Problema Kebangsaan (1): “Coitus Interuptus” & Pemberantasan Korupsi
Posted by Yusron Ihza on May 23rd, 2008 filed in Economic, Politics, Social, Thought3 Comments »
Coitus interuptus alias sanggama yang terputus tentu tidak ada kaitan langsung dengan pemberantasan korupsi. Akan tetapi di alam nyata di Indonesia kedua hal ini menjadi sedemikian miripnya. Bayangkan saja misalnya, beberapa waktu yang lalu masyarakat sempat gempar dan bernafsu mendengar kabar tentang adanya “rekening para Jenderal” atau kabar tentang Jaksa Urip Tri Gunawan yang menurut berita di media kepergok menerima suap, tapi kemudian berita itu hilang raib secara tiba-tiba.
Sama seperti di atas, ketika aliran dana suap dari BI ke Komisi Anggaran di DPR terkuak, masyarakat kembali bergairah dan berharap bahwa semua yang terlibat di BI atau pun di DPR akan diseret ke pengadilan. Akan tetapi beda dari yang diharapkan, beberapa nama (setidaknya dua dari eks BI) dan beberapa dari DPR dan mungkin juga eks DPR yang sekarang duduk sebagai Menteri, kemungkinan besar seperti kebal dari tuntutan hukum.
Ibaratkan dalam hubungan seksual, berita dan cara pemberantasan korupsi seperti di atas telah membuat masyarakat terangsang penuh gairah, tapi klimaks tidak sempat terjadi karena “permainan” dihentikan di tengah jalan. Hubungan seksual seperti ini, yang dalam bahasa bekennya disebut sebagai coitus interuptus, konon, cenderung dillanjutkan dengan onani atau masturbasi. Dalam kasus pemberantasan korupsi model tadi, yang terjadi tentu saja bukan onani atau masturbasi seperti dalam masalah seksual, melainkan sebuah “onani atau masturbasi pemikiran”. Masyarakat, misalnya, mengarang-ngarang atau berfantasi tentang tokoh-tokoh yang namanya sempat terbersit tadi guna mencapai kepuasan (klimaks) dalam pemikirannya. Dalam masyarakat yang mengidap penyakit "socio-sadomasochisme" (lihat posting: "Problema Kebangsaan 3) hal ini tentu akan semarak dan sekaligus pula menyemarakkan gejala kelainan jiwa itu.
Problema Kebangsaan (2): Monster Untuk Berantas Korupsi?
Posted by Yusron Ihza on May 23rd, 2008 filed in Economic, Politics, Social, Thought7 Comments »
Saat masih SMP di kampung dan belajar hal yang amat mendasar tentang kekuasaan melalui pelajaran “Kewarganegaraan”, guru saya telah mengajarkan bahwa jika kekuasaan ditumpuk di satu tangan, hal itu akan merupakan pangkal sebuah bencana. Karena itu, kata guru tadi, sekiranya di sebuah negara ada sebuah badan atau kekuasaan yang memerintah, lalu badan itu juga yang mengawasi pemerintahan serta membuat undang-undang, dan kemudian badan itu pula yang memegang kekuasaan peradilan, maka apakah yang akan terjadi?
Di tengah suasana murid yang bengong, guru tadi pun menjawab: Yang akan terjadi adalah lahirnya sebuah pemerintahan sewenang-wenang, korup, diktator serta mengerikan yang (jika dibayangkan dalam alam pikiran anak-anak SMP masa sekarang) mungkin akan mirip dengan sebuah monster yang manakutkan. Inilah sebabnya, kata guru tadi lebih lanjut, maka filsuf Perancis, Charles Montesquieu (1689-1755) atau lengkapnya, Charles-Louis de Secondat Montesquieu, dalam bukunya yang berjudul The Spirit of the Laws membagi kekuasaan negara menjadi tiga, yang terkenal dengan Trias Politica. Yaitu, kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Beberapa tahun setelah pelajaran di atas, tepatnya ketika saya belajar ilmu politik di FISP UI di akhir tahun 1970-an, seorang dosen mengajarkan hal yang mirip dengan masalah tadi. Dalam Ilmu Politik, kata dia, ada sebuah adagium yang mengatakan “Power tends to corrupt, [and] absolute power corrupt absolutely” (kekuasaan cenderung disalahgunakan, sedang kekuasaan mutlak akan mutlak disalahgunakan).
Problema Kebangsaan (3): Gejala Kejiwaan “Socio-sadomasochisme”
Posted by Yusron Ihza on April 18th, 2008 filed in Culture, Politics, Social, Thought9 Comments »
Sebagai sebuah bangsa, sebagian besar dari kita boleh jadi mengidap “kelainan jiwa” (sekedar untuk tidak mengatakan “sakit jiwa”) yang parah yang memberi andil besar bagi semakin terpuruknya bangsa ke dalam jurang kenistaan. Saya ingin menyebut penyakit itu dengan istilah “socio-sadomasochism” atau “sado-masochisme yang bersifat sosial" serta menjadi sebuah fenomena dalam kehidupan masyarakat.
Menurut asal-muasalnya, sado-masochisme ini adalah penyakit yang bersifat perorangan. Akan tetapi karena saya melihat bahwa di Indonesia gejala kejiwaan jenis ini terdapat dalam masyarakat, maka kata “socio” atau “sosial” tadi saya tambahkan.
Sebetulnya kata “sado” dan “maso-chisme” dapat digunakan secara terpisah. Penggunaan dua kata itu secara bersama, tampaknya untuk memberi penguatan atau penekanan tentang adanya pemeran pelaku kesadisan dan adanya pemeran atau penerima kesadisan itu.
Catatan Dari Tokyo (1): Amandemen Konstitusi Jepang & Peluang Peran Internasional Indonesia
Posted by Yusron Ihza on April 4th, 2008 filed in Defence, Foreign Policy, Investment, Politics5 Comments »
Kunjungan saya ke Gedung Parlemen dan Kantor Perdana Men-teri Jepang (lihat gambar pertama dan kedua), Kamis dan Jumat (27-28/3) merupakan yang kedua kalinya sejak pemerintahan PM Fukuda. Sama seperti kunjungan sebelum-nya, kali ini pun saya kembali gembira mendengar kabar bahwa amandemen konstitusi Jepang akan tetap dilakukan. Isu yang pernah mencuat di masa PM Abe ini akan terus dilaksanakan, kata beberapa politisi Jepang yang saya temui. Beberapa dari mereka bahkan mengatakan bahwa rencana ini merupakan sebuah kepastian.
Saya amat menyadari bahwa beberapa negara mungkin tidak akan gembira dan bahkan mungkin akan melakukan kampanye negatif guna mempengaruhi opini dunia terhadap langkah Jepang di atas. Cina dan Korea Selatan mungkin akan merupakan negara-negara terdepan dalam melakukan aksi-aksi seperti ini. Akan tetapi saya tidak akan pernah bergeming terhadap apa yang mereka lakukan. Bukankah arah, sikap, dan bahkan kebijaksanaan luar negeri suatu negara selalu ditentukan oleh kepentingan nasional negara bersangkutan? Karena itu, sebagai orang Indonesia, maka saya pun harus melakukan hitung-hitungan tersendiri dari sudut kepentingan Indonesia. Read the rest of this entry »
Catatan Dari Tokyo (2): Skandal Gyoza & Peluang Ekspor Komoditas Pertanian ke Jepang
Posted by Yusron Ihza on April 4th, 2008 filed in Economic, Foreign Policy, Politics6 Comments »
1. Gambaran Permasalahan
Skandal Gyoza (jenis produk makanan jadi yang diimpor Jepang dari Cina, lihat gambar pertama dan kedua) yang mengakibatkan puluhan masyarakat Jepang keracunan sekitar dua minggu lalu, telah memicu Jepang untuk berpikir lebih dalam tentang
masalah ketergantungan pangan mereka terhadap impor. Skandal Gyoza yang telah mengakibatkan impor produk makanan Jepang dari Cina amblas sebesar 28% seperti yang diberitakan Koran Nihon Keizai tanggal 26/3 yang lalu, jelas merupakan kejutan dan sekaligus pula pukulan, baik bagi Cina mau pun bagi Jepang sendiri. Upaya Jepang untuk melakukan diversifikasi ketergantungan pangan sebenarnya memang telah menjadi tema penting dalam kebijakan impor negeri ini selama sekitar sepuluh tahun terakhir. Alasannya adalah agar negara ini tidak rentan terhadap embargo atau terhadap hal-hal lain yang tidak diinginkan dari negara pemasok bahan pangan itu. Sejak ketergantungan terhadap sumber pangan impor belum mencapai tingkat yang sebegitu parah (di mana impor pangan Jepang sekarang ini mencapai 61% dari total kebutuhan nasional) rasa krisis itu sebenarnya telah mulai dirasakan masyarakat dan pembuat kebijakan di negeri itu. Akan tetapi, skandal Gyoza telah membuat rasa krisis itu seperti mencapai puncaknya. Beberapa stasiun TV nasional Jepang seperti yang saya saksikan di kamar hotel saya di Tokyo, gempar membahas masalah ketergantungan serta kebijakan pangan Jepang ini, termasuk juga langkah-langkah solusi yang mungkin dapat ditempuh. Read the rest of this entry »
Catatan Dari Tokyo (3): Belajarlah Dari Sakura
Posted by Yusron Ihza on April 4th, 2008 filed in Culture, Law, Thought2 Comments »
Alam semesta mungkin memang merupakan hasil ciptaan yang maha kaya, ciptaan Zat Maha Jenius yang diperuntukkan bagi manusia. Alam semesta terkadang penuh dengan teka-teki atau misteri serta penuh dengan tamsil dan ibarat yang harus dipa-hami. Kesadaran yang diberikan Zat Maha Jenius tadi kepada manusia mungkin merupakan satu-satunya alat atau perlengkapan yang dapat dipergunakan untuk memahami. Dan, pemahaman tampaknya memang baru akan muncul jika manusia berusaha melakukannya. Jika kita ingin membahas persoalan di atas lebih lanjut, mungkin dapat dikatakan bahwa realita, dengan kata lain, sering kali (dan bahkan mungkin selalu) tidak memiliki makna bagi dirinya sendiri. Realita baru bermakna apabila manusia memberikan makna atau pengertian atasnya. Sekuntum bunga mawar (dan bahkan juga bunga Sakura seperti terlihat dalam gambar), misalnya, tidak akan pernah mengerti apa makna dirinya, atau untuk apa dia muncul ke dunia ini. Makna ini baru akan muncul apa bila manusia memberikannya. Sebagai misal, mawar adalah simbol untuk mengungkapkan rasa: cinta, suka cita, dan bahkan juga duka Read the rest of this entry »