurut saya) adalah OK. Tapi masalahya adalah dari mana kita harus memulai dan siapa yang harus memulai.

    Persoalan di atas mirip dengan persoalan antara ayam dan telur, yaitu yang mana yang duluan. Dari kawan-kawan yang bergerak di bisnis perhotelan, mereka berkata siap membangun hotel dan fasilitas-fasilitas pariwisata di kedua pulau di atas, tapi mereka bertanya, mana wisatawannya. Sebaliknya, para wisatawan mungkin juga berkata bahwa mereka siap dan mau datang ke daerah di atas, tapi mana hotelnya, atau mana transportasinya, seperti yang Rekan Didit katakan.

    Menurut hemat saya, yang harus memulai itu adalah pemerintah. Mengingat anggaran, pemerintah mungkin dan memang tak perlu membangun hotel, tapi cukup membangun infrastruktur, terutama lapangan udara, menambah daya listrik dan lain-lain.

    Jika pemerintah siap, katakanlah misalnya membangun pelabuhan udara internasional di Pulau Bangka dan Pulau Belitung dan Menteri Pariwisata kita memberi perhatian yang lebih serius, saya yakin Bangka dan Belitung sanggup sehebat Bali atau sehebat Phuket di Thailand.

    Dalam kondisi yang ada sekarang dan jika tanpa pembenahan-pembenahan, keadaan Pulau Bangka dan Pulau Belitung pasti akan tetap sulit.

    Tentang hal di atas, coba bayangkan, sekedar naik pesawat Boing 737 C-200 saja pun, para penumpang yang mendarat di Pulau Bangka atau pun Pulau Belitung harus seperti menginjak rem saat pesawat mendarat. Pasalnya, landasan di kedua pelabuhan udara itu terlalu pendek dan pesawat harus melakukan semacam “rem paksa”.

    Tanpa menambah-nambahi, para penumpang ada kalanya saya lihat berdizikir atau berdoa memohon keselamatan saat pesawat mendarat. Dan, peristiwa ini (termasuk juga pendeknya landasan tadi) menurut saya agak aneh jika tidak diperhatikan oleh pemerintah. Sebabnya, penerbangan ke Bangka dan Belitung lumayan tinggi frekuensinya dan bukan sepi. Ke Bangka adalah sembilan penerbangan per hari, sedangkan ke Belitung empat penerbangan per hari.

    Agar jangan dikatakan tidak bersyukur, saya ingin mengucapkan alhamdulillah bahwa saat saya mendarat bersama Presiden SBY di Belitung (sehubungan dengan latihan tempur TNI AU) sekitar 2 bulan yang lalu, Presiden yang mungkin sempat seperti menginjak rem juga saat pesawat mendarat, serta merta memanggil saya dan Sekretaris Kabinet, Sudi Silalahi saat pesawat hampir berhenti. Kata beliau, panjang landasan harus dan akan segera ditambah sekian ratus meter.

    Saat saya ke kediaman Presiden untuk suatu urusan sekitar satu bulan yang lalu, dan secara kebetulan bertemu dengan Menteri Perhubungan, saya sempat menanyakan hal di atas. Belum selesai bertanya, Menteri mengatakan “perintah Presiden untuk menambah panjang landasan, sudah sampai ke tangan saya”. Saya pun berkata, alhamdulillah.

    Untuk menegaskan kembali apa yang dikatakan sebelumnya, menurut hemat saya, pembangunan pariwisata Pulau Bangka dan Pulau Belitung adalah ssuatu keharusan dan akan menguntungkan. Tapi masalahnya adalah, bagaimana menggerakkan pemerintah untuk memulai.

    Dalam hal “menggerakkan” pemerintah (dan juga pihak asing), hal ini akan banyak pula ditentukan oleh masalah loby. Tentu saja, loby ini harus dilakukan setelah adanya perencanaan-perencanaan yang matang, terutama oleh pihak Pemda Provinsi Bangka dan Belitung.

    Perencanaan di atas mungkin tidak terlalu sulit dilaksanakan. Akan tetapi dalam hal loby, hal ini memerlukan link, teknik dan seni tersendiri. Siapa yang sanggup melakukan hal ini? Barangkali orang Babel harus mencarinya.

  3. Aima Says:

    Bangka – Belitung memang daerah wisata yang potensial, namun belum digarap secara maksimal. Sayang sekali. Melihat hal ini, sebaiknya Pemda setempat bergerak lebih aktif dalam mengembangkan pariwisata di daerah tersebut. Sebagai contoh, mengundang media asing untuk datang dan menikmati keindahan alam yang Bapak sebutkan tadi. Melalui mereka, mungkin Bangka – Belitung bisa menjadi lebih dikenal, baik di dalam maupun di luar negeri Usaha ini tentu masih lebih baik dibanding menunggu pemerintah pusat “bergerak”.

    Yang saya katakan bukan omong – kosong. Banyak sudah pemda lain yang menempuh cara “konvensional” dalam “menjual” keunikan daerahnya masing-masing. Sebut saja Kepulauan Wakatobi. Saya rasa Bangka – Belitung masih terhitung “beruntung” jika dilihat dari letak geografis. Dua daerah ini bisa ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam dari Jakarta. Kepulauan Wakatobi tidak seberuntung itu, Untuk berlibur ke daerah ini, diperlukan perjuangan berat. Turis harus transit dulu di Makasar dan terbang lagi ke Kendari, Dari situ, mereka masih harus menempuh perjalanan via laut, dengan kapal motor. Total waktu tempuh untuk tiba ke Wakatobi, tidak kurang dari 11 jam. Kecuali jika anda memiliki pesawat jet pribadi. Dari segi infrastruktur pun belum ada yang bisa dibanggakan dari daerah ini. Namun begitu, Wakatobi tidak surut pengunjung. Rata – rata 1 juta turis, yang sebagian besar WNA, datang ke sana setiap tahun. Salut untuk pemda setempat.

    Jadi, good luck Pak Yusron. Saya yakin, jalan untuk mengembangkan Bangka Belitung akan segera ditemukan. Jangan putus berharap dan berusaha.

  4. Yusron Ihza Says:

    Buat Rekan Aima:

    Terima kasih atas ide, info dan sarannya. Ini merupakan ide, info, dan saran yang brilliant.

    Saya setuju dengan saran pemasaran dengan cara konvensional yang Anda katakan. Langkah ini memang perlu dilakukan, ketimbang hanya menunggu pemerintah “bergerak” atau pun juga langkah “menggerakkan” pemerintah. Apa lagi, dalam posting di atas Anda ikut memberikan ilustrasi atau bukti tentang kepulauan Wakatobi.

    Kedua cara atau upaya di atas, harus dilakukan secara serentak.

    Saya salut … !

Leave a Comment