Mukadimah: Langkah Kaki & Blog Ini
Posted by Yusron Ihza on January 16th, 2008 filed in Profile360 views
Dengan mengucapkan sela-mat datang dan terima kasih yang ikhlas kepada setiap pengunjung, lebih lanjut saya memohon izin untuk membuka halaman muka blog ini dengan memperkenalkan diri saya, menjelaskan mengapa blog ini saya buat dan kemudian juga menjelaskan untuk tujuan apa blog ini saya buat.
Saya ingin memulainya dengan rentangan kisah pada tahun 2002 yang merupakan tonggak penting dalam perjalanan hidup dan sekaligus juga menjadi hal yang penting dalam mendorong niat saya membuka blog ini.
Keputusan untuk pulang ke tanah air pada tahun 2002 yang lalu (setelah saya menetap belasan tahun di Jepang, negeri yang kaya dengan informasi, gegap-gempita dengan perkembangan teknologi, dan sekaligus pula pilar penting perekonomian dunia itu) tentu bukan merupakan keputusan yang ringan. Tidak ringannya pengambilan keputusan ini bukan karena saya telah terbenam dalam keasyikan pribadi, atau karena saya berpuas diri, dan atau pula karena saya telah melupakan tanggung jawab terhadap nasib bangsa di Bumi Nusantara ini.
Dalam hal tanggung jawab, pikir saya, jika saya berhasil menjadi ilmuwan berpengaruh (sesuatu yang telah saya niatkan sejak lama) dan saya berhasil menancapkan panji-panji kebesaran nama saya di Jepang, bukankah ini berarti juga bahwa saya mengharumkan nama Indonesia. Lalu, dalam tanggung jawab lebih lanjut, jika saja saya bernasib mujur dan diangkat sebagai penasehat atau menduduki posisi lain di Bank Pembangunan Asia yang dimotori Jepang itu, misalnya, dan lalu saya mengucurkan dana bantuan dari bank itu untuk Indonesia dengan cara yang baik dan dana itu berguna bagi kemaslahatan negeri ini, maka bukankah ini pun dapat diartikan sebagai wujud pengabdian dan tanggung jawab pula, demikian saya berkata lebih lanjut dalam hati.
Keyakinan dan keteguhan terhadap pilihan jalan hidup di atas semakin menguat ketika disertasi saya yang menyanggah dan merontokkan Flying Geese Model (model pembangunan ekonomi Asia ciptaan Profesor Kaname Akamatsu yang dielu-elukan Bank Dunia itu) mendapat semacam approval saat ekonomi Asia luluh-lantak oleh Krisis Moneter. Semu dan tidak sehatnya perekonomian Asia yang menjadi salah satu tesis utama dalam desertasi itu (yang sekaligus membuat saya dinilai berpikir kurang waras oleh para pendukung paham keajaiban ekonomi Asia yang berseberangan pemikiran dengan saya) mendapatkan semacam justifikasi dan bukti kesahihannya.
Rasa puas dan juga optimisme terhadap hasil kerja di bidang keilmuan di atas semakin menggila ketika disertasi di atas disarikan dan diterbitkan oleh penerbit ternama di Jepang. Salah satu copy disertasi lengkap (dalam bahasa Jepang) yang tersimpan di perpustakaan dan museum nasional Jepang di Ueno, di jantung kota Tokyo itu, pastilah akan banyak dibaca oleh kalangan Jepang, pikir saya. Lalu, biarlah mereka tahu dan mencatat dalam sejarah keilmuan mereka bahwa teori ciptaan Profesor besar mereka itu rontok oleh “dai-san sekai no nin-geng”, alias manusia dari Dunia Ketiga, yaitu sebutan yang (disadari atau tidak) mengandung konotasi penghinaan.
Kepuasan dan optimisme di atas semakin bertambah lagi ketika Kojima Kiyoshi (Profesor Jepang yang buku-bukunya dijadikan bacaan wajib para mahasiswa fakultas ekonomi, termasuk di Perguruan Tinggi di Indonesia sampai sekitar tahun 1980-an itu) bereaksi terhadap publikasi di atas. Kojima yang merupakan murid langsung Profesor Akamatsu itu menyanggah teori-teori dan jalan pikiran saya dalam publikasi tadi melalui dua tulisan dalam jurnal ilmiah yang terbit di Jepang. Wow … saya merasa seperti mendapat kehormatan dan sekaligus peluang mematrikan nama saya dalam dunia keilmuan Jepang jika saya berpolemik dengan Profesor ini, pikir saya.
Jujur saya katakan, peluang kecil di atas saya rasakan sebagai seberkas cahaya yang benderang. Berbagai khayal dan mimpi pun bermunculan di kepala saya. Jika selama ini saya selalu memberikan semangat pada diri dan pada kawan-kawan dengan kata “Jadilah sesuatu; jangan hanya datang dan berlalu (maksudnya lahir dan mati, red) tanpa seorang pun yang tahu”, maka mungkin inilah saatnya saya untuk mulai menjadi “sesuatu” itu, pikir saya. Masa depan, sebagaimana saya percayai, adalah sesuatu yang harus dirancang, direbut dan diberi warna, dan bukan sesuatu yang harus ditunggu serta dibiarkan warnanya tercipta oleh peruntungan nasib.
Saya mulai melakukan persiapan-persiapan untuk menabuh genderang perang. Berbaga piranti untuk pertarungan ilmiah mulai ditengok, diasah lagi dan semakin dibenahi. Dalam ancang-ancang ini, Profesor Ilmu Hubungan Internasional yang merupakan promotor utama penulisan disertasi saya di Universitas Tsukuba (tempat saya mengambil S-2 dan S-3) dan promotor pendamping yang kini menjadi Profesor Ilmu Ekonomi di Universitas Nagoya memberikan semangat dan dukungan penuh. “Angkat dan patrikanlah nama kamu dan nama Perguruan Tinggi kamu dalam dunia keilmuan Jepang melalui polemik di jurnal ilmiah dengan Profesor Kojima”, kata mereka. Sejumlah asisten untuk partner diskusi dan bahkan editor serta pencari data di perpustakaan pun akan segera dihubungi.
Saya betul-betul menjadi bersemangat, penuh gairah, nafsu, obsesi, dan bahkan juga ambisi untuk melakukan hal yang memang sah dan halal untuk saya lakukan. Tentu saya masih sempat “nyebut” (syahadat) berdoa dan bahkan berdzkir agar Alllah memberkati dan agar saya tidak lupa diri, stroke dan mati. Saya masih ingat sampai hari ini ketika kawan-kawan Jepang saya memberi semangat dalam ungkapan Jepang yang khas: banzai, Ihza-san, eraku naru zo ..! (selamat, tuan Ihza, Anda akan menjadi terkenal).
Keasyikan menekuni bidang keilmuan, apa lagi setelah peluang seperti yang baru disebutkan di atas muncul, membuat saya tidak bergeming ketika saudara saya diangkat menjadi Menteri Kehakiman dalam Kabinet Abdurrahman Wahid dan menyarankan saya pulang. Biarlah saya menjadi dosen, peneliti dan sekaligus pula menyambi sebagai wartawan di Jepang, pikir saya. Lagi pula bukankah yang menjadi Menteri itu adalah saudara saya dan bukan saya.
Pulang ke Indonesia, renung saya lagi, bukan saja akan membelokkan jalan hidup yang telah saya patrikan. Melainkan, salah-salah, orang akan mengatakan saya nebeng nge-top dan syukur-syukur jika tidak ditempeli lebel KKN, lebel atau stempel buruk yang begitu mudahnya digunakan untuk merusak nama baik seseorang di negeri ini. Ini belum lagi fitnah, rekayasa, tekanan dan intimidasi lawan-lawan politik jika saya menjadi politisi. Saya juga sempat teringat terhadap ungkapan bahwa “di tempat yang sama, tidak boleh ada dua matahari”. Akan tetapi yang membuat saya lebih bersikukuh tidak pulang adalah ungkapan yang mengatakan bahwa dua bersaudara ada baiknya tidak berada di pentas yang sama. Sebab, jika pentas itu runtuh maka dua-duanya mungkin tewas binasa dan ini akan menjadi senandung ratapan sedih orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan..
Akan tetapi, bagaikan ungkapan bahwa manusia boleh berencana tetapi Tuhan yang menentukan, semua rencana dan jalan hidup yang telah terpatrikan di atas ternyata memang harus berubah. Hal ini terjadi ketika “Sang Guru” yang banyak mengajar saya tentang ilmu dalam kehidupan ilmiah di lingkungan Universitas Indonesia (tempat saya kuliah S-1 dan S-2) dan juga ilmu tentang kehidupan sebagai seorang manusia, tiba-tiba diangkat menjadi Menko Perekonomian dalam Kabinet Megawati, sepulangnya beliau sebagai Duta Besar di Amerika dan “Sang Guru” meminta saya pulang.
Panggilan di atas amat mengejutkan karena saat menilpon dari Washington (sekitar seminggu sebelumnya) ke kediaman saya di Jepang untuk pamit atau untuk memberitahu bahwa beliau akan pulang, beliau sama sekali tidak bercerita apa-apa tentang hal tadi. Akan tetapi bahwa panggilan pulang itu serius, ini adalah sebuah kenyataan. Sebab, beliau sempat mengatakan secara rinci bahwa karena saat di Universitas Indonesia saya kuliah S-1 di jurusan Hubungan Internasional dan S-2 di bidang Ilmu Politik, beliau meminta saya masuk ke Departemen Luar Negeri. Tapi, kata beliau lebih lanjut, karena S-3 saya adalah bidang Politik Ekonomi Internasional, saya pun dapat memilih alternatif untuk masuk ke Departemen Perindustrian dan Perdagangan.
Saya sempat tertegun memikir perihal di atas. Persoalan utama bagi saya bukanlah melilih diantara dua alternatif itu, tetapi memilih antara pulang ataukah tidak. Dalam memikirkan hal ini, saya teringat dengan tawaran-demi tawaran yang pernah datang sebelumnya. Menneg/Kepala Bappenas di era Presiden Suharto pernah memanggil saya dan menjajaki kemungkinan bagi saya mengabdi di lembaga itu. Saya akan diposisikan menjadi Asmen (Asisten Menteri). Menteri Bappenas juga (kali ini pada Era Presiden Abdurrahman Wahid) pernah pula memanggil saya ke ruangnya di kantor di depan Taman Suropati itu untuk kemungkinan saya berkarya di tempat itu. Lalu, Menteri Luar Negeri (juga pada masa Presiden Abdurrahman Wahid) pernah pula memanggil saya ke ruangnya di kantor yang terletak di Jalan Pejambon itu dengan niat agar saya membantu Departemen itu. Walau pun, oleh karena beberapa sebab (baik pribadi atau pun karena situasi, seperti lengsernya Presiden Suharto dan bubarnya Kabinet Adurrahman Wahid di tengah jalan), ujung-ujungnya saya tetap saja tidak pulang.
Orang sering mengatakan bahwa kesempatan emas tidak akan datang dua kali dalam hidup. Akan tetapi dalam pengalaman pribadi saya, kesempatan itu justru datang berulang-ulang. Mungkin ini memang keajaiban. Akan tetapi karena saya percaya bahwa keajaiban itu tak mungkin akan terus berulang dan abadi selamanya, maka saya merasa bahwa saya harus betul-betul serius mengambil sikap terhadap fenomena itu. Mungkin saja keberulangan ini isyarat ilahiah yang harus saya perhatikan dengan sungguh-sungguh, pikir saya.
Sambil berpikir tentang hal di atas dan dengan ditambah lagi pertimbangan bahwa “Sang Guru” yang memanggil saya itu adalah guru sejati yang saya hormati, maka saya semakin mendekati keputusan untuk pulang. Saya teringat kata-kata beliau di masa lalu saat saya hampir memasuki usia 30 tahun, bahwa beliau dan juga satu lagi “Sang Guru” yang merupakan Profesor Hubungan Internasional di Universitas Indonesia (yang kemudian juga menjadi Menteri) dan kala itu ikut andil dalam membentuk saya, mensponsori saya mendapatkan beasiswa ke Jepang bukanlah untuk bermain-main. “Kamu akan kami bentuk agar menjadi aset negeri ini”, demikian kata beliau menjelang saya berangkat ke Tokyo, dan kamu akan menjadi aset yang langka karena orang yang mengerti serta memiliki link ke Jepang di negeri ini amat minim jumlahnya, lanjut beliau.
Dengan setengah bercanda pada diri bahwa “aset langka” di atas tadi tidak boleh menjadi barang antik atau besi tua dan rongsokan di Jepang, maka saya pun akhirnya memutuskan untuk pulang. Dengan pertimbangan bahwa saya memiliki link yang lumayan ke dunia industri dan juga dunia politik di Jepang (terutama karena kenalan-kenalan berkat kerja saya menyambi sebagai wartawan), dan juga pertimbangan bahwa jika industri berhasil dibangun maka rakyat yang menganggur akan memperoleh pekerjaan secara lebih mudah, maka saya memilih alternatif kedua dari tawaran tadi.
Walhasil, maka saya pun menjadi Penasehat Khusus Menteri Perindustian dan Perdagangan, suatu tugas yang saya jalankan dengan ikhlas, walau pun gaji saya hampir-hampir tidak cukup untuk sekedar membayar bensin dan uang tol dari tempat tinggal saya waktu itu (Bukit Sentul) ke Jalan Gatot Subroto, tempat saya bekerja. Dan juga, walaupun gaji itu mungkin hanya sekitar seperduapuluh dari total penghasilan saya saat masih di Jepang.
Mungkin karena Tuhan mempunyai rencana lain (dan yang jelas bukan karena gaji kecil), kehadiran saya di Departemen di atas ternyata tidak berlangsung lama. Saya akhirnya mengundurkan diri dari jabatan itu setelah setahun kemudian. Saya kemudian berupaya membenahi secara lebih serius lagi Firma Hukum yang dibangun bersama saudara saya saat dia telah copot jabatannya sebagai Menteri, yang tetapi kemudian ternyata naik dan naik lagi sebagai Menteri kembali. Secara kebetulan, salah satu dari pendidikan S-2 saya memang di bidang ilmu hukum.
Dalam hal tugas di Firma Hukum, saya lumayan menyukainya. Saya pernah mempekerjakan 40 orang karyawan, yang jika dipukul rata masing-masing mempunyai empat anggota keluarga maka berarti saya memberi kesempatan kepada lebih dari seratus nyawa untuk menggangtungkan hidupnya di kantor itu. Ini tentu merupakan sumbangan juga (yang kecil tapi real) dalam penyediaan lapangan pekerjaan buat negeri yang masih sulit ini, pikir saya.
Firma Hukum di atas lumayan berkibar pada masa jayanya. Klien-klien Jepang merupakan salah satu inti dan kekuatan, dan ini pun pasti merupakan berkah dan link saya dari dan ke negeri itu. Akan tetapi, nasib dan jalan hidup mungkin memang tidak begitu manis dan seindah yang dimaui. Firma Hukum itu menjadi “sasaran tembak” dari lawan-lawan, baik lawan politik maupun lawan sesama pengacara. Isu bahwa Firma Hukum yang didirikan saat saudara saya dicopot sebagai Menteri itu adalah sama dengan nama dia sebagai seorang Menteri (saat naik sebagai Menteri kembali) menjadi entry point bagi serangan itu.
Kami akhirnya mengganti nama kantor itu manjadi lebih singkat, yaitu IHZA & IHZA. Tapi serangan di atas tadi tetap tidak pernah berhenti, batapa pun di masa lalu dan juga di masa sekarang terdapat amat banyak pejabat publik yang juga memiliki Firma Hukum dan bahkan juga bisnis-bisnis di bidang industri yang lebih besar dan juga dengan menggunakan namanya pada badan usahanya itu. Dalam serangan terhadap kami, tentu perlu dicatat tentang adanya sebagian media massa yang dengan sadar atau tidak telah “dipakai” sebagai alat.
Ketidakbetahan saya terhadap iklim kehidupan di Indonesia yang (maaf) saya rasakan kurang sehat, di samping mungkin juga kesulitan saya menyesuaikan diri kembali terhadap “kultur” negeri yang telah lama saya tinggalkan ini, mendorong saya berpikir untuk kembali ke Jepang. Bukankah rumah saya masih ada disana, pikir saya, bukankah mobil saya masih ada di lapangan parkir di negeri itu, ingat saya. Lalu, bukankah bantal, kasur, piring serta sebagaian pakaian saya masih ada dalam lemari di rumah itu. Saya siap kembali ke Jepang dan menjadi ilmuwan kembali, apa lagi status saya di Perguruan Tinggi adalah seperti cuti di luar tanggungan.
Akan tetapi, kali ini Tuhan (lagi-lagi) seperti melakukan intervensi terhadap langkah dan niat saya. Anggota Partai Bulan Bintang yang sebelumnya menjadi anggota DPR dari daerah pemilihan Bangka Belitung telah mundur dan menang dalam pemilihan menjadi Bupati. Konon, jika salah-salah memilih pengganti bagi pemilu legislatif yang saat itu sudah di depan mata, Bulan Bintang mungkin keok di Bangka Belitung yang merupakan “kandangnya” sendiri. Untuk mencegah aib, saya pun harus terjun sebagai pengganti. Maka, kartu keanggotaan partai pun diurus secara dadakan dan saya harus bertarung dalam pemilu di kampung halaman yang telah seperempat abad saya tinggalkan.
Saya memimpin pertarungan dalam pemilu di kampung halaman ini dengan gilang-gemilang. Untuk DPRD tingkat I dan II, partai kami sanggup merebut banyak kursi dan mensejajarkan diri dengan dua partai terbesar di Republik ini dalam jumlah perolehan kursi yang tepat sama besarnya. Untuk posisi anggota di DPR RI yang mengantar saya ke Senayan, saya mengantongi sekitar 36% suara.
Bahwa panji-panji Bulan Bintang ternyata kurang begitu berkibar di daerah-daerah pemilihan lain di luar Bangka Belitung, ini bukan hal yang tidak pernah saya bayangkan. Akan tetapi, akan halnya secara nasional perolehan suara itu menurun dan membuat kami kehilangan treshold, tentu saja hal ini merupakan kenyataan yang mengejutkan.
Apakah “intervensi Tuhan” yang mencegah langkah saya pulang kembali ke Jepang di atas adalah dengan tujuan agar saya terpenjara di dalam sebuah partai kecil? Atau, apakah Tuhan mempunyai maksud yang lain? Wallahu alam bissyawaf. Semua ini tentu merupakan misteri yang jawabannya ada di lauhulmahfudz.
Suatu hal yang saya ketahui secara jelas adalah saya terpilih menjadi anggota parlemen. Dan, demi amanah serta rasa syukur, saya dan kawan-kawan akan berjuang gigih dan membuktikan walaupun kecil dalam perolehan kursi, tapi kami akan menjadi kekuatan yang diperhitungkan atau setidaknya ikut memberi warna terhadap kehidupan politik di negeri ini.
Dalam perjalanan karir politik di atas, walhasil, saya mendapat posisi sebagai Wakil Ketua Komisi I DPR RI dan membidangi masalah pertahanan negeri ini. Perjalanan hidup di atas, singkat kata, telah merubah saya dari seorang yang semula bermimpi jadi ilmuwan tapi “terbelok” menjadi politisi, suatu hal yang tidak pernah saya niatkan pada saat masih jauh-jauh hari.
Sebagai politisi dan sebagai wakil rakyat di parlemen, saya tentu tidak boleh bisu. Saya harus berkiprah dan juga berkomunikasi. Dalam kedudukan sebagai politisi ini, maka saya buka blog ini dengan harapan akan menjadi arena komunikasi, tukar pendapat dan diskusi tentang berbagai aspek kehidupan, termasuk tentang apa yang saya pikirkan mengenai negeri dan bangsa ini. Suatu hal yang tak kalah penting adalah bahwa blog ini juga diharapkan akan menjadi sarana dan pengikat tali silaturrahmi, baik terhadap orang-orang yang sepaham atau pun orang-orang yang berbeda pendapat dengan saya tetapi bersatu hati, atau minimal saling menghormati.
Akirnya, kepada Allah juga saya berserah diri.
Print This Post
JANGAN ASAL COPY-PASTE karena BLOG JUGA ADALAH HASIL KARYA CIPTA. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemilik karya atau paling tidak menyebutkan sumber asal URL tersebut. Hitung-hitung bersilaturahmi dan memperluas perkawanan dan persaudaraan.

January 17th, 2008 at 8:40 am
Ass Wr Wbr, PAK Yusron.
SALAM PARA BLOGGER, AKHIRNYA BAPAK JUGA NGEBLOG. SELAMAT DATANG DI JAGAD BLOGSPERHEE??? PAK. SEMOGA TULISAN-TULISANNYA DAPAT MENJADI PENCERAHAN DAN INSPIRASI BAGI KITA SEMUA.
SELAIN ITU BISA JUGA MENJADI WAHANA UNTUK BERBAGI ILMU DAN TUKAR PIKIRAN,PENDAPAT SERTA JUGA SEBAGAI TEMPAT PEMBELAJARAN POLITIK, NAMUN TAK JUGA KALAH PENTINGNYA ADALAH TENTUNYA TULISAN-TULISAN BAPAK AKAN BANYAK MANFAAT UNTUK BANYAK ORANG.
TERIMAKASIH DAN SALAM
Wass Wr Wbr, MARWAN DI KAMPONG LALANG
January 17th, 2008 at 2:57 pm
[...] para penganut “Paham Keajaiban Ekonomi Asia” (Asian Miracle) seperti yang saya tulis dalam kata pembuka blog ini menjadi terpukau dan bahkan khilaf dalam memaknai fenomena itu. Pandangan optimis para penganut [...]
January 18th, 2008 at 12:50 am
Dear Pak Yusron,
Selamat atas blognya. Mudah-mudahan semakin banyak politisi yang punya blog, apalagi anggota parlemen seperti Bapak. Jadi kita bisa mendiskusikan banyak hal, termasuk aspirasi kami sebagai rakyat.
Sekali lagi, selamat.
January 18th, 2008 at 8:58 pm
Selamat Siang Pak Yusron,
Selamat atas dibukanya blog baru milik Bapak,
Saya dan keluarga kerap mengikuti berbagai wawancara dan tulisan Bapak, baik melalui TV, Surat Kabar maupun media online lainnya. Kasus terakhir yang cukup menyita perhatian kami adalah “Insiden Pasuruan” dan “Calo Alutsista”. Dalam pandangan kami, Bapak adalah satu dari sedikit politikus Indonesia yang kritis dan cukup vokal dalam berargumentasi dan menyikapi masalah yang ada. Tentu saja sikap ini layak dipertahankan selama ada keyakinan bahwa yang kita lakukan adalah benar.
Lebih lanjut, kami setuju bahwa sebagai anggota DPR Bapak tidak boleh bisu dan harus berkomunikasi. Dilihat secara umum, komunikasi memang faktor yang sangat penting bagi kelangsungan hidup bermasyarakat dan bernegara. Tentu saja, komunikasi yang ideal seharusnya berlaku dua arah. Maka kami amat menghargai usaha Bapak dengan menciptakan sebuah blog sebagai saluran komunikasi alternatif untuk bertukar informasi.
Semoga blog ini dapat menjembatani komunikasi antara Bapak (baik sebagai pribadi maupun Wakil Ket Kom I DPR RI) dan rakyat, yang selama ini masih dirasa minim karena kendala fasilitas.
Wassalam,
January 19th, 2008 at 4:25 am
Buat Rekan Marwan:
Terima kasih banyak atas ucapan selamat yang diberikan. Maaf agak telat meresponse karena saya baru saja kembali ke Jakarta (dari acara bakti sosial saya di Pangkal Pinang, Bangka).
Nge-blog tampaknya memang merupakan suatu kenikmatan tersendiri. Karena blog adalah sesuatu yang “hidup” dan berkembang (terutama karena ada posting atau komentar-komentar baru), maka memiliki blog mungkin mirip dengan orang memiliki bayi yang baru. Yaitu, sebentar-sebentar mau nengok karena mungkin ada perkembangan baru.
Tentang harapan bahwa blog ini akan menjadi arena komunikasi, tukar pikiran, dan lain-lain, Insya Allah akan bagitu.
Buat Rekan Kiko:
Terima kasih Banyak. Mudahan-mudahan blog ini memang akan menjadi arena komunikasi, diskusi dan pencerahan bagi kita semua.
Kepala manusia itu (terutama isinya), kata para orang tua zaman dulu, mirip seperti sumur. Sumur akan menjadi semakin jernih dan terus mengalir jika airnya dikeluarkan. Sebaliknya, air itu akan kering dan mengalami pembusukan jika dibiarkan terkurung disitu.
Mari saling berdiskusi, mari saling berkomunikasi (berbicara dan mendengarkan). Dalam hal aspirasi, saya pun akan selalu bersedia berdialog melalui blog ini, agar saya semakin mengerti aspirasi rakyat negeri ini.
Buat Rekan Biru:
Wah, saya tidak mengira bahwa ternyata ada juga orang yang memperhatikan saya secara cukup serius di negeri ini. Terima kasih banyak.
Seperti yang saya tulis dalam “Langkah Kaki & Blog Ini”, pada asal mulanya saya memang bukan politisi dan tidak bermaksud menjadi politisi. Sebagai “Guru Kecil” (karena saya tidak memiliki gelar Guru Besar), mungkin saya cenderung berpikir analitis, rasional dan lurus-lurus saja. Tidak seperti kesan kebanyakan orang terhadap politisi ulung, kelat-kelit saya tidak bisa.
Saya lebih banyak berbicara dan bersikap dengan menggunakan kepala dan hati, ketimbang mendasarkan pada kepentingan pribadi atau pesanan-pesanan tertentu.
Seorang kawan yang juga politisi pernah mengatakan bahwa saya bukan politisi. Saya ketawa-ketawa saja karena semuanya bergantung pada bagaimana kesan atau definisi seseorang terhadap mahluk yang bernama politisi itu.
Untuk saling kenal lebih dekat, saya ingin bercerita tentang Alastlogo dan isu percaloan. Dalam masalah Alastlogo (Pasuruan) peserta sidang masalah itu di Komisi I DPR dan juga para wartawan mungkin terkejut ketika saya (sebagai Ketua Tim Penanganan Kasus itu) mengatakan bahwa “saya tidak membela rakyat …, tapi saya juga tidak membela tentara”. Kala itu saya melanjutkan “Saya membela kebenaran, dan atas dasar itulah nantinya penyelesaian yang arif akan ditemukan”. Maksud saya, jika ternyata rakyat yang salah, maka karena rakyat kecil itu lemah, langkah apakah yang tepat untuk diambil agar yang lemah ini tidak lebih menderita lagi. Singkat kata, benar dan salah harus dipastikan lebih dahulu.
Dalam hal friksi dengan Menhan Juwono (yang notabene guru saya yang secara pribadi saya hormati itu), karena saya menganggap logika Menhan kala itu tidak benar dan plus lagi bukti pun tidak ada, maka saya (bersama kawan-kawan) mencoba bereaksi dengan menggunakan dasar logika yang lebih clear.
Tentang siapa yang benar dan siapa yang salah menurut mata rakyat dalam hal tuduhan percaloan itu, saya tidak tahu.Tapi dengan logika yang clear itu saya ingin menyerahkan kepada rakyat untuk memberi penilaian. Ini pun suatu proses pembelajaran, pikir saya.
Sekalipun komentar saya ini akan menjadi lebih panjang, saya ingin menambahkan satu kisah lagi, yaitu tentang sikap terhadap sanksi PBB terhadap Iran (dalam masalah nuklir) beberapa waktu yang lalu.
Pemerintah, seperti dimaklumi, kala itu mendukung sanksi di atas. Sebagai akibatnya, saat Rapat Kerja Komisi I DPR dengan Menlu Hasan Wirayudha, hampir semua anggota DPR menyerang dan mempersalahkan pemerintah. Selain satu kawan dari partai pemerintah yang mendukung kebijakan pemerintah tersebut, satu-satunya yang juga mendukung hanyalah saya.
Sebagai “ganjaran” atas sikap di atas, saya banyak menerima SMS yang menilai saya (sebagai anggota Partai Bulan Bintang), tidak mengerti politik Islam. Sikap saya yang berbeda dengan garis partai itu dikatakan aneh dan tidak rasional serta sulit dicerna akal.
Menlu sendiri mungkin terkejut atas sikap saya di atas dan sama sekali tidak menduga saya akan begitu. Mungkin karena itu maka Menlu menyimak argumentasi serta alasan-alasan saya dengan serius di ruang sidang itu.
Dalam pikiran saya waktu itu, kalau pun pemerintah Indonesia menentang sanksi PBB terhadap masalah nuklir Iran tersebut, hasilnya adalah nol besar. Pemerintah akan kalah suara dan sanksi itu akan tetap jalan. Tindakan itu, dengan kata lain, akan sia-sia.
Lebih lanjut, jika sikap menentang yang tidak akan berguna itu diambil, pemerintah Indonesia (yang menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB itu) mungkin akan dibenci dan dikucilkan oleh anggota-anggota yang lain. Akibatnya, loby-loby yang sedianya dapat dilakukan Indonesia untuk membantu Iran akan buntu karena tidak diacuhkan dan tidak disukai orang.
Kala itu saya menilai bahwa langkah pemerintah Indonesia untuk mengubah draft sanksi terhadap Iran itu, yaitu dengan menambahkan kata bahwa Timur Tengah menjadi daerah bebas nuklir, merupakan langkah cerdas dan jitu. Maksudnya, dengan menjadikan Timur Tengah sebagai daerah bebas nuklir, maka berarti Israel akan ikut terjepit dan mati kutu dalam hal nuklir. Ini berarti pula dunia Islam dapat terbebas dari ancaman nuklir Israel.
Dengan jalan pikiran di atas, saya menjadi tidak mengerti dengan sekian banyak SMS yang mencerca dan menganggap saya tidak mengerti dan tidak “berpihak” pada dunia Islam.
Jika mengingat pula bahwa Iran atau “Bangsa Parsi” yang merupakan negara Islam yang sering pula dianggap sebagai ancaman oleh negara-negara atau tepatnya “Bangsa Arab” yang umumnya juga Islam itu, saya menjadi bingung seratus persen. Maksudnya, yang dikatakan membela Islam atau tidak membela Islam itu, siapa dan Islam yang mana?
Akhir kata, buat Rekan Biru, saya berharap bahwa dengan cerita ini kita akan dapat saling kenal secara lebih dalam lagi. Paling tidak, saya telah berusaha menjelaskan bagaimana saya berpikir dalam banyak hal yang menyangkut negeri ini.
Harapan serupa, tentu pula saya tujukan buat rekan-rekan lainnya.
January 19th, 2008 at 8:25 am
Selamat datang di dunia blog :)
January 19th, 2008 at 6:22 pm
Buat Rekan Ben:
Terima kasih banyak atas greeting dan kunjungannyanya ke blog ini. Kehadiran berikutnya serta komentar atau diskusi lebih lanjut, saya tunggu. Semoga sukses selalu.
January 20th, 2008 at 12:04 am
Selamat datang di dunia blogger Bang Yusron.. Selamat juga atas peresmian Yusron Centrenya di Pangkalpinang… Semoga sukses selalu..
January 20th, 2008 at 8:50 am
Buat Rekan Didit:
Terima kasih atas ucapan selamatnya, baik atas dibukanya blog ini atau pun atas bakti sosial Yusron Centre.
Semoga kesuksesan menjadi milik kita semua.
January 20th, 2008 at 6:50 pm
Salam Alaikum Wr Wb.
Bravo bang Yusron….! Selamat atas peluncuran blognya. Smoga dengan media komunikasi ini, abang semakin populer, dekat dengan rakyat dan selalu dapat memahami aspirasi dan kehendak rakyat. AMIIINNNNNNNNNN
Kesan saya, blog abang sudah luar biasa, contentnya banyak dan berkualitas. tapi kalau boleh sedikit usul, mungkin disai dan layout depannya perlu dirubah. Karena masih terlihat sangat kaku. jadi, mungkin perlu sedikit olahan-olahan lagi. agar kesan familiar, bershabat dan berkualitasnya semakin nampak. (sorry lo bang, bukan ngajari, tapi sedikit usul kalau diterima)hehehehe
Abang, semoga dengan diluncurkannya blog ini, membuat abang semakin banyak berkreasi dalam menerjemahkan semangat perjuanagan abang sebagai wakil ketua komisi I ataupun pimpinan PBB.
Sukses selalu untuk abang. Kami akan selalu senang dapat mengunjungi blog abang. tapi, jangan lupa ya bang, cerita-cerita lucunya juga dimunculkan. biar kita lebih bersemangat. hehehehe.
Selamat dan sukses.
Salam,
Warm regard
Muhammad Nur hayed dan Nia Fitriyati
January 20th, 2008 at 10:40 pm
Buar Rekan Hayed:
Terima kasih karena sudi berkunjung ke blog ini, termasuk komentar yang memberi semangat dan membesarkan hati. Juga, termasuk saran tentang layout serta “penampilan” blog ini.
Saya sependapat terhadap saran di atas, dan sebelum ini pun saya memang sudah mulai terpikir seperti itu. Ditambah pula oleh saran Anda, maka layout dan “penampilan” blog ini pun telah saya rubah total sekitar dua jam yang lalu.
Memang betul bahwa masih ada perbaikan-perbaikan kecil yang sedang dilakukan sejak perubahan di atas, dan masih jauh dari sempurna. Sebagai misal, masih ada beberapa huruf atau kata yang “lari” sehingga jarak antar kata ada kalanya menjadi terlalu renggang.
Akan halnya pemilihan warna hitam, saya memiliki beberapa alasan. Pertama, agar mata tidak mudah capek (dibanding jika memilih warna yang benderang). Alasan kedua, agar blog ini terkesan atau terasa agak “berat” dan lebih “serius”.
Tentu saja agak “berat” dan lebih “serius” di atas tidak berarti saya tidak lagi akan membuat cerita atau ungkapan menulis dengan gaya yang kadang-kadang lucu atau jenaka.
Bagaimana pun juga, manusia memerlukan humor (maaf, bukan “rumor”, he2x ..) dalam hidup ini. Ini tentu demi keseimbangan. Maksud saya, kalau kita “serius” melulu dan mengesankan “berat” terus, salah-salah bisa terkena stroke.
Hidup di abad sekarang ini konon membuat orang banyak mengalami stress dan depressi. Syukur-syukur jika tidak bunuh diri. Wa na’u dzubillah min zalik (semoga kita dijauhkan Allah dari hal tersebut).
Kepada Rekan Hayed, sekali lagi saya ucapkan terima kasih.
January 20th, 2008 at 10:48 pm
Buat Rekan Hayed:
Maaf dalam posting di atas, saya lupa menyebutkan nama Nia Fitriyati yang menulis bersama Hayed.
Dengan tambahan ini, saya bermasud meralat kekhilafan saya. Terima kasih.
January 20th, 2008 at 11:14 pm
alhamdalah. masukan dan usulan saya sudah direspon. Sudah agak bagus layoutnya. saya dukung kalau pilihan warna hita itu biar tekesan “keras dan serius”. tetapi ada hal yang perlu diingat, bahwa serius dan berat itu tidak hanya dari layuotnya bang, tetapi dari kualitas tulisan-tulisannya. tapi saya sudah melihat tulisan2 abang sangat inspiratif dan menarik untuk didiskusika untuk kemajua bangsa dan negara. thanks da sukses selalu abang.
oh ya, kalau masih boleh usul, gimana kalau warna dala blog abang tidak hanya hitam da agak kuning. tapi paling tidak ada 5 warna lah. pasti akan lebih seru. selamat. hehehehe.
Salam
January 21st, 2008 at 9:15 am
Buat Rekan Hayed:
Terima kasih sekali lagi.
He2x …, kadang saya agak cemas kalau isi blog ini “berat dan serius”, lalu ditambah pula warnanya yang hitam. Nanti ada yang memiliki kesan bahwa blog ini angker.
Alhamdulillah bahwa saat saya buka di komputer lain, warna blog ini tidak hitam pekat, melainkan ada juga unsur kuning dan bahkan terkesan pula agak coklat.
Dengan mengkombinasikan pula dengan gaya tulisan yang jenaka (tentu saja saat topik tulisan itu memang sesuai) maka, Insya Allah kesan angker dan terlau serius atau berat tadi akan berkurang.
Kalau beberapa hari yang lalu saya menulis dengan judul “Sedangkan Sapi pun Beribadah”, besok lusa mungkin ada lagi cerita-cerita atau tulisan sejenis ini.
February 17th, 2008 at 6:22 pm
Selamat datang didunia Blog, saya sering mendengar nama bapak ketika masih menjadi koresponden Kompas di Jepang. Namun saat melihat tulisan bapak diatas saya baru tahu bahwa bapak juga berlatar belakang ilmu politik dan hukum.
Terus maju menjadi politisi pak, walaupun berat menepis bayang-bayang Seorang Guru Besar yang juga saya kagumi, Yaitu Bung Yuisril Ihza Mahendra.
February 17th, 2008 at 7:19 pm
Buat Rekan DAFFA:
Terima kasih atas ucapan selamat yang Anda berikan, termasuk juga dorongan bagi saya untuk terus maju sebagai politisi.
Memang betul yang Anda katakan bahwa menepis bayang-bayang memang bukan merupakan hal yang mudah, apa lagi di negeri ini, dimana istilah KKN begitu mudahnya dipakai dan dengan tanpa batasan yang pasti.
Untuk menepis bayang-bayang di atas, mungkin saya harus belajar dari pengalaman orang lain. Hilllary dan Clinton, Bush dan Bush, atau pula Dulles dan Dulles, mungkin merupakan contoh yang baik untuk saya pelajari.
Saya tentu sadar bahwa dalam posisi hari ini, orang-orang hebat seperti mereka tentulah bukan hal bisa dibandingkan dengan saya, dan saya pun tahu diri. Namun untuk sekedar belajar dari pengalaman mereka, tentu tidak ada salahnya.
Sekali lagi, terima kasih.
February 19th, 2008 at 4:48 pm
Dear Pak Yusron,
Congratulations with your Blog, very good and very up-to-date, I’m so proud of you.
Success!
Best regards,
Caroline
February 20th, 2008 at 12:47 am
Buat Rekan Caroline:
Thank you for greeting. Please visit this blog again anytime and share some idea.
February 25th, 2008 at 6:54 pm
Ass.Wr.Wb.
Yang terhormat Bapak Yusron Ihza.
Sebagai new blawger di dunia maya ini, saya ingin meminta pencerahan dari Bapak sesuai dengan portfolio sebagaimana tercermin dari nama blawg yang masih saya geluti sampai sekarang.
1. Seperti diketahui, imigrasi kita mempunyai tiga elemen. Yakni, “law enforcement dan security”, “public service”, dan “economic development facilitator”. Berdasarkan fungsi-fungsi itu, menurut bapak dimanakah idealnya keberadaan Imigrasi secara Institusional?
2. Sebagai akademisi yang pernah belajar ilmu hukum, bagaimana pendapat bapak tentang prospek Imigrasi sebagai sebagai cabang ilmu hukum tersendiri. Terutama, mengingat sifatnya yg multidisipliner khususnya dalam pengaturan masalah Transnational Organized Crime, Perizinan terhadap Foreign Direct Investment, Migrasi Internasional, terorism dan sebagainya?
3. Menindaklanjuti pertanyaan sebelumnya, dilihat dari sisi jasa di bidang hukum, bagaimana bapak melihat perkembangan imigrasi sebagai “major practice” di suatu law firm atau kantor advokat di Indonesia seperti halnya Ihza & Ihza dan secara empiris telah dilaksanakan di negara2 lain seperti Amerika Serikat, Australia, bahkan Malaysia?
Terima kasih. Dengan segala kerendahan hati saya meminta maaf apabila terdapat kekeliruan dalam kata-kata saya ini seraya memohon pendapat Bapak tentang masalah ini.
February 26th, 2008 at 7:24 pm
Buat Rekan Imigrasi:
Terima kasih atas pertanyaan-pertanyaan yang Anda ajukan.
Tentang di mana sebaik Imigrasi diletakkan di dalam institusi pemerintahan, hal ini merupakan masalah pilihan. Setiap negara mempunyai perhitungan sendiri-sendiri. Kalau kita mengambil Jepang sebagai contoh, maka Jepang adalah negara yang meletakkan Imigrasi di bawah Departemen Kehakiman. Jepang, dengan kata lain, sama dengan kita. Negara lain mungkin pula meletakkan imigrasi di bawah Departemen lain. Kalau tidak salah, salah satu negara ada pula yang meletakkan Imigrasi sebagai Kementerian tersendiri.
Dalam hal negara kita, saya meniilai bahwa posisi Imigrasi di bawah Departemen Kehakiman merupakan pilihan yang baik. Mengingat salah satu fungsi imigrasi adalah “law enforcement” seperti yang Anda katakan, maka hal ini dapat menjadi salah satu alasan. Selain itu, mengingat masalah keimigrasian erat pula kaitannya dengan masalah kewarganegaraan, di mana masalah kewarganegaraan ini ditangani oleh Departemen Kehakiman, maka ini pun dapat menjadi alasan atau dasar pertimbangan yang penting pula. Maksudnya, jika misalnya imigrasi diletakkan di bawah departemen lain, maka untuk mengurusi masalah kewarganegaraan akan diperlukan kerjasama lintas Departemen. Hal ini tentu tidak praktis.
Ketidak praktisan di atas akan bertambah jika kita mengingat pula bahwa di masa sekarang ini, lalu-lintas orang antara negara bukan saja hanya karena tujuan wisata, melainkan juga dengan tujuan bisnis, sebagai misal, pembukaan perusahaan (PT) dan lain-lain yang ditangani oleh Departemen Kehakiman.
Mengenai prospek Imigrasi sebagai cabang keilmuan tersendiri, saya rasa prospek itu cukup besar. Terlepas dari masalah suka atau tidak suka, dalam era globalisasi sekarang ini, arus lalu-lintas orang, yang baik atau pun yang tidak (misalnya human trafficking) cenderung meningkat. Aktifitas bisnis pun juga begitu. Karena itu untuk penanganan masalah ini secara lebih serius, bukan tidak mungkin Imigrasi berkembang menjadi disiplin (cabang keilmuan) tersendiri.
Perihal imigrasi menjadi “major practice” untuk sebuah kantor pengacara, hal ini mungkin-mungkin saja. Masalah ini akan banyak juga ditentukan seberapa besar target (terutama income) yang ingin dicapai oleh kantor pengacara tersebut.
March 9th, 2008 at 1:43 am
Halo pak Yusron,
Apakah disertasi Bapak sudah diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia? Bila ya, apakah saya bisa minta informasinya.
Terima kasih & salam,
L
March 9th, 2008 at 9:25 am
Buat Rekan Luluk:
Insya Allah disertasi itu terbit dalam bahasa Indonesia sekitar 3 atau 4 bulan mendatang. Semula mau diterbitkan pas saat ulang tahun saya yang baru lalu, tapi tidak terkejar.
Sekarang dalam proses editing akhir. Penerjemahan dari bahasa Jepang ke bahasa Indonesia sudah selesai semua.
Terima kasih.
April 18th, 2008 at 10:24 pm
Assalamua’laikum wr. wb.
Saya kagum dengan keputusan Bang Yusron untuk pulang ke Indonesia walaupun dengan tantangan yang akan dihadapi berat seperti yang abang ceritakan. Namun hikmahnya menurut saya sangat besar bang, yakni sekarang Partai Bulan Bintang khususnya dan Indonesia umumnya mempunyai “Duo IHZA” pejuang penegak Syariat Islam. Semoga bermunculan duo pakar lainnya untuk partai Islam kita, Amin. Kalau saya sekarang baru bisanya makan Mie Duo bang, he..he…
Wassalam,
Pekanbaru - Riau
April 22nd, 2008 at 10:40 am
oom yusron, bahas ttg cina dong.. masalah free tibet, dan pandangan dari sudut pandang om yusron:D
gimana? sekali-kali bahas cina lahhh~
April 28th, 2008 at 5:49 pm
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Saya mungkin ketinggalan nih membuka blog Bang Yusron, semoga ini menjadi jembatan untuk silaturahmi dan dapat mengambil manfaat dari wawasan Abang yang luar biasa itu. Oke Bang, sampai ketemu lagi dan salam kenal..
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
May 7th, 2008 at 10:52 pm
Buat Rekan Adjie Aditya Purwaka:
Selamat berjumpa kembali dan terima kasih atas sarannya. Maaf telat menanggapi karena saya baru pulang ke Indonesia setelah absen sekitar dua minggu.
Tentang masalah Cina dan Free Tibet, saya akan mempertimbangkan untuk menulisnya di blog ini.
Sekitar tiga minggu yang lalu, saya juga memang membaca bahan-bahan (termasuk sejarah) tentang Tibet, Taiwan, dan juga Mansyuria (Manchu).
Di radio mobil dari bandara menuju rumah sore tadi, saya juga mendengar berita tentang PM Jepang Fukuda yang berjumpa pemimpin Cina dan membahas masalah Tibet. Tampaknya isu itu memang masih aktual.
Buat Rekan Luthfi Maulana:
Salam kenal kembali, Rekan Luthfi. Saya pun berharap semoga blog ini dapat menjadi arena untuk silaturrahmi dan saling tukar pikiran.
Semoga kita semua saling sama-sama mendapatkan manfaat.
May 8th, 2008 at 11:42 am
Buat Rekan Zul Asri ST:
Terima kasih atas kesan dan komentarnya. Maaaf agak telat membalas karena saya baru saja pulang ke Indonesia semalam.
Tentang tekad dan hikmah, mudah-mudahan hikmah itu memang ada. Pada intinya tekad itu muncul dari rasa keprihatinan dan rasa tanggung jawab saya terhadap bangsa ini.
Saya berharap saya dapat berbuat sesuatu bagi bangsa ini. Namun pernik-pernik yang dapat membuat sakit kepala ternyata amat banyak. Upaya-upaya pembunuhan karakter, misalnya, tetap berjalan di negeri ini.
Namun begitu, saya tetap berusaha dan berdoa semoga ada jalan keluar yang baik. Dan, juga semoga bangsa ini dapat mencapai kejayaan.
May 8th, 2008 at 4:42 pm
Bpk. Yusron,
Salam kenal dari saya Bpk Yusron, saya termasuk pengunjung baru dari blog Bpk ini, berawal dari pencarian data dan foto yg saya lakukan tentang Belitung, dan membawa saya ke artikel dari blog Bpk ttg Belitung.
Dari situ saya langsung tertarik membaca dan asyik menelusuri blog ini. Sedikit info karena saya memiliki asal-usul dari Belitung pula yaitu dari orangtua saya yang lahir dan besar di sana. Ada Berbagai macam topik mengenai tanah air Indonesia dan lainnya yang Bpk bahas di sini sangatlah menarik dan banyak membuka wawasan saya. Terus terang saja saya hanyalah salah satu anak muda negeri Indonesia yang sedikit menganut paham hedonisme, dan tidak terlalu mengerti banyak masalah2 yang Bpk angkat disini.
Tetapi dengan membaca blog Bpk ini, sedikit banyak telah memperluas cara pikir saya, menambah informasi aktual dan sekaligus meningkatkan pula rasa patriotisme saya terhadap Indonesia.
Paling tidak dari saya hanya bisa berkomentar bahwa blog ini akan sangat bermanfaat untuk semua pihak. Saya berharap Bpk dpt dengan konsisten menumpahkan isi dari pemikiran2 Bpk disini.
Membaca kisah historis dari Bpk sendiri saya cukup salut dengan jalan hidup yang Bpk pilih. Saya mendoakan Bpk bisa terus berpikir dengan idealisme dan antusiasme yang tinggi.
Itulah sedikit kesan saya mengenai blog ini, terima kasih sudah diberi kesempatan untuk menceritakannya.
Salam sejahtera.
May 9th, 2008 at 12:41 am
Buat Rekan Anthony Djie:
Terima kasih karena sudi bertandang ke blog ini, tertarik membaca, serta bersedia bertegur sapa melalui tulisan Anda.
Syukurlah jika Anda merasa bahwa apa yang saya lakukan di blog ini berguna bagi orang lain. Terutama, dalam membangkitkan patriotisme. Apa lagi, menurut saya, semangat patriotisme itu amat diperlukan dalam memajukan negeri ini.
Saya mempunyai keyakinan yang besar bahwa negeri kita sesungguhnya mempunyai potensi yang amat besar untuk dapat maju. Masalahnya (seperti yang mungkin pernah saya tulis di blog ini) adalah bagaimana merubah yang “potensial” ini sehingga menjadi “aktual” alias nyata.
Tentang hal di atas, saya meyakini bahwa pandangan saya itu bukan sebuah ilusi. Saya pernah menetap lama di negeri orang dan telah menjalani banyak tempat di muka bumi ini serta melihat banyak hal dan kehidupan di negara lain.
Insya Allah saya akan terus menulis di blog ini dan juga terus berjuang mewujudkan keyakinan saya di atas untuk negeri ini. Atau, jika saya gagal serta tidak cukup waktu dan usia, maka minimal saya dapat mewariskan keyakinan itu untuk genarasi mendatang melalui tulisan-tulisan saya.
Tentang paham hedonisme yang Anda katakan, hal itu tidak mengapa. Segala sesuatu itu ada masanya dan setiap orang pun memang memiliki cara dan gaya sendiri-sendiri untuk menikmati hidupnya.
Sekali lagi terima kasih. Silahkan berkunjung kembali ke blog ini.
May 9th, 2008 at 8:07 pm
Minimal keyakinan itu sudah Bpk tularkan kepada saya dan tentu rekan2 lainnya.
Tentunya kita sama2 mendoakan yg terbaik untuk Indonesia.
Kalau boleh,saya ingin Bpk memberikan penjelasan dan mungkin sedikit kisah mengenai kaitan keyakinan Bpk di atas dengan pengalaman Bpk merantau di negeri orang. Semoga dpt memberikan inspirasi lebih dahsyat.
Terima kasih atas waktu yang telah diluangkan.
May 10th, 2008 at 12:05 am
Buat Rekan Anthony Djie:
Terima kasih sekali lagi. Semoga semakin banyak orang yang berpikir secara positif dan sama-sama berpikir dan berjuang serta mencintai negeri ini. Tentu boleh saja dengan caranya masing.
Tentang tulisan mengenai keyakinan bahwa Indonesia mempunyai potensi untuk maju, Insya Allah saya dapat menulisnya suatu hari.
May 12th, 2008 at 12:45 pm
Meski sudah beberapa kali berkunjung ke blog abang, baru kali ini saya berkomentar. Tulisannya banyak menginspirasi.
Namun, agaknya untuk beberapa isu, abang perlu menanggapi cepat bang. Terutama isu yang terkait dengan pekerjaan abang di Komisi I, seperti soal militer dan hubungan luar negeri.
Bila lebih cepat ditanggapi, tentu akan semakin banyak yang berkunjung bang. Segitu saja dulu masukannya..
Btw, soal warna tampilan blog saya suka bang. Saya juga suka warna hitam. Hayed mungkin ingin ada warna hijau-nya di blog ini, hehehe…
Salam,
Hendra Makmur
May 12th, 2008 at 4:32 pm
Buat Rekan Hendra Makmur:
Terima kasih atas kunjungan ke blog ini dan apa lagi kali ini sempat menulis saran dan komentar.
Syukurlah jika tulisan-tulisan saya di bolg ini dinilai mengundang inspirasi. Mengenai saran agar saya posting cepat tentang isu-isu aktual yang menyangkut bidang pekerjaan Komisi I, saya akan coba agar ke depan ini menulis dan posting lebih cepat lagi. ke depan ini
Tentang warna, syukur karena Anda memiliki selera yang sama dengan saya dalam hal warna blog.
Silahkan berkunjung dan menulis pesan lagi.
May 14th, 2008 at 10:40 pm
Salam kenal buat Pak Yusron.
Saran buat Bapak: disamping bisa komunikasi lewat media ini, kiranya juga digiatkan berbagai diskusi, bertukar fikiran, ihwal kebangsaan kita di berbagai forum guna mencarikan solusi terbaik.
Salam. Thx.
Tyo, FISIP UI
May 15th, 2008 at 11:28 pm
Buat Rekan Iwan Sulistyo:
Terima kasih karena telah berkunjung ke blog ini. Salam kenal juga.
Tentang saran mengenai diskusi dan lain-lain melalui forum-forum yang lebih luas,hal ini saya sambut dengan baik.
Jika ada forum-forum semacam itu dan saya diundang untuk bicara, saya tentu akan hadir.
Sekali lagi, terima kasih.
May 22nd, 2008 at 9:21 pm
Halo bang yusron, salam kenal..
kami sedang gandrung menulis tentang pemilu di blog kami. main-main ya…
July 31st, 2008 at 12:05 pm
Di tengah-tengah kehidupanku yang pahit, Tuhan selalu hadir di hari ketiga. Rasa pahitku hilang, keyakinanku atas-Mu semakin kuat. Ungkapan ini datang dari eks tukang jual nanas, pisang, cabe dan lain-lain, yang akhirnya jadi Doktor di negeri Sakura.
August 16th, 2008 at 12:45 pm
Wah saya telat membaca blog Pak Yusron,tapi meski telat setidaknya tulisan Bapak bisa menginspirasi bangsa ini dan terutama diri saya sendiri untuk lebih berani bersaing dengan bangsa lain terutama di bidang Ilmu pengetahuan seperti yg Bapak perjuangkan di Jepang.Thanks for inspiring me.
August 24th, 2008 at 8:39 pm
Buat Rekan Fahmi:
Terima kasih atas komentarnya dan juga atas kunjungan ke blog ini.
Secara orang per orangan, saya banyak melihat bukti bahwa bangsa kita tidak lebih bodoh dari bangsa lain. Ya, mungkin sama pintarnya. Hanya saja, secara kelompok (sebagai bangsa) saya merasa kita lamban dan lemah.
Dalam memajukan bangsa, dibanding dengan Malaysia dan Singapura pun, misalnya, kita tertinggal.
Saya masih berusaha mengakaji dan mencari sebab tentang mengapa hal di atas terjadi.
Saya ingin bangsa kita sanggup bersaing dengan bangsa lain. Jadi, bukan saja orang per orangan, tetapi sebagai bangsa.
Terima kasih seklai lagi. Saya senang jika tulisan saya dapat melahirkan inspirasi bagi kawan-kawan. Tak peduli betapa pun inspirasi itu, misalnya, baru secuil saja.
August 24th, 2008 at 8:45 pm
Buat Rekan Ika Edwin:
Salam kenal juga. Silahkan mampir lagi ke blog ini. Semoga Anda sukses selalu.
Tentang mampir ke blog Anda, Insya Allah.
August 24th, 2008 at 9:03 pm
Buat Rekan Zulkarmedi:
Terima kasih atas kutipan kata-kata itu. Bagi saya, makna kata itu memang amat dalam. Hal itu bahkan merupakan pengalaman religius saya dan amat pribadi.
Tampaknya memang banyak cara bagi Allah untuk “menampakkan” kehadirannya atau keber-ada-an dirinya. Dan, kita mungkin harus melihatnya dengan hati. Minimal, begitu menurut kitab “Keajaiban Hati” tulisan Imam Ghazali, yang pertama kali saya baca lebih 20 tahun yang lalu dan sering saya baca lagi itu.
Dalam hal sukses dan gagalnya seseorang, semua itu pun (menurut saya) tidak terlepas pula dari kehendak Dia. Tentu saja setelah kita berusaha dengan keras dan dengan cerdas dalam hidup ini.
Jika Allah menghendaki, maka akan amat mudah bagi Dia untuk memberi; dan begitu juga halnya jika Dia hendak mengambilnya kembali.
Bagaimana berperilaku dengan baik di dunia ini sehingga Allah ridho, menurut saya, memang harus menjadi tema kehidupan manusia.
Jika Allah ridho, mungkin Dia akan lebih banyak lagi memberi dan tidak akan terlalu cepat mengambilnya kembali. Tentu begitu pula sebaliknya.
Dalam tahun-tahun belakangan ini saya banyak sekali mempelajari pemikiran Friedrich Nietzsche, terutama dalam memandang “dunia politik” dan terlebih lagi “politik dunia”. Saya mengagumi pemikiran Nietzsche dalam bidang ini dan bahkan amat mengaguminya. Namun begitu, saya tentulah tidak sampai pada titik 100 persen setuju dengan Nietzsche, terutama sekali dalam pandangan dia bahwa “Tuhan telah mati”.
August 28th, 2008 at 9:49 am
Pak Yusron,
Pa Kabar Pak, semoga sehat, saya Ali yang beberapa waktu yang lalu pernah tanya untuk penelitian Indonesia-Malaysia untuk thesis S2 saya.
Mohon kesediaan Pak Yusron untuk menjawab persoala saya sebagai bahan thesis sekaligus Pak Yusron sebagai responden saya. Berikut pertanyaannya :
1.Apakah pendapat Bapak tentang hubungan Indonesia-Malaysia Selepas Suharto (1998-2008)?
2.Apakah yang menyebabkan perubahan tersebut? Termasuk factor idiosyncratic (gaya kepemimpinan) atau mungkin domestic politic….
3.Bagaimana dengan pengaruh perubahan struktur politik global terhadap hubungan Indonesia-Malaysia Selepas Suharto (1998-2008)? utamanya setelah berakhirnya perang dingin dan munculnya Amerika sebahagi hegemoni tunggal?
4.Apa alasan masing masing presiden (pemerintahan) melakukan tindakan yang berbeda-beda dalam menyikapi hubungan dengan Malaysia? Apakah ada tekanan dari luar?
5.Apakah tindakan untuk masa yang akan datang untuk menghindari konflik dan ketegangan yang merugikan kedua belah pihak?
Demikian , mohon bantuan Pak Yuzron, jika ada yang kurang berkenan atau perlu sesi khusus untuk mendiskusikan ini saya akan sangat dengan senang hati..
Sekali lagi mohon maaf Pak Yuzron, merepotkan,..
untuk mengetahui saya silahkan Pak Yuzrin melihat blog saya gusali.wordpress.com..
dengan ikhlas,
Ali Maksum